Trending Topic
46 Tahun Femina: Perjalanan Panjang Mendampingi & Menjadi Sahabat Wanita Indonesia Untuk Melangkah Maju dan Mandiri

18 Sep 2018


Foto:  Dok. Feminagroup

Sejak terbit pertama kali pada 18 September 1972 , dengan oplah 20.000 eksemplar dan tebal 44 halaman, femina secara konsisten melaksanakan visi dan misi untuk perbaikan wanita yang dimulai dari pengembangan diri, rumah tangga dan keluarga, hingga ke tingkat kepedulian bermasyarakat dan bernegara.
 
Dalam Menjurus Arus, buku yang terbit tahun 1997 dalam rangka peringatan 25 tahun femina, semua diawali pada tahun ‘70-an, saat masyarakat Indonesia tergugah minatnya untuk memperluas wawasan. Terasa benar ada kekosongan bacaan di masyarakat, khususnya majalah wanita yang bermutu dan sanggup menampung ekspresi, jalan pikiran, dan nilai-nilai kontemporer wanita Indonesia.
 
Menurut Widarti Gunawan, salah satu pendiri femina bersama Mirta Kartohadiprojo dan Atika Makarim, saat itu femina hadir untuk menyiapkan para wanita yang hendak ‘keluar rumah’ untuk ikut mencari nafkah keluarga agar bisa membereskan urusan domestik terlebih dahulu. “Pada waktu itu ada anggapan, para pria membolehkan wanita bekerja, asal bukan istrinya,” ujar Widarti.
 
‘Tugas’ itu secara berani lalu diambil para pendiri femina. Berani, karena saat itu, tim membangun tanpa model yang sudah ada, yang bisa dijadikan patokan maupun bahan perbandingan. Para pendiri femina lalu  mengambil inspirasi dari majalah-majalah wanita dari negara maju yang sudah teruji daya tahan keandalannya.
 
Waktu itu, femina tidak hanya ‘mengasuh’ wanita Indonesia lewat artikel-artikel bernas yang membuka wawasan dan keterampilan, seperti bagaimana menyajikan gado-gado dengan styling ala salad, atau mengapa sebaiknya tidak mengenakan kebaya brokat di acara siang hari, termasuk menulis profil wanita (juga pria) yang memberi inspirasi.
 
Di lain sisi, dengan merangkul berbagai pihak, femina juga ‘merintis’ berbagai kegiatan untuk mendorong kemajuan dan kemandirian wanita, termasuk melawan stigma. Salah satunya adalah Lomba Sekretaris pada akhir tahun ‘80-an.
 
Saat itu, menurut Widarti, akibat pengaruh film-film picisan luar negeri yang masuk ke Indonesia, yang sering bercerita tentang sekretaris ada main dengan bosnya yang pria, maka profesi sekretaris pun mendapatkan getahnya. Bukan hanya dilabeli sebagai penggoda, dalam jobdesc pun meluas hingga mengurusi kebutuhan pribadi si bos, misalnya mengurus laundry.
 
“Dalam lomba itu, tes-tes yang kami lakukan, seperti tes psikologi, tes kecepatan mengetik, tes membuat surat dan lain-lain, merupakan upaya kami untuk kembali mendudukkan pekerjaan sekretaris sebagaimana mestinya,” kata Widarti. Lomba itu sukses diikuti oleh ratusan sekretaris.
 
Dekade berganti, langkah femina pun tetap mengikuti perkembangan zaman. Ketika ekonomi terus berkembang dan membuka kesempatan wanita untuk terus maju di bidang yang mereka minati, femina hadir sebagai tempat untuk mendapatkan informasi terbaru yang akurat dan tepercaya sesuai dengan kaidah jurnalistik, juga sebagai teman dan tempat untuk bisa saling mendukung dan berjejaring.
 
 
Kini, femina hadir di berbagai kanal agar semakin dekat dan relevan dengan pembacanya. Tak hanya dalam bentuk lembar-lembar kertas berbentuk majalah yang terbit sebulan sekali, femina juga bisa diakses melalui website www.femina.co.id dan berbagai sosial media. Berbagai aktivasi juga diinisiasi dan berhasil menjadi yang terdepan, seperti Lomba Perancang Mode, Wajah Femina, pengembangan komunitas Wanita Wirausaha, pengembangan wanita karier dalam program Women Leadership Network, Jakarta Eat Festival (JEF) hingga yang akan digelar 9 dan 10 November mendatang, Indonesia Women's Forum 2018.
 
 
“Selamat kepada femina yang telah menerangi begitu banyak “rahasia2” untuk menjadi perempuan yang mandiri, menjadi istri dan ibu yang disegani oleh suami/anak, mengajari kita untuk berdandan dengan baik dan menggugah keinginan kita untuk menjadi “chef” keluarga. Terimakasih femina,” demikian tulis Elly Hutabarat, seorang pembaca setia di dinding facebook Irma Hadisurya, anggota redaksi mode di tahun-tahun awal berdirinya femina.
 
Ucapan dari lubuk hati terdalam juga disampaikan Heti Sunaryo, istri seniman Sunaryo yang juga seorang pembaca yang setia. “Selamat ulang tahun Femina. Terima kasih untuk ‘bidan-bidan’ yang luar biasa yang sudah melahirkan ilmu pengetahuan yg indah, membuat ibu RT menjadi manager yang andal, melangkah dengan penuh percaya diri  seolah menjadi sarjana di segala bidang tanpa ijazah. Sungguh luar biasa, betapa tidak, calon suamiku saat itu memberikan mas kawin ide dari sampul majalah perdana dengan model Ibu Tuti Indra Malaon. Saya masih ingat bagaimana calon suamiku berkata …”saya terima menikah dengan mas kawin ...disebutkanlah satu per satu dengan lancar tanpa cela. Alhamdulillah. Terima kasih femina yang sangat berjasa bagi wanita..” (f)


Yoseptin Pratiwi


Topic

#hutfemina, #ulangtahunfemina, #46tahunfemina, #majalahwanitaindonesia

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.