
Lewat bayangan boneka tokoh-tokohnya, diiringi penuturan cerita dari sang dalang dan irama musik gamelan, kesenian wayang kulit telah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Sebagai bagian dari Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia oleh UNESCO pada tahun 2003, wayang pun telah menuai pengakuan internasional. Bagaimana desa ini berjuang mempertahankan eksistensi kesenian tradisional ini?
Pesona Desa Wisata
Pertama kali menginjakkan kaki di Desa Kepuhsari, Wonogiri, Jawa Tengah, saya langsung disambut sejuknya hawa perbukitan dan persawahan yang hijau membentang. Kicauan burung bersahut-sahutan dengan gumaman sapi peliharaan warga. Suasana pedesaan yang menyelimuti begitu menyegarkan mata.
Terletak di dataran tinggi di bagian selatan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, terdapat beberapa gunung di sekitar Desa Kepuhsari. Uniknya, nama gunung-gunung itu berasal dari legenda yang juga berkaitan dengan seni wayang.
Konon, ada seorang dalang sakti yang murka karena iringan gamelannya tak sesuai saat ia tengah mementaskan wayang. Peti penyimpanan wayang yang ditendangnya berubah menjadi Gunung Kotak. Sementara itu, wayang-wayang miliknya jatuh di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta, dan berubah menjadi Gunung Gambar. Tak hanya itu, nama-nama jalan di desa ini juga diambil dari nama tokoh-tokoh pewayangan.
Tak butuh waktu lama bagi saya untuk merasakan betapa kesenian wayang memengaruhi kehidupan penduduk desa ini. Selain merupakan kampung halaman lebih dari seratus perajin wayang kulit, banyak dalang andal yang berasal dari Desa Kepuhsari. Bahkan, di antara mereka banyak yang telah turun-temurun menjadi dalang maupun perajin wayang.
“Pekerjaan utama penduduk di sini, selain bertani dan bercocok tanam, ya, membuat wayang,” ujar Sutarno, seorang perajin wayang yang sehari-harinya dipanggil Sutar. Rumahnya yang terletak di Jalan Bima I No. 16 RT 04 RW 01, tak jauh dari balai desa, menjadi tempat saya menginap selama tiga hari berada di desa ini.
Kediaman Pak Sutar memiliki gaya arsitektur limasan khas rumah tradisional Jawa. Teras depan rumah menjadi tempatnya biasa berkumpul dengan sesama perajin dan membuat wayang sampai jauh malam.
Selain Pak Sutar, ada sepuluh kepala keluarga lain di Desa Kepuhsari yang menerima wisatawan untuk menginap di rumah mereka. Di luar itu, sepuluh kepala keluarga lainnya juga telah memperoleh pelatihan sebagai host.
Keterbukaan mereka terhadap kedatangan tamu, baik dari luar kota maupun mancanegara, menunjukkan bahwa penduduk desa makin sadar wisata. Apalagi sejak tahun 2012 di desa ini telah terbentuk Kelompok Sadar Wisata yang giat mengampanyekan potensi wisata desa ke pemerintah daerah setempat.
Di sisi lain, daya tarik pariwisata Desa Kepuhsari tak melulu seputar kesenian wayang kulit. Ada air terjun, yang biasa disebut Banyunibo oleh warga setempat. Untuk menjangkaunya, Anda perlu menempuh sekitar dua puluh menit perjalanan naik motor, kemudian lanjut mendaki dan berjalan kaki. Kita bisa pula menikmati pemandangan matahari terbit dari Gunung Kotak.
Seni Tatah Sungging
Kegiatan saya di Kepuhsari dimulai dengan mempelajari seni tatah sungging, yaitu teknik memahat dan melukis wayang kulit. Mulanya, Pak Sutar memperkenalkan saya pada seperangkat alat menatah wayang, yang berbentuk mirip pensil namun terbuat dari besi dan memiliki bentuk ujung berbeda-beda. Saat digunakan, alat ini harus digenggam dalam posisi tegak.
Saya juga belajar sejumlah teknik dasar menatah, mulai dari membuat garis lurus, lengkung, hingga lubang kecil. “Tiap bentuk tatahan punya tempatnya sendiri-sendiri di badan wayang,” jelas Pak Sutar, yang putra dan cucunya kini mengikuti jejaknya sebagai perajin wayang.
Di atas secarik kulit kerbau bergambar pola Dewi Sinta, salah satu tokoh pewayangan Jawa dalam cerita Ramayana, saya pun langsung praktik. Menggenggam alat penatah di tangan kiri dan pemukul dari kayu di tangan kanan, kulit dibentangkan di atas alas kayu. Nantinya, di wayang yang sudah rampung, saya bisa memasangkan sepotong tanduk kerbau yang telah dibentuk khusus, untuk dijadikan gapit atau gagang wayang. Pilihan lain adalah menjadikan wayang sebagai gantungan kunci atau pembatas buku.
Menatah wayang ternyata menuntut ketelitian sekaligus kesabaran. Tak hanya harus memastikan bahwa hasil penatahan tidak melenceng dari garis pola, saya pun perlu cermat memilih jenis alat penatah yang dibutuhkan. Dalam menggunakan pemukul pun harus tepat, agar lubang hasil tatahan di sisi depan dan belakang kulit sama besarnya.
Sebagai gambaran, untuk menatah wayang setinggi 50 cm, perajin membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Tarif yang dipasang untuk menatah satu wayang bervariasi bagi tiap perajin, mulai dari Rp125.000. Setelah rampung, wayang dapat dijual dengan harga mulai dari Rp500.000 hingga jutaan. Harga wayang akan makin tinggi jika pewarnaannya menggunakan kertas prada dari emas murni.
“Butuh setidaknya dua tahun, dan itu baru belajar menatahnya saja,” papar Pak Sutar, yang mulai belajar menatah pada usia sembilan tahun. Ia menambahkan, umumnya anak-anak Desa Kepuhsari berguru langsung kepada perajin wayang setempat. Ia sendiri dahulu berguru kepada pamannya.
Meski harga bahan baku pembuatan wayang kulit tidaklah murah, anak-anak ini tidak dikenakan biaya. “Mereka mau belajar saja, kami sudah senang,” ungkapnya.
Melukis Tradisi
Hari berikutnya, saya banyak berkutat dengan cat dan kuas. Mentor saya, Retno Lawiyani, adalah pengasuh Sanggar Seni Lukis Asto Kenyo, yang berdiri persis di samping rumah Pak Sutar. Ia sendiri tinggal tak jauh dari sanggar itu, bersama suami dan putranya yang sama-sama mahir dalam seni tatah sungging.
“Karena di desa ini banyak perajin wayang, saya berpikir, bagaimana saya bisa menyajikan kesenian wayang dalam bentuk lain. Kalau menggunakan media kain atau kaca, saya bisa sekaligus menggambar satu cerita,” ungkap Retno.
Awalnya, dari pamannya yang seorang pelukis, Retno belajar melukis wayang beber, jenis wayang yang dilukis per adegan cerita di atas kain. Wayang beber dipentaskan dengan cara membeberkan gulungan kain tersebut. Dalang menggunakan semacam tongkat kayu untuk menunjukkan tokoh-tokoh dan menuturkan kisah mereka.
Sayangnya, menurut Retno, wayang beber kini makin jarang dipentaskan. Selain karena peminatnya makin sedikit, wayang beber pun sudah mulai langka, sehingga mahal harganya. “Wayang beber umurnya masih lebih tua daripada wayang kulit purwa, yang saat ini lebih populer,” jelas wanita yang belajar melukis di kaca secara autodidak ini.
Di atas meja, Retno telah menyiapkan perlengkapan yang saya butuhkan. Ada sejumlah kuas lukis, palet berisi cat warna-warni, dan kaca berukuran 15 x 25 cm. Di permukaan kaca itu sudah ada gambar Arjuna. Karakter wayang ini digambar di bagian belakang kaca dengan drawing pen, kemudian disemprot pilox bening, lalu siap untuk diwarnai.
Retno meyakinkan saya, melukis di atas kaca tidaklah sesulit yang dibayangkan. “Melukis juga memakai perasaan, bahkan tarikan napas bisa memengaruhi bentuk coretan garis,” pesan Retno.
Ternyata, tak sampai satu jam saya sudah bisa beralih mewarnai bagian jarit (kain). Di sinilah tantangan yang sesungguhnya dimulai. Detail motif kain itu membuat saya harus menghadirkan gradasi warna dalam bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga saya harus ekstra hati-hati dalam mewarnai.
Sekitar dua jam, lukisan saya pun selesai. Setelah diangin-anginkan sampai kering, latar belakang lukisannya akan diwarnai dengan teknik airbrush untuk memberikan efek timbul.
Sarat Pelajaran
Malam terakhir, saya menyempatkan diri menyaksikan latihan mendalang dan menabuh gamelan di rumah Giriyanto Kuncoro Aji, seorang dalang sekaligus perajin wayang kulit. Latihan ini rutin diadakan Giri, panggilan akrab Giriyanto, beberapa kali dalam sepekan.
Di ruang utama kediaman Giri, yang jaraknya hanya sepelemparan batu dengan rumah Pak Sutar, seperangkat alat musik gamelan telah digelar mengelilingi ruangan. Para pengrawit (penabuh gamelan), semuanya pria, sudah siap di tempat mereka masing-masing. Di tengah-tengah ruangan terdapat layar putih, tempat dalang akan beraksi. Di sanalah anak laki-laki Giri, Pandam, siap menunjukkan kebolehannya menghidupkan wayang dalam genggamannya.
Sambil menunjukkan kepada saya wayang-wayang yang akan digunakan pada latihan kali itu, Giri bercerita tentang tokoh pewayangan yang bernama Kangsa. Tokoh utama dalam lakon Kangsa Adu Jago itu bagai pengejawantahan polemik perebutan kekuasaan, yang terus berlangsung dari masa ke masa.
Merasa ayahnya, Basudewa, pilih kasih, Kangsa berontak dan menantang sang ayah bertarung. Jika ia menang, maka Kerajaan Mandura yang dipimpin ayahnya itu harus diserahkan kepadanya. Kisah Kangsa hanya satu dari banyak contoh cerita pewayangan yang menegaskan bahwa kejahatan akan terkalahkan pada akhirnya.
“Walaupun teknologi makin modern, falsafah pembelajaran hidup dalam cerita-cerita wayang tetap tidak ketinggalan zaman,” cetus Giri. Diiringi musik yang nyaring dan bertempo cepat, Pandam memulai latihan dengan melantunkan suluk odo-odo, sajak pembuka yang menggambarkan suasana genting.
Saya hampir tak percaya, dalang cilik ini masih berusia sepuluh tahun. Suaranya terdengar tegas dan sarat wibawa, bagaikan seorang penguasa yang tengah mengendalikan nasib wayang-wayang di tangannya.
“Gamelan menjadi pedoman, sementara wayang menampilkan sosok yang menggambarkan watak tokoh-tokohnya,” ujar Wagiman Sugiyanto, ayah Giri. Ketika pentas, baik itu untuk satu-dua jam maupun semalam suntuk, seorang dalang dituntut untuk mampu menyelaraskan cerita dengan irama gamelan. Ibarat raja yang memimpin jagat raya, seorang dalang berperan penting dalam memberi perintah kepada para pengrawit yang mengiringinya.
Sementara itu, menurut wanita dalang, Wulan Sri Panjangmas, kemampuan mendalang berawal dari minatnya pada kesenian wayang, dan berkembang berkat kerja keras untuk belajar dan terus melatih diri. Tak hanya kemahiran teknis yang diasah, namun juga nilai rasa.
“Pada akhirnya, bagus tidaknya seseorang mendalang dilihat dari caranya membuat hati penonton larut dalam pementasan,” ungkap Wulan saat dijumpai di rumahnya, sebelum ia berlatih untuk persiapan mengikuti sebuah festival dalang.
Sayangnya, mencari orang dengan kriteria demikian dewasa ini sangatlah sulit. Wulan pun awalnya ragu bahwa ia mampu menjadi seorang dalang, meskipun profesi itu telah ditekuni keluarganya selama hampir 20 generasi. Namun, kini ia justru amat menikmati jalan hidupnya sebagai seorang wanita dalang.
Di sisi lain, etos kerja seorang dalang hanyalah satu dari banyak hal baru yang saya temui. Saat melihat wayang yang berjejer di samping dalang, siap untuk ditampilkan, saya kembali teringat perjuangan saya menatah dan mewarnai wayang.
“Orang yang tidak paham akan menilai harga wayang itu mahal. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah karya seni yang pengerjaannya rumit dan bahannya sulit didapat,” ujar Giri, mengomentari ketakacuhan yang terkadang diterimanya dari bangsa sendiri.
Masyarakat desa ini tampaknya sudah menyadari bahwa mereka tak bisa menjadi pelestari wayang sendiri. Mereka pun kini lebih membuka diri pada wisatawan. Ternyata, ada banyak jalan untuk mulai mengenal dan turut menjaga kelestarian wayang. Popularitas wayang Indonesia di mata dunia pun bisa jadi tak lagi berarti, jika bangsa kita mulai meminggirkannya.
Menuju ke Desa Wayang
- Untuk mengunjungi Desa Kepuhsari, Anda terlebih dulu harus menempuh perjalanan ke Yogyakarta atau Surakarta, baru melanjutkan perjalanan dengan bus atau mobil sewaan.
- Jika memilih transportasi umum, dari Terminal Giwangan, Yogyakarta, Anda turun di Terminal Semin, daerah Gunungkidul. Dari sana, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan mengendarai ojek menuju Desa Kepuhsari.
- Bila berangkat dari Surakarta, Anda bisa naik bus dari Stasiun Balapan menuju Praci, dan turun di Cengkal. Dari sana, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan ojek ke arah Dusun Tiken, lalu belok kiri ke arah Yogyakarta. Di sana, Anda akan menemukan papan penunjuk arah menuju Desa Kepuhsari.
- Jika memilih membuat itinerary sendiri, Anda dapat menghubungi Sutarno (085293164994) untuk merencanakan keperluan seperti akomodasi dan kegiatan lain selama di desa.
- Bisa juga mengikuti paket tur yang ditawarkan oleh Wayang Village (www.wayangvillage.com). Paket Pandawa berdurasi tiga hari dua malam, sudah termasuk workshop membuat wayang, melukis wayang di atas kaca, dan berlatih gamelan serta mendalang.
- Untuk akomodasi, menginap di rumah penduduk, biayanya Rp900.000, sudah termasuk konsumsi.
- Pementasan wayang bisa diadakan sesuai permintaan. Bila Anda berangkat bersama rombongan, minimal 20 orang, yang akan dipentaskan khusus dengan biaya tambahan.




