
Foto: Fotosearch
Perpisahan dengan pasangan hidup sering kali menorehkan luka yang sulit disembuhkan. Namun, perubahan status tidak harus membuat hubungan pasangan yang telah bercerai menjadi renggang atau berubah menjadi musuh. Selebritas Hollywood Demi Moore dan Bruce Willis, yang pada tahun 1987-2000 menjadi pasangan suami-istri, bisa jadi salah satu contohnya. Di tanah air, tidak sedikit juga contoh kasusnya. Berikut ini kisah Kalina Oktarani, mantan istri Deddy Corbuzier.
***
Saya dan Mas Deddy Corbuzier sudah menikah selama delapan tahun (2005-2013) sebelum akhirnya berpisah. Masa pacaran kami pun cukup lama, yaitu empat tahun, Setelah bercerai, kami bahkan sempat masih tinggal satu rumah selama tiga bulan, walau tidak sekamar lagi.
Tadinya kami ingin tinggal bersama terus, tapi rasanya awkward. Bagaimanapun, kami bukan suami-istri lagi. Akhirnya saya putuskan untuk pindah rumah. Tapi, saya tidak mau egoistis dan menjauh dari anak kami, Azkanio Nikola Corbuzier, yang tinggal bersama Mas Deddy. Akhirnya, saya memilih rumah tak jauh dari rumah Mas Deddy. Dengan begitu, anak saya mudah untuk bertemu dengan saya.
Mungkin, bagi sebagian orang terasa aneh, tapi saya tidak ingin anak saya kekurangan kasih sayang. Saya tidak ingin anak saya mengalami pengalaman serupa seperti saya. Dulu, saat orang tua saya bercerai, saya kehilangan kasih sayang dari ayah secara tiba-tiba. Saya tidak mengerti mengapa kedua orang tua saya waktu itu tidak mau saling tegur. Rasanya iri melihat teman-teman yang memiliki keluarga utuh. Saya tidak ingin ini dialami Azka. Selain itu, saya tidak mau punya musuh.
Hubungan kami saat ini santai sekali, seperti adik-kakak. Sampai sekarang kami masih saling bicara dan bertukar pikiran tentang apa saja, dari topik anak, pekerjaan, hingga hubungan pribadi, seperti sedang dekat dengan siapa. Kami juga masih suka saling curhat jika ada masalah. Karena saya menganggap dia sebagai kakak, tidak ada yang saya tutupi dari Mas Deddy.
Melihat kedekatan kami, orang mungkin berpikir saya masih ‘macam-macam’ dengan Mas Deddy. Kami tahu menjaga batas, kok. Kami memang dekat, tapi dia bukan suami saya lagi. Enggak mungkin saya cium Mas Deddy lagi. Kalau bertemu paling banter hanya memeluk, itu pun pelukan sebagai sahabat atau saudara.
Jika ditanya, apakah saya masih sayang pada Mas Deddy, ya, saya sayang banget. Saya yakin dia juga begitu. Tapi, jika saat ini ditanya, apakah mau rujuk, jawabannya, kami sudah sangat nyaman dengan keadaan sekarang, dan kami tidak ingin kehilangan itu. Sekarang kami tidak pernah ribut, saling kesal, atau berantem lagi. Mungkin karena sekarang kami tidak ada rasa ingin memiliki lagi. Anak saya juga mengerti hal ini.
Pasangan kami masing-masing nantinya harus paham bahwa kami akan selalu dekat seperti ini. Jadi, penting bagi mereka untuk tidak cemburu dan mencurigai kami, karena itu hanya akan membuat capek hati. Kalau kami terkesan saling ingin tahu siapa pasangan baru kami, itu karena kami ingin melindungi anak kami. Saya harus tahu siapa yang akan jalan, bertemu, dan tinggal dengan anak saya nantinya, ‘kan? Saya tidak mau anak saya disakiti oleh siapa pun. (f)



