Sex & Relationship
Cinta Memang Bisa 'Membutakan'! Trik Melihat Hubungan Nyata Layak Dipertahankan

7 Jul 2016


Foto: Fotosearch

Saat jatuh cinta banyak orang akan bersikap tidak masuk akal. Ada yang PDA di media sosial, sebagian jadi royal memberikan hadiah atau kejutan kepada pasangan, sementara ada pula yang ‘menutup mata’ dari kenyataan hidup. Tipe terakhir ini digolongkan sebagai sosok naif sehingga mencegah kebahagiannya sendiri. Waspadai!
 
Love is blind?
Kita semua pasti mengenal istilah “cinta itu buta”. Cinta membuat kita melihat yang terbaik pada diri pasangan dan sering kali menepikan kekurangan si dia. Menurut psikolog Agatha N. Ardhiati, cinta yang membutakan, tuh, tergolong wajar di tahap awal.

“Rasanya, sih, semua orang yang pernah jatuh cinta akan mengalami masa-masa di mana perasaan jatuh cinta itu terkesan membutakan. Yang menjadi penting dan prioritas adalah perasaan jatuh cinta ini.”

Agatha bilang penyebabnya adalah pikiran dan perasaan yang nggak sinkron. Pada saat jatuh cinta, nih, pikiran dan logika cenderung berfungsi minimal. 

“Kita bisa seolah lupa pada kekurangan yang dimiliki oleh orang yang ditaksir. Mungkin lupa bahwa situasi nggak memungkinkan kita untuk jatuh cinta kepada dia. Seandainya ingat pun, kita memilih tidak mau memikirkannya. Tapi, ini terjadi pada mereka yang baru pacaran atau pdkt.”
 
Menyeleksi sendiri
Jika sudah lama berpacaran dan kita tetap memilih dibutakan oleh perasaan, ada kecenderungan kita menjalani hubungan dalam kacamata naif. Kita enggan menyadari fakta-fakta yang ‘memberatkan’ serta hanya memercayai hal-hal yang kita inginkan. Secara nggak sadar, nih, kita jadi membuat alasan-alasan untuk mempertahankan hubungan tersebut.

“Orang yang naif, misalnya, akan tetap percaya dan yakin banget bahwa pasangannya setia meskipun mendengar gosip pasangannya berselingkuh. Dia akan melanjutkan hubungan itu seperti nggak ada masalah apa-apa. Sebaliknya mereka yang tidak naif, kan, biasanya akan mencari tahu ‘benar atau tidak pasangannya selingkuh’. Misalnya bertanya langsung, mencari info dari teman-teman si pasangan, bahkan membaca di jejaring sosialnya dengan tujuan mencari kebenaran,” jelas Agatha.  

Agatha menambahkan bahwa konteks naif berbeda dari sikap defensif. “Defensif itu kalau kita sadar ada sesuatu yang nggak beres pada diri pasangan atau hubungan kita. Tapi kita selalu menjawab baik-baik saja ketika orang lain bertanya, padahal kita tahu banget hubungan kita sangat bermasalah.”
 
Cegah makan hati
Menjalani ‘hubungan sempurna’ dalam khayalan pada akhirnya hanya akan menyakiti diri sendiri. Kita memberi effort lebih untuk mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah tidak layak dipertahankan. Padahal, kalau mau mendengarkan intuisi dan orang lain, kita bisa mencegah sakit hati, kok.

“Agak sulit bagi kita yang naif untuk bisa sadar dan menerima fakta yang nggak menyenangkan. Soalnya pada dasarnya kita selalu percaya bahwa semua hal itu baik adanya. Oleh karena itu, kita butuh teman-teman untuk mengingatkan.”

Teman akan berfungsi untuk membeberkan fakta yang positif dan negatif kepada kita, tapi tidak berhak melarang atau mengatur.

“Jika sudah banyak teman yang bilang si dia punya ‘sejarah’ playboy, ya, seharusnya bisa menjadi pertimbangan kita. Teman dapat ‘melatih’ kita untuk berpikir dan melakukan pertimbangan, sampai akhirnya bisa mengambil keputusan sendiri,” tegas Agatha. (f) 
 


Topic

#masalahhubungan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?