Fashion Trend
Busana Santun Modern dari ETU di Melbourne

18 Apr 2016


“Kami ingin menampilkan sisi lain dari modest fashion kepada dunia, yang modern, kontemporer, dan bisa dipakai oleh siapa saja, tidak hanya oleh wanita muslim,” ucap Rahmat Ramadan, suami dari desainer Restu Anggraeni, yang juga merupakan otak bisnis di balik label ETU by Restu Anggraeni. Latar belakang Rahmat dari bidang engineering juga membantu dalam analisis data, sehingga pasangan ini mampu menyajikan sebuah business plan yang matang dan sesuai kebutuhan pasar.
 
Berbicara tentang konsep busana, modest war bukan berarti harus terlihat ‘berat’, berbahan tebal, dan membuat tubuh tampak ‘tenggelam’. Siluet pakaian pria yang boxy, longgar, dan maskulin menjadi pilihan Restu mengusung konsep ‘modest’ ala ETU.
 
Konsep dan DNA desain Restu yang bersih dan fungsional, melalui pendekatan pada menswear yang sangat modern, membuat para juri Indonesia Young Designer Award 2015 terkesan dan memilih ETU sebagai pemenang. Indonesia Young Designer Award merupakan program kerja sama antara Jakarta Fashion Week (JFW) dengan Australia Indonesia Centre (AIC), yang bertujuan untuk lebih mendekatkan hubungan kedua negara melalui berbagai bidang, salah satunya mode.
 
Sebagai hadiah atas kemenangan ini, Restu dan Rahmat mendapatkan dana sponsorship dari ANZ sebesar 10.000  dolar Australia. Dana inilah yang kemudian digunakan untuk melakukan perjalanan dan menggelar show di Virgin Australia Melbourne Fashion Festival (VAMFF), awal Maret 2016 lalu.
 
Tepis Stigma Konservatif
Show koleksi fall/winter 2016 ETU yang bertajuk La Voyageuse digelar pada  10 Maret 2016 di Treetops, Melbourne Museum. Acara private viewing ini dibuka oleh Laura Anderson, VAMFF Chairman, Konsul Jenderal KJRI Melbourne, Ibu Dewi Savitri Wahab, dan Paul Ramadge, Direktur AIC.
 
“Industri mode akan menjadi salah satu penggerak ekonomi Indonesia yang terbesar di masa depan. Indonesia dan Australia yang letaknya berdekatan memiliki kesempatan untuk berkolaborasi secara kreatif sehingga kedua negara ini bisa menciptakan efek yang unik dalam hal hubungan bilateral serta kerja sama ekonomi global,” ucap Ibu Dewi.
 
Koleksi yang disajikan mengambil palet warna serba abu-abu dan hitam, dengan padu padan gaya tumpuk khas musim gugur/dingin. La Voyageuse menceritakan tentang perjalanan ETU ke seluruh dunia, menyebarkan keindahan Islam melalui mode, sambil menunjukkan sisi universal dari desain ETU yang tidak terbatas pada agama dan bangsa.
 
Siluet workwear maskulin khas ETU diperhalus dengan detail feminin seperti detail ruffles dan ornamen  berbentuk bunga dalam warna senada sehingga tetap modern dan bersih. Kemeja hitam berkerah ruffles tinggi dipadu celana pinstripe abu-abu berpotongan pinggang tinggi, coat hitam panjang  gaya yang terlihat elegan dan kuat, poncho berdetail kerut, dan ornamen bunga. Sementara kemeja panjang  berpotongan dekonstruktif motif pinstripe abu-abu yang dipadankan dengan celana senada terlihat formal dan chic.
 
Yang menarik, kain yang digunakan adalah bahan hi-tech dari perusahaan Jepang, Toray, yaitu Ultrasuede. Kain microfiber yang tahan air ini juga dibuat ramah lingkungan, karena sebagian menggunakan bahan dasar poliester yang berasal dari tumbuhan. Hal ini sejalan pula dengan kepercayaan ETU bahwa masa depan yang berkelanjutan hanya bisa didapatkan melalui inovasi.
 
Ini adalah pertama kalinya desainer modest wear tampil di panggung VAMFF. Menurut Laura Anderson, pesan yang ingin disampaikan lewat presentasi ini adalah untuk merangkul keragaman sekaligus mencintai keindahan dan keunggulan tekstil itu sendiri.
“Ini adalah sebuah perayaan tentang Indonesia, bagaimana kami dapat memahami warisan budayanya dan interpretasi kontemporer dari budaya tersebut,” jelasnya.
 
Pesan tersebut cukup kuat tersampaikan, karena pihak media Australia terlihat sangat antusias menyambut pergelaran ini. ETU berhasil menepis stigma sosial dan stereotip yang lekat pada sosok wanita muslim, yang sering digambarkan sebagai kaum yang tertindas dan ketinggalan zaman. “Sebenarnya cara berpakaian kami sama saja dengan wanita pada umumnya. Bedanya,   kami memakai scarf atau penutup kepala,” jelas Restu, dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV Australia. (f)
 


Topic

#ETU

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?