Trending Topic
5 Fakta tentang Serangan Ransomware Wannacry

17 May 2017

Foto: Pixabay
 
Sepanjang akhir pekan lalu, dunia dibuat gelisah oleh serangan ransomware Wannacry. Jenis malware (malicious software) ini membuat data dalam komputer Anda terkunci, kecuali Anda membayar tebusan dalam bentuk bitcoin. Seperti apa perkembangannya sejauh ini? 

1/ Sasaran Wannacry adalah perangkat Windows yang sistemnya belum diperbarui, sehingga Microsoft Malware Protection Center mengingatkan agar Anda segera menginstal update terbaru. Sementara itu, dalam artikelnya di The Conversation, Conor Deane-McKenna, peneliti bidang Cyber Warfare di Universitas Birmingham, Inggris, mengingatkan bahwa sistem operasi yang telah diperbarui dan dukungan program antivirus saja tak cukup. “Dibutuhkan investasi lebih lanjut bagi pelatihan cyber-security untuk para staf yang pekerjaannya melibatkan informasi sensitif,” tegas Conor.

2/ Wannacry tak hanya menyerang ribuan perangkat milik pribadi, tapi juga institusi publik dan perusahaan di lebih dari seratus negara, termasuk Tiongkok, Inggris, Spanyol, dan Vietnam. Salah satu yang terdampak paling parah adalah National Healthcare Services (NHS), sehingga melumpuhkan sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Inggris dan Irlandia Utara. Dijumpai femina di Jakarta, Senin (15/5) lalu, Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara mengungkap bahwa Rumah Sakit Dharmais di Jakarta terinfeksi Wannacry, sehingga pelayanan kesehatan terpaksa dilakukan secara manual

3/ Siapa yang berada di balik serangan Wannacry belum dapat dipastikan. Penelusuran para analis dari Symantec, Google, Kaspersky, dan Hauri Labs dari Korea Selatan baru-baru ini menemukan kemiripan dalam kode Wannacry dan malware buatan Lazarus Group. Kelompok ini pernah mendalangi berbagai upaya peretasan, termasuk di bank di Bangladesh tahun lalu, yang menimbulkan kerugian 81 juta dolar Amerika atau hampir Rp1,1 triliun. Konon Lazarus Group berbasis di Tiongkok, namun bekerja atas perintah Korea Utara. 

4/ Meski telah menimbulkan dampak internasional yang besarnya belum tertandingi, ransomware Wannacry menuai tebusan senilai ‘hanya’ sekitar 55.000 dolar Amerika atau sekitar Rp733 juta dalam bitcoin. Keuntungan lebih besar justru diraup oleh perusahaan-perusahaan cyber security, seperti saham perusahaan antivirus Symantec yang nilainya meningkat hingga 750 juta dolar Amerika atau sekitar Rp9,9 triliun. Pencipta Wannacry juga dianggap ceroboh karena menciptakan sebuah kill switch, yang dirancang untuk mengakses alamat situs web tertentu dan melumpuhkan muatan enskripsi dalam kode ransomware tersebut. 

5/ Kill switch inilah yang tak sengaja ditemukan oleh Marcus Hutchins, pria berusia 22 tahun asal Inggris, yang berhasil menghentikan penyebaran ransomware ini. Mulanya tampil anonim dengan nama alias MalwareTech, pria yang belajar ilmu komputer secara otodidak ini kini bekerja sama dengan National Cyber Security Centre di Inggris untuk mencegah ancaman baru dari malware sejenis. HackerOne, sebuah platform untuk melaporkan potensi ancaman bug dalam perangkat lunak, menawarinya hadiah uang tunai sebesar 10.000 dolar Amerika atau sekitar Rp132juta, tapi Marcus memilih untuk mendonasikannya. “Saya tidak melakukan ini demi uang. Saya melakukan pekerjaan saya untuk membantu orang lain dan karena saya menikmatinya,” ungkap pria lulusan SMA ini pada Business Insider(f)
 
Baca juga:


Topic

#DigitalLife, #virus, #gadget

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?