Sex & Relationship
Tak Perlu Malu Melajang, Wanita Berhak Menentukan Hidupnya Sendiri

16 Apr 2017


Foto: Fotosearch

“Boleh berkarier, tapi jangan sampai lupa menikah!”
“Jangan terlalu pilih-pilih, nanti malah enggak ada yang mau!”
“Memangnya kamu enggak mau punya anak?”

Melajang di usia yang dianggap sudah waktunya menikah memang serba salah. Apalagi bagi wanita, yang kerap dinilai masyarakat belum ‘lengkap’ bila belum berkeluarga, terlepas dari segala pencapaian pribadi dan profesional mereka. Perkembangan zaman membawa peluang untuk mendobrak pandangan ini.
 
Wanita Berhak Memilih
“Status lajang saya sering dianggap orang sebagai hal yang salah, dan bahwa tidak ada pria yang mau berkomitmen dengan saya. Padahal, melajang adalah pilihan yang saya ambil secara sadar,” tegas Jasmine Puteri (29).

Ia juga jengah dibanding-bandingkan dengan banyak sepupu dan teman sebayanya, yang sudah lebih dahulu menikah dan memiliki anak. Di matanya, hal itu hanya berarti mereka memiliki pilihan berbeda dalam hal berkeluarga, dan perbedaan itu perlu dihormati.

Pertanyaan-pertanyaan yang menyindir status lajangnya pun membuatnya merasa bahwa pilihan hidupnya dicampuri. Misalnya, saat hendak memulai pekerjaan baru sebagai program manager di sebuah lembaga riset di Wina, Austria, awal bulan ini, ada yang berkomentar, “Nanti jangan keasyikan kerja, memangnya kamu enggak mau menikah?”

Jasmine tidak sendiri. Bagi Noni Sugiharto (30), komentar semacam ini tak hanya dirasa memojokkan dan tidak adil. Mungkin ada yang berpandangan, komentar dan pertanyaan yang ‘menjurus’ itu adalah wujud kepedulian yang tulus. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa berbagai komentar tersebut justru terkesan menjadi upaya mencari bahan pembicaraan atau memuaskan rasa penasaran.

Noni biasa menanggapi komentar-komentar, yang biasanya muncul dari keluarga besar atau kenalan di tempat kerja, itu dengan candaan. Ia juga memiliki jawaban standar, “Doakan saja.” Namun, bila mulai terusik, ia lebih memilih melangkah pergi.
Toh, Noni tak berkecil hati. Apalagi, keluarganya mendukung segala pilihannya dalam meraih cita-cita. Termasuk pilihannya untuk berkarier di sektor publik dan menempuh pendidikan pascasarjana di Inggris.

“Saya malah merasa kasihan pada mereka yang mengomentari status lajang saya, karena ternyata tolok ukur mereka dalam menghargai wanita hanya sebatas status pernikahan,” papar Noni, yang mulai sering menuai komentar itu sejak akhir usia 20-an.

Sayangnya, melajang masih sering dipandang sebagai hal yang memalukan. Masyarakat melekatkan banyak stereotip yang mempersalahkan wanita yang melajang, mulai dari terlalu asyik berkarier, terlalu pemilih, tak laku, hingga sebutan perawan tua. Terlepas dari kesuksesan pribadi maupun karier yang telah dicapai, pandangan sebelah mata atau belas kasihan sering diarahkan kepada mereka karena tak kunjung punya pasangan.

Di Barat, fenomena ini dikenal dengan istilah single shaming. Meski dialami baik oleh pria maupun wanita, pria lebih banyak mendapatkan pemakluman ketika mereka masih betah melajang. Pasalnya, menurut sosiolog Universitas Indonesia, Dr. Erna Karim, wanita dianggap sebagai pihak yang butuh perlindungan pria, sehingga tak mampu mengatur hidupnya sendiri.

Sementara itu, konsep yang berakar dari kata shame atau malu ini termasuk pelecehan yang menyudutkan wanita. Hal ini dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarkat yang mengutamakan pria dan mendominasi wanita. “Wanita diperlakukan sebagai barang yang nasibnya ditentukan oleh masyarakat, dalam hal ini kaum pria, karena mereka yang memegang dominasi budaya,” kata Erna.
 
Zaman Sudah Berubah
Lebih lanjut Erna mengungkapkan, dari masa ke masa wanita dihadapkan pada pembatasan sosial oleh masyarakat. Tempat yang dianggap terbaik bagi wanita adalah ranah domestik. Wanita yang lebih banyak berada di luar rumah, khususnya di malam hari, berisiko dianggap bukan ‘wanita baik-baik’.

Sementara, peralihan zaman dari era industrialisasi ke era teknologi informasi turut membawa pergeseran paradigma di masyarakat. Era industri menekankan pada konsep kepemilikan (ownership) dan penciptaan produk, termasuk para istri dan anak yang patuh pada pria sebagai pemimpin keluarga. Sementara itu, era digital lebih terbuka dan memberi akses serta kesempatan yang setara, tanpa mempersoalkan gender maupun status pernikahan seseorang.

Dalam masa transisi ini nilai-nilai baru yang mengusung kesetaraan mulai mendapat tempat di masyarakat. Namun, nilai-nilai lama dari era industri belum sepenuhnya terhapus, misalnya konsep bibit-bebet-bobot yang sering menjadi pertimbangan dalam membina keluarga di Indonesia.

“Kini, kualitas bobot wanita mulai lebih diperhitungkan, sehingga mereka dapat bersekolah tinggi, berkarier, dan membina relasi. Tapi kenyataannya, banyak wanita masih dibebani tanggung jawab domestik yang besar,” jelas Erna.

Persoalannya, standar ganda ini turut dilanggengkan oleh wanita yang masih memegang nilai-nilai lama yang disosialisasikan oleh keluarganya. Nilai-nilai ini, menurut Erna, tak lepas dari pengaruh ajaran agama yang diinterpretasikan secara patriarkat. Interpretasi, yang kerap hanya sepotong-sepotong dan tak selalu berasal dari ulama, inilah yang kemudian digunakan untuk melanggengkan kekuasaan pria.

Contohnya adalah pemahaman bahwa wanita belumlah ‘lengkap’ tanpa memiliki anak, yang  justru digaungkan sebagai kodrat wanita karena mereka terlahir dengan rahim, indung telur, dan vagina. Padahal, Erna mengungkapkan, konsep kodrat wanita tersebut justru diciptakan oleh pria untuk melanggengkan kepentingan mereka secara patriarkat.

Menyadari bahwa single shaming adalah produk dari cara pandang yang bias gender, Noni menilai tak ada yang salah dengan status lajangnya. “Makanya, saya tidak merasa harus membela diri. Zaman sekarang ada banyak wanita yang masih melajang seperti saya, dan mereka umumnya memiliki prestasi yang membanggakan alias alpha female. Kalau marah, saya hanya buang-buang tenaga,” tegas Noni.

Jasmine juga meyakini bahwa berkeluarga bukan alasan bagi seorang wanita untuk berhenti mengejar cita-cita dan mengaktualisasikan dirinya. “Wanita harus senantiasa berdaya dan mandiri agar bisa menghadapi berbagai tantangan hidup, karena berumah tangga bukan berarti bergantung sepenuhnya kepada suami,” ungkapnya.
 
Status Bukan yang Utama
Sementara itu, wanita yang melajang tak selalu berarti enggan berkeluarga. Umumnya, mereka justru lebih cermat dalam menentukan apa yang mereka inginkan dalam sebuah hubungan, sehingga tak merasa dikejar usia biologis untuk menikah. Mereka juga bukan tipe yang demi status menikah maka rela bertahan dalam hubungan yang tak sehat.

Hasil penelitian London School of Economics (2015) juga mengungkap bahwa anak-anak yang dilahirkan oleh wanita berusia di atas 30 tahun memiliki kecerdasan lebih tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh ibu mereka yang cenderung berpendidikan dan berpenghasilan tinggi, memiliki hubungan yang lebih stabil dengan pasangannya, dan menjalani gaya hidup sehat. “Mereka juga umumnya merencanakan kehamilan mereka dan mendapatkan layanan kesehatan saat hamil lebih awal,” jelas peneliti Alice Goisis, sebagaimana dilansir The Independent.

Erna pun berpesan, berbekal kemerdekaan untuk berpikir dan menentukan pilihan, wanita tak perlu gentar akan keputusan mereka untuk melajang. Pandangan bahwa wanita yang tak memiliki pasangan dan keturunan adalah tidak sempurna justru harus digugat dan dirombak.
“Kapan dan dengan siapa mereka akan menikah, atau bahkan apakah mereka akan menikah atau tidak, sepenuhnya menjadi urusan mereka masing-masing,” ujarnya.

Pernyataan ini turut diamini Noni. Ia meyakini, Tuhan sudah mengatur rezeki bagi  tiap manusia, yang bentuknya bisa berbeda-beda. Menemukan pasangan hidup, kesempatan melanjutkan studi, dan karier yang menjanjikan, hanyalah beberapa contohnya, yang akan datang pada waktu yang tepat.

“Saya percaya tiap orang akan menemukan pasangan yang sepadan. Bila ada pria yang batal mendekati karena pendidikan atau karier saya dianggapnya terlalu tinggi, tak masalah,” katanya, ringan. Ia pun tak kalang kabut mencari pasangan hanya karena sudah memasuki usia kepala tiga. Dari kriteria pria idealnya, sebagian besar bisa dikompromikan, kecuali tiga hal: tidak melakukan kekerasan pada pasangan, setia, dan seiman.

Ketika hendak berbincang dengan seorang wanita lajang, status pernikahan adalah hal terakhir yang perlu dijadikan topik pembicaraan. Tanyalah bagaimana kabar mereka, apa yang sedang mereka kerjakan, atau rencana hidup mereka dalam waktu dekat.

“Saya juga senang mendapatkan pertanyaan yang menggugah intelektualitas, misalnya tentang buku yang sedang atau baru selesai saya baca. Atau pendapat saya tentang isu-isu sosial dan politik,” kata Jasmine.(f)


Baca juga:
Hindari Minder Karena Single
3 Hal yang Dihadapi Wanita yang Kembali Single
7 Alasan Lebih Baik Jadi Wanita Single


Puji Maharani


Topic

#single