
Foto: fotosearch
Banyak pria millennial menganggap bahwa pernikahan bisa menanti, sementara mereka membangun karier dan mengumpulkan materi. Namun, tak sedikit pula yang memilih untuk segera membina keluarga, agar tujuan hidup mereka menjadi lebih terarah. Aktor Abimana Aryasatya dan mantan atlet bulu tangkis Taufik Hidayat membagi pengalaman perang logika dan hati di balik keputusan mereka untuk berumah tangga.
Abimana Aryasatya, artis
Menikah untuk Punya ‘Rumah’
Menikah dengan Nidya Ayu di umur 19 tahun, Abimana Aryasatya meyakini bahwa bagi seorang pria, kapan ia memutuskan untuk menikah tak banyak berpengaruh pada kariernya. Di sisi lain, tanggung jawab sebagai kepala keluarga justru akan mendorong seorang pria untuk berusaha bekerja lebih keras.
Abimana tak menampik, awalnya ia ditertawakan banyak orang karena berniat untuk berkeluarga saat kariernya masih jauh dari mapan. Tetapi, komentar-komentar bernada miring dan meremehkan dari lingkungan sekitar tak membuatnya gentar. Niatnya untuk menikah malah makin tak tergoyahkan.
“Sekarang, hubungan saya dan istri makin erat. Kami berproses bersama, sehingga lebih mudah menjalani kehidupan berumah tangga, karena memiliki teman seperjuangan,” ujar pria yang terlahir dengan nama Robertino ini.
Tumbuh sebagai anak tunggal dalam keluarga yang tak utuh, ayah empat anak ini dulunya sering merasa kesepian, sehingga timbullah keinginan untuk segera membina rumah tangga. Dengan adanya orang-orang terkasih yang siap mendukungnya, ia berharap dapat memiliki tempat yang bisa disebut ‘rumah’ dan alasan untuk pulang.
Diakui pemeran Mada dalam film Haji Backpacker ini, ada dua hal yang paling sulit ia taklukkan kala itu. Selain persoalan materi, faktor ego membuatnya sering menyalahkan lingkungan dan keadaan sekitar. Meski demikian, ia enggan membiarkan semua itu berlarut-larut mengusik kemantapannya.
Maka, datanglah Abimana menemui orang tua sang calon istri, mengutarakan niatan untuk meminang. Sempat ditanya bagaimana ia kelak akan menafkahi keluarga oleh calon ayah mertuanya. Saat itu ia memang tidak bisa menyebut pekerjaan apa pun sebagai sumber mata pencaharian. Namun, apa pun yang dikerjakannya kelak, ia berjanji akan berusaha keras untuk menghidupi keluarganya.
“Saya tipe orang yang malu menarik kembali kata-kata yang sudah pernah diucapkan. Rasanya saya tidak bisa menjadi seorang laki-laki sejati, bila tidak bisa bertanggung jawab pada omongan saya sendiri,” tuturnya, lugas.
Tahun-tahun pertama pernikahan pun dilalui pasangan muda ini dengan penuh liku. Di tengah masa penyesuaian saat mulai tinggal seatap dan berbagi segala hal, ada saja yang menjadi bahan percekcokan mereka. Tak sekali dua kali pula mereka nyaris kehabisan uang, dengan hanya puluhan ribu rupiah yang tersisa di tangan.
Barulah, setelah melalui satu dekade bersama, mereka mulai merasakan kestabilan pernikahan, baik dari segi finansial maupun emosional. Hal ini tak lepas dari upaya Abimana, yang sebelumnya lebih memilih menjadi musikus, untuk berkompromi dalam berkarier. Seiring dengan namanya yang makin bersinar sebagai aktor film, akhirnya ia bisa memenuhi cita-citanya sejak menikah 13 tahun lalu, yaitu memiliki rumah sendiri.
Waktulah yang menempa Abimana untuk tiap hari bekerja keras dengan penuh tanggung jawab agar dapat mempertahankan keluarga, mencari rezeki, dan saling menjaga perasaan pasangan. “Perkawinan adalah bentuk dedikasi. Jangan mengharapkan timbal balik, dedikasi itu harus dinikmati,” pesannya.
Dalam menjalani rumah tangga, Abimana mengaku bahwa ia lebih memilih untuk melakukan hal terbaik yang bisa dilakukannya hari ini. Ia menilai, seseorang hanya bisa berjaga-jaga atas hidupnya dan orang-orang yang dicintai. Ia pun memercayakan urusan tabungan dan asuransi untuk keluarga kepada sang istri.
Di sisi lain, ia beranggapan bahwa sepenuhnya merencanakan hidup dan mengharapkan kenyataan berjalan sesuai dengan harapan agaknya tak mungkin. Alasannya sederhana, siapa pun tak tahu kapan akan berjumpa dengan akhir usianya.
Di mata Abimana, kesuksesan seorang pria awalnya bukan hanya dilihat dari segi kemapanan ekonomi. Tetapi, bagaimana dalam perjalanan itu ia berhasil menjalankan perannya sebagai tiang keluarga, membesarkan dan menjaga anak-anaknya, serta menyediakan kebutuhan keluarga secara berkelanjutan. Hal ini tak lepas dari ego seorang pria.
“Seorang pria tak bisa lepas dari dua hal, yaitu ego dan libido. Saat seorang pria bisa menjaga keluarganya dan hubungan dengan pasangannya, ia bisa mengalahkan ego dan libidonya,” paparnya.
Pada akhirnya, tak ada yang tak disyukuri Abimana dari kehidupan rumah tangganya saat ini. Segala kelebihan dan kekurangan sang istri diterimanya apa adanya, karena itulah yang telah menjadi karunia Tuhan baginya. Ia pun percaya bahwa Tuhan telah memberinya apa yang ia butuhkan, dan itu adalah orang yang mau menemaninya sepanjang hayat.
Taufik Hidayat, Pendiri Taufik Hidayat Arena
Hidup Sesuai Target
“Di awal umur 20-an, saya punya target menikah di usia 25-26 tahun. Tapi, saya harus punya prestasi dulu, baru menikah,” tutur Taufik Hidayat. Berkenalan dengan bulu tangkis saat duduk di kelas 3 SD, Taufik telah menuai sederet pencapaian gemilang, dengan medali emas Olimpiade tahun 2004 sebagai puncaknya.
Bagi Taufik, keseriusannya memupuk karier sebagai seorang pebulu tangkis tak lepas dari upayanya mendorong diri untuk mencapai target prestasinya. Ia meyakini, rezekinya akan datang dari kesuksesan yang diraihnya. Maka, sebelum menikah, ia sudah mempersiapkan diri dari jauh hari. Salah satunya dengan menabung dan membeli rumah di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sebagai tempat menempuh hidup baru kelak.
Karena masih berusia 20-an saat memutuskan menikah, Taufik mengaku hampir tak merasakan tekanan dari komentar lingkungan sekitar yang mendesaknya untuk segera berkeluarga. Kemapanan materi sebelum menikah pun tidak terlalu jadi soal baginya. Tantangan terbesarnya justru datang dari diri sendiri, ketika ia memilih untuk berkomitmen membina rumah tangga dan tidak lagi menjalani hidup untuk bersenang-senang semata. Apalagi, saat itu reputasi sebagai seorang playboy seolah tak bisa dilepaskan dari namanya.
Pada 4 Februari 2006, Taufik pun resmi mempersunting Ami Dianti Gumelar. Sementara itu, kariernya di lapangan terus berlanjut. Beberapa hari setelah pernikahannya, ia bertolak ke Jaiphur, India, untuk menjalani babak kualifikasi Piala Thomas. Pada tahun yang sama, ia membawa pulang gelar juara Indonesia Terbuka untuk keenam kalinya dan Asian Games untuk kedua kalinya.
Setelah menikah, harapan Taufik dan Ami untuk segera memiliki buah hati terkabul ketika putri pertama mereka, Natarina Alika Hidayat, lahir setahun kemudian. Keluarga kecil mereka pun kian semarak dengan kehadiran Nayutama Prawira Hidayat tiga tahun kemudian.
“Saya bersyukur sudah menikah dan punya anak. Keluarga kini menjadi rem saya, yang membuat saya lebih berpikir panjang dan mempertimbangkan imbas tiap tindakan,” ujar Taufik, yang menjadikan olahraga sebagai salah satu cara mengisi quality time dengan keluarga.
Setelah memborong 27 gelar juara sepanjang kariernya, tahun lalu Taufik memutuskan untuk gantung raket. Ia menyadari, tantangan barunya kini adalah menghidupi keluarga setelah pensiun berkarier sebagai atlet. Kini, ia aktif membina Taufik Hidayat Arena, sebuah pusat pelatihan bulu tangkis yang telah dicita-citakannya sejak sebelum menikah. Pusat pelatihan ini sekaligus menjadi dedikasinya bagi olahraga yang telah membesarkan namanya.
Sementara itu, sebagai mata pencaharian barunya, Taufik mulai merintis kerja sama bisnis. Di antaranya bekerja sama dengan produk alat-alat olahraga untuk dipakai di arena pelatihan bulu tangkisnya. Ia juga sedang merintis bisnis baru yang menurutnya sama sekali berbeda, yang masih dirahasiakannya.
“Dari sinilah saya kembali diuji, bisakah saya mencari nafkah di bidang lain. Saya menjadi atlet selama 25 tahun, bisakah pernikahan saya bertahan lebih lama dari itu?” ungkapnya, penuh harap. Ia pun bersyukur, berbekal investasi dan persiapan sejak jauh-jauh hari, perkembangan usahanya sampai saat ini tergolong baik.
Diakui Taufik, hal ini tak lepas dari peran sang istri, yang selalu mendukungnya untuk memulai usaha barunya. Memang, ada saja yang membanding-bandingkan dirinya saat ini dengan kesuksesannya saat masih menjadi atlet dulu. Namun, ia enggan berargumentasi untuk hal yang tak ada habisnya seperti itu. “Biasanya saya jawab, ‘Itu kan beda zamannya.’”
Pengalamannya meniti karier sebagai atlet dari bawah memang membuat Taufik lebih bangga dan bisa menikmati semua pencapaiannya saat ini. Hal itu pula yang memacu Taufik untuk terus belajar dari orang-orang yang telah lebih dulu sukses dalam bidang yang kini digelutinya. Salah satunya dengan cermat memilih rekanan, dan memilah masukan. Ia enggan terjebak dengan pihak-pihak yang hanya ingin memanfaatkan reputasi dan koneksinya.
Berkali-kali menjadi pemenang di lapangan, Taufik berharap ia dapat pula menjadi seorang juara dalam kehidupan rumah tangganya. “Sekarang, target saya dalam berkeluarga adalah membesarkan dan mendidik anak sampai berhasil, karena prestasi saya sebagai seorang kepala keluarga juga akan dilihat dari situ,” pungkasnya. (f)




