
Foto: Fotosearch
Bercinta merupakan suatu hal yang wajar dilakukan setelah menikah. Tapi apa jadinya, tuh, jika kita mengalami ketergantungan hingga nggak bisa menahan diri? Jangan-jangan kita nymphomania alias hiperseks!
Penderita nymphomania belum tentu menyadari kalau dirinya mengalami kelainan seksual. dr, Oka Negara, FIAS, Dokter Sekretaris Asosiasi Seksologi Indonesia pun memberikan penjelasan....
Sering bercinta = hiperseks?
Hiperseks merupakan perilaku seksual yang tidak umum, yaitu tingginya keinginan untuk melakukan hubungan seksual dan kesulitan untuk mengontrolnya. Hal ini dapat terjadi pada laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki disebut satyriasis, sedangkan pada perempuan disebut nymphomania.
Data penderita hiperseks di Indonesia hanya ada berdasarkan pengamatan klinis. Dari segi jumlah, sih, masih lebih banyak laki-laki, meski ada juga perempuan yang mengalaminya. Menurut Oka, ini terjadi karena laki-laki di Indonesia lebih terbuka bicara tentang seks dan perilakunya dibanding perempuan.
Intensitas bercinta yang tinggi nggak selalu mengarah pada hiperseks. Soalnya, nih, masih ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, seperti usia, lama hubungan, hingga pemahaman seseorang terhadap seks. Pengantin baru, misalnya, bisa saja bercinta setiap hari—bahkan beberapa kali sehari—karena hormon testosteronnya tinggi sekaligus ingin mengeksplorasi gaya bercinta.
“Jika kedua pihak sama-sama menikmatinya, sih, sah-sah saja. Nanti seiring berjalannya waktu, intensitas bercinta juga berkurang. Yang jelas, nih, kita nggak bisa mendiagnosis seseorang menderita hiperseks hanya dari intensitas bercintanya yang tinggi—diperlukan pemeriksaan yang lebih mendalam lagi,” ujar Oka.
Nggak pernah puas
Seorang nymphomania, tuh, nggak pernah puas saat berhubungan seks, bahkan meski dia sudah mencapai orgasme. Setelah bercinta, dia malah ingin melakukannya lagi dan lagi. Jika keinginannya nggak sampai terpenuhi, bisa berujung pada kecemasan hingga depresi, tuh.
Wajar saja, deh, jika penderita nymphomania akan menuntut pasangannya untuk memenuhi hasratnya. Yang jadi masalah, sih, jika sang pasangan nggak sanggup bercinta sesering dirinya. Hasilnya, bisa saja dia mencari pelampiasannya dengan masturbasi, atau yang lebih parah lagi, berhubungan seks dengan orang selain pasangannya.
“Jika nggak mendapat kesempatan berhubungan seks dengan rekan kantor, tetangga di rumah, atau orang lain yang dikenal, bukan nggak mungkin dia melampiaskannya dengan pekerja seks,” tambah Oka.
Para nymphomania sangat agresif dan sering bereksplorasi dalam bercinta. Nggak jarang, tuh, saat mengeksplorasi tubuh pasangan, dia memberikan sentuhan yang liar tanpa malu-malu. Dia pun mengendalikan permainan dan menjadikan woman on top sebagai posisi bercinta favorit—meski nggak mutlak melakukan posisi ini tiap saat.
Trauma masa lalu
Faktor psikis merupakan salah satu penyebab utama seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, menderita hiperseks. Bisa jadi, tuh, dia pernah mengalami psikoseksual atau trauma yang terjadi pada masa kecil. Trauma ini dapat berasal dari lingkungan keluarga, lingkungan permainan, atau lingkungan sekolah.
Biasanya trauma berkaitan dengan kekerasan berupa pelecehan dan agresi seksual yang membuatnya merasa inferior. Sebagai bentuk pertahanan diri, dia pun mengatasinya dengan melakukan kebalikan dari yang dialaminya dulu, yaitu menguasai orang lain secara seksual.
Fisik juga dapat menjadi penyebab hiperseks, meski hanya ditemukan pada segelintir kasus. Umumnya, sih, ada gangguan atau cedera di area limbik atau lobus temporalis otak yang merupakan pusat kesenangan.
“Jika ada benturan atau cedera pasca operasi di area ini, dorongan seksual pun bisa meningkat,” ujar Oka.
Level dan paparan hormon testosteron yang berlebih juga berpengaruh. Baik pada laki-laki maupun perempuan, ini bisa terjadi paparan sejak dia masih di dalam kandungan. Akibatnya, hasrat seksual cenderung meningkat.
Bantuan ahli
Efek samping dari perilaku hiperseks lebih dirasakan pada diri penderita sendiri dan pasangannya. Yang harus diwaspadai adalah jika perilaku ini mengganggu rutinitas hariannya, seperti bolos masuk kerja demi memenuhi tuntutan seksualnya. Wah, kudu segera minta bantuan para ahli, tuh.
Memang, sih, penderita nymphomania sulit disembuhkan. Namun, ada upaya untuk mengurangi atau melatih keinginan seks yang besar, misalnya dengan menelusuri trauma seksual masa kecilnya. Dalam hal ini, tentulah seorang nymphomania mesti melakukan konseling dan terapi dengan ahli psikologi seksual.
Jangan ragu mengajak pasangan untuk konseling jika kita merasa dia hiperseks. Soalnya, nih, seorang hiperseks tidak menyadari dirinya mengalami gangguan seksual hingga orang lain memberitahunya. Jadi, komunikasi memegang peranan penting.
Jika dia merasa jenuh dengan pasangan, maka kita harus membicarakannya—bukan malah mencari orang lain untuk berhubungan seksual. Kejenuhan yang membuatnya jadi kecanduan ini dapat diatasi dengan mengubah penampilan, variasi rangsangan, hingga variasi posisi dan suasana.
“Kalau penderitanya benar-benar gelisah dan perlu penenang, dia akan diberikan obat antidepresan. Sedangkan untuk mengendalikan keinginan seksualnya yang tinggi, dokter akan memberikan major tranquillizers.” (f)
Topic
#kelainanseksual


