
Foto: Pixabay
Sudah saling tahu ‘mentahnya’ dan tak perlu lagi jaga image. Apalagi, sudah kenal betul dengan orang tua dan keluarga besarnya. Tapi, semua modal berharga itu bukan jaminan perkawinan dengan sahabat bakal selalu mulus. (Baca juga: 3 Keuntungan Menikah dengan Sahabat)
Karena, perkawinan tak sekadar masalah relationship, tapi juga melibatkan hak serta tanggung jawab moral dan materi antara suami-istri, baik yang bersifat individual maupun sosial. Apalagi bila sudah punya anak. Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan agar sahabat Anda juga bisa menjadi pendamping hidup yang baik?
1/ Respek
Boleh saja Anda tetap ber-lu-gue dengan suami, atau saling jitak-jitakan saat bercanda. Tapi, bila Anda berniat serius untuk menikah dengan sahabat, sikap respek terhadap satu sama lain merupakan hal yang wajib dimiliki. Untungnya, salah satu syarat langgengnya persahabatan adalah adanya rasa respek satu sama lain. Jadi, rasa respek itu sebetulnya sudah ada, tapi terkadang tak disadari atau tak dipelihara dengan baik.
2/ Kepercayaan
Semua akal bulus dan rahasia gelapnya sudah ada di kantong Anda. Ketika belum menikah, mungkin Anda akan cekikikan melihat bagaimana dia menyusun strategi agar kekasih dan selingkuhannya tak saling ketemu. Tapi, setelah dia menjadi suami Anda, mau tak mau Anda jadi kebat-kebit, ‘kan?
3/ Gairah
Menikah bukan sekadar hidup serumah, tapi juga satu tempat tidur. Tentunya sulit membayangkan Anda harus bercinta dengan sahabat yang selama ini merupakan teman jitak-jitakan. Padahal, sesungguhnya, sebuah persahabatan bisa langgeng justru karena adanya rasa sayang satu sama lain, meskipun terkadang hal itu tidak disadari. Namun, apakah rasa sayang ini bisa bertransformasi menjadi ketertarikan seksual atau tidak, alamlah yang akan menentukan.
4/ Rela berubah
Anda memang tak perlu menjadi orang lain di hadapannya. Sebaliknya, dia juga tak perlu meminta Anda berubah, karena selama ini, toh, Anda dan dia sudah merasa nyaman dengan keadaan masing-masing apa adanya.
Namun, bukan berarti perubahan tidak diperlukan sama sekali. Pasalnya, persahabatan dan perkawinan jelas merupakan dua ‘makhluk’ yang berbeda. Dalam perkawinan, ada tanggung jawab tertentu yang harus dipikul. Baik tanggung jawab sebagai istri atau suami, sebagai orang tua, sebagai menantu, maupun sebagai warga masyarakat. Karena itu, Anda tetap harus membuka diri bagi setiap perubahan dan penyesuaian --tentunya yang positif-- sesuai perkembangan kedewasaan Anda sebagai manusia.
Konsultan: Ira Puspitawati, Psikolog
Tina Savitri
Topic
#Pernikahan




