
Foto: Dok. Pribadi
Bagi umat Islam, perayaan Idul Fitri identik dengan acara kumpul keluarga dan berkunjung ke rumah kerabat dan sahabat. Namun, tradisi ini menjadi tidak mungkin saat Anda harus bertugas atau menemani pasangan yang ditempatkan di daerah terpencil, jauh dari sanak saudara. Hal tersebut dirasakan juga oleh Mazidatul Faizah, Lely Rosliawati, dan Furiyani Nur Amalia. Namun, di luar dugaan, justru banyak hal baru yang menarik dan menyenangkan saat berlebaran di perantauan.
Sulit Meninggalkan Tugas

Mazidatul Faizah, 26, Bidan, Surabaya
Sejak September 2014 hingga September 2015 saya bertugas di Desa Ogotua, Kecamatan Dampal Utara, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, sebagai relawan kesehatan untuk puskesmas setempat. Saya merupakan relawan dari tim program Pencerah Nusantara yang ditujukan untuk mengoptimalkan layanan kesehatan primer di daerah terpencil di pelosok tanah air.
Selama di sana, saya dan anggota satu tim menempati rumah dinas yang telah dipakai oleh tim sebelumnya. Profil tim saya cukup unik dan beragam. Ketua tim kami adalah dokter umum, beragama Hindu, serta satu lagi teman yang lain, beragama Nasrani. Sementara itu, penduduk Dampal Utara mayoritas beragama Islam, sehingga saya tidak terlalu mengalami kendala dalam beribadah.
Hanya, saat Lebaran tiba, saya harus beradaptasi dengan perbedaan suasana yang cukup drastis. Mirip Jakarta, di saat Lebaran, Dampal Utara menjadi sunyi sepi, karena mayoritas penduduknya mudik ke Palu atau Makassar. Sementara, di Surabaya, tempat asal saya, Lebaran berlangsung heboh. Rumah kami tidak pernah sepi dengan tamu dan kerabat yang datang silih berganti. Sementara di Ogotua, saya dan teman-temanlah yang berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya.
Tidak ada waktu untuk membuat kue-kue Lebaran. Bahkan, sampai menjelang Lebaran kami masih sibuk mengurusi program yang telah ditetapkan organisasi. Namun, hal ini tidak membuat kami sedih. Sebagai perantauan, masyarakat menyambut kami dengan hangat. Rumah dinas kami tidak pernah sepi dari kiriman berbagai kue dan makanan khas Lebaran lokal.
Beberapa hari setelah Lebaran, atas inisiatif tim, kami membuat amplop-amplop lucu, dan mengisi beberapa ribu uang di dalamnya untuk kami berikan kepada anak-anak tetangga yang datang ke rumah. Menerima amplop-amplop lucu itu, anak-anak bahagia, mereka tidak peduli isinya. Melihat mereka, saya pun ikut senang. Itu momen yang berharga untuk saya, yang tidak pernah saya rasakan dengan tetangga di Surabaya.
Walau tidak seindah yang saya bayangkan, kebersamaan merayakan Lebaran di Ogotua akan menjadi kenangan yang indah. Saya senang telah mengabdikan diri kepada masyarakat sekitar, dan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.
Saya juga tidak kehilangan momen penuh haru saat sungkem, yang kali ini hanya bisa saya lakukan via telepon. Bahkan, justru di tempat yang jauh dan terpencil ini, keharuan lebih terasa. Air mata saya mengalir deras, saat menyadari kehadiran orang tua dalam hidup saya. Terutama saat mengingat ucapan ayah saya yang mengeluhkan betapa jarangnya saya menghubungi mereka.
Tanpa Kehadiran Anak-anak

Lely Rosliawati, 39, Ibu Rumah Tangga, Yogyakarta
Ketika suami mengabarkan bahwa ia akan ditugaskan sebagai Komandan Lanud di Morotai, pertanyaan pertama yang terlintas di benak adalah di manakah letak kota itu? Penasaran, saya meminjam atlas anak saya dan menelusurinya. Nama ini saya temukan di atas pulau kecil di wilayah Maluku.
Seseorang harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk mencapai pulau yang berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik ini. Dari Kota Ternate, bisa ditempuh dengan pesawat perintis berpenumpang 12 orang dengan jarak tempuh 45 menit. Atau bisa juga ditempuh dengan speed boat dari Ternate menuju Kota Sofifi, yang memakan waktu 45 menit. Dari sana, dilanjutkan 4 jam perjalanan darat ke Kota Tobelo, lalu naik speed boat ke Morotai dengan waktu tempuh 2 jam. Terbayang, repotnya!
Sedihnya lagi, kepindahan ini membuat saya terpisah dari kedua anak kami, Muhammad Ariel Yudhatama (14) dan Titanova Alya Novilin (7), dalam waktu yang cukup lama. Saat itu saya dan suami sepakat untuk menyekolahkan mereka di Yogyakarta, di bawah asuhan ibu saya.
Penduduk Pulau Morotai memang mayoritas Islam, tapi saat Lebaran suasananya sepi. Penyebabnya, mungkin karena masih berada dalam masa pemulihan karena konflik agama yang pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Jujur, saya kurang bisa menikmati berlebaran di sana, karena jauh dari anak-anak. Apalagi, di saat yang sama mereka ikut ibu saya mudik ke Ciamis, Jawa Barat.
Rasa nelangsa jauh dari anak mulai terasa sejak awal puasa. Perasaan bersalah dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Memang, saya cukup sering ke Yogyakarta untuk mengunjungi mereka. Namun, sebagai ibu, saya tetap merasa sedih. Pada malam takbiran, di depan suami, saya menangis tersedu-sedu. Merasa diri ini sebagai orang paling sial. Namun, atas pengertiannya, saya pun menerima keadaan. Toh, anak-anak saya tidak telantar.
Tradisi Lebaran di lingkungan Lanud tidak begitu berbeda dengan di Pulau Jawa. Sebab, sebagian besar prajurit juga berasal dari Pulau Jawa. Makanan yang disajikan juga sama, seperti ketupat dan opor ayam. Di sini saya jadi bisa mencicipi hidangan khas Lebaran masyarakat lokal, seperti papeda. Meski mirip, kue-kue kering di Morotai sedikit berbeda rasanya dari kue-kue kering di Pulau Jawa. Mungkin karena bahan dasarnya adalah tepung sagu, bukan terigu.
Sepulang salat Idul Fitri bersama dengan jajaran pemerintah daerah, dan bersilaturahmi ke rumah bupati, kami melakukan open house bagi para prajurit TNI AU. Kesedihan saya sedikit terobati melihat ibu-ibu anggota Persatuan Istri Prajurit TNI Angkatan Udara PIA Ardhya Garini, ikut guyub membantu menyiapkan segala sesuatunya. Apalagi saat mendengarkan celotehan mereka yang ceria. Semuanya berkumpul, tidak hanya yang beragam Islam, tetapi juga mereka yang beragama Nasrani.
Meski tanpa kehadiran anak-anak saya, sebagai Ketua Yayasan Ardhya Garini, saya menjadi ‘ibu’ bagi anggota-anggota saya. Ini mengingatkan saya pada pesan suami, “Anggotamu adalah keluargamu dan saudara paling dekat adalah orang-orang di sekitarmu, maka sayangilah mereka.” Benar saja, bersama mereka, saya menemukan keluarga baru di perantauan.
Lebaran bersama Warga Nasrani

Furiyani Nur Amalia, 28, Staf Ahli Gubernur, Jakarta
Awal Juni tahun 2011, saya sebagai pengajar muda di Indonesia Mengajar, ditempatkan di Pulau Beng Darat, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Di sana, saya tinggal di rumah salah satu tokoh masyarakat, yang berprofesi sebagai nelayan dan peternak ayam dan babi. Saya sempat mengalami kesulitan beradaptasi, bukan hanya dari segi agama, tetapi juga dari segi budaya.
Secara status sosial, di pulau itu orang tua angkat saya termasuk berpendidikan. Mereka tahu apa itu agama Islam, tapi tidak paham tentang batasan-batasan yang boleh atau tidak boleh dalam agama Islam. Karena itulah, mereka tidak tahu bahwa sebenarnya keberadaan puluhan ekor babi di dekat rumah sangat mengganggu saya.
Dari sekitar 150 kepala keluarga di sana, hanya dua orang yang beragama Islam. Untuk bisa berbaur, saya kerap menghadiri ibadah kaum ibu di gereja. Dalam kesempatan itulah saya bisa berinteraksi lebih dalam, termasuk mengabarkan kemajuan anak-anak mereka di sekolah. Dengan bantuan salah satu pendeta gereja di Sangihe Talaud juga, akhirnya puluhan ekor babi itu pun dipindahkan ke kandang yang lebih jauh. Semua wadah tempat makanan babi juga tidak ada lagi di dalam dan pekarangan rumah. Untuk melakukan ini, saya harus susah payah, karena banyak dari mereka yang tidak bisa berbahasa Indonesia.
Bisa dibayangkan tantangan yang harus saya jalani di bulan Ramadan sebagai warga minoritas di pulau terpencil seperti Beng Darat ini. Tidak ada suara azan dan juga pengingat dari handphone, sehingga saya memanfaatkan letak matahari sebagai tanda-tanda sudah saatnya buka puasa. Namun, di luar dugaan, selama bulan puasa, ibu angkat saya sangat perhatian. Tiap subuh, ia bangun untuk menyiapkan makanan sahur saya, yaitu ikan dan sagu yang memang menjadi makanan pokok mereka.
Pulau Beng Darat dan sekitarnya tidak memiliki masjid. Ketika Lebaran tiba, saya dan teman-teman yang bertugas di wilayah Sulawesi Utara harus menyeberang ke Kota Manado agar bisa menjalankan salat Id bersama. Lucunya lagi, saat saya melakukan tradisi ‘minta maaf’ kepada ibu angkat, saya malah diomeli. Baginya, memohon maaf seperti orang mau meninggal saja! Ha… ha… ha….
Tidak disangka, saya mendapat kejutan! Beberapa hari setelah Lebaran, seluruh penduduk berkumpul di salah satu pulau untuk mengadakan pesta. Kali ini Pulau Beng Darat yang ketempatan sebagai tuan rumah. Rupanya, ini adalah tradisi tahunan yang mengikuti perayaan Idul Fitri, Natal, atau musim panen. Dalam acara itu, tidak ada pemotongan daging babi. Semua lauk yang disajikan adalah ikan dan ayam.
Saya turun tangan membantu ibu-ibu untuk memasak. Semuanya berbaur, baik yang Nasrani maupun Islam. Bahkan, pendeta yang menjadi pengkhotbah, walau acaranya adalah merayakan Idul Fitri. Disusul dengan tradisi salam-salaman dan saling memaafkan. Pengalaman ini membuat saya belajar banyak tentang toleransi.
Tentu ini tradisi yang tidak biasa saya lihat. Di rumah orang tua saya di Surabaya, Idul Fitri diisi dengan kegiatan salat bersama, sungkem kepada orang yang lebih tua, makan-makan, dan berkunjung ke rumah kerabat. Saya tidak menyangka, akan ada pesta sebesar itu dan dihadiri oleh ratusan orang.
Di balik perasaan bahagia, ada juga perasaan sedih karena tidak bisa berbagi kebahagiaan bersama dengan keluarga saya. Ingin rasanya mengabarkan sukacita itu kepada ibu saya, tapi tidak bisa karena tidak terjangkau sinyal komunikasi. Doa adalah satu-satunya cara mengobati rasa rindu. (f)
Topic
#puasadanlebaran




