Sex & Relationship
4 Macam Disfungsi Seksual pada Wanita

25 Nov 2016


Foto: Fotosearch

Mendengar istilah disfungsi seksual, mungkin yang kepikiran adalah bahwa itu masalahnya laki-laki. Padahal, nih, perempuan juga bisa mengalaminya.
Menurut dr. Sylvia Detri Elvira, SpKJ, psikiater di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), disfungsi seksual adalah ketidakmampuan menikmati hubungan seks secara penuh. Gangguan ini bisa terjadi pada salah satu atau keseluruhan siklus bercinta yang normal.

“Di Amerika Serikat, sekitar 43% perempuan mengalami disfungsi seksual. Sedangkan penelitian yang dilakukan di RSCM pada tahun 2001 terhadap 560 responden perempuan sehat (bukan pasien), menunjukkan bahwa 15% mengalami disfungsi seksual. Namun baru 15% yang merasa perlu mendapat pertolongan.”

Bisa jadi, perempuan di Indonesia memang masih enggan mengakui bahwa dirinya mengalami disfungsi seksual. Maklum, pengaruh nilai budaya ketimuran membuat kita sebagai perempuan tidak ‘diizinkan’ mengekspresikan kebutuhan seksual. Padahal ini sebenarnya bisa menghambat pengobatan yang diperlukan.
 
Kenali gangguan
Disfungsi seksual pada perempuan secara garis besar terbagi menjadi empat macam. Yang pertama adalah gangguan gairah, yaitu berkurang atau hilangnya pikiran, khayalan, atau minat untuk bercinta. Ujung-ujungnya kita jadi malas bercinta dan selalu berusaha menghindar.
Kedua adalah gangguan perangsangan, yaitu ketika perempuan tidak bisa mempertahankan kenikmatan. Biasanya, sih, ditandai oleh kurangnya lubrikasi. Jika memaksakan diri untuk terus bercinta, bisa-bisa kita malah tidak nyaman bahkan kesakitan. Duh!

“Ada juga gangguan orgasme, yaitu sulit atau tidak bisa mencapai orgasme. Ini bisa saja terjadi walaupun telah ada rangsang seksual yang cukup,” kata dr. Sylvia.

Yang terakhir adalah gangguan nyeri seksual. Gangguan nyeri ini bisa terjadi saat penetrasi selama bercinta dan bisa dirasakan hingga usai bercinta.  Rasa sakit terjadi karena adanya kekejangan otot vagina hingga penis sulit masuk, atau bisa juga karena adanya infeksi pada vagina. Dan ternyata perempuan bisa mengalami satu atau bahkan beberapa jenis disfungsi seksual secara bersamaan!
 
Penyebab beragam
Seperti kita ketahui bersama, bercinta adalah aktivitas yang melibatkan begitu banyak faktor. Mulai dari kedekatan fisik, perasaan, kepercayaan, dan juga kasih sayang. Karena itu gangguan pada fungsi tubuh pun bisa ‘menciptakan’ disfungsi seksual.

“Faktor biologis seperti kondisi pascaoperasi daerah panggul, gangguan aliran darah, gangguan hormon, atau adanya penyakit pada organ reproduksi seperti endometriosis dan tumor rahim bisa membuat perempuan mengalami disfungsi seksual,” begitu dr. Sylvia menjelaskan.

Masalah body image juga punya andil. Saat kita tidak pede dengan kondisi tubuh yang (menurut kita) tidak sempurna, muncul kecemasan yang bisa berlanjut hingga keengganan bercinta.

Faktor selanjutnya adalah masalah chemistry dan komunikasi dengan si dia. Perbedaan sifat, kebiasaan, hingga pendangan terhadap hal-hal tertentu bisa menimbulkan jarak dalam bercinta. Alhasil, nih, kita perlahan menarik diri dan tidak mampu lagi menikmati kegiatan bercinta—ketakutan dan stres tiap kali diajak bercinta, hingga menimbulkan depresi.
 
Segera cari solusi
Kondisi psikis juga bisa sangat berpengaruh terhadap kehidupan seksual. Perempuan yang mengalami masalah psikologis di masa lalu seperti pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual bisa mengalami disfungsi seksual. Sering mendengar cerita malam pertama, tuh, pasti bikin sakit? Nah, kalau dipikirkan secara berlebihan, hal ini juga bisa mengakibatkan stres dan depresi yang berujung kepada disfungsi seksual.

Menurut dr. Sylvia, tiap jenis disfungsi memiliki jenis pengobatan yang berbeda pula. Dan yang tidak kalah penting, pengobatannya harus dilakukan secara bertahap karena memang butuh waktu.

Pemberian obat-obatan bisa dilakukan pada kasus disfungsi seksual yang melibatkan faktor biologis dan psikologis. Gangguan aliran darah pada pengidap diabetes, infeksi organ reproduksi, ketegangan berat pada Miss V adalah beberapa kasus yang memerlukan obat untuk mengatasinya. Bisa juga dilakukan psikoterapi secara individu untuk mengatasi ketegangan Miss V, yaitu dengan teknik relaksasi atau hipnoterapi. Cara pengobatan lainnya adalah dengan operasi untuk kasus yang melibatkan faktor organik seperti tumor pada leher rahim.
 
Jangan anggap sepele
Jika masalah utamanya adalah hubungan antara kita dan si dia, tentu terapinya harus dijalani berdua. Disfungsi seksual bisa mengubah hubungan suami istri menjadi persaingan dan dendam. Konseling pernikahan dan terapi seks bisa dilakukan untuk mengembalikan rasa cinta dalam pernikahan.

Terapi seks meliputi latihan untuk fokus pada sensasi dan rangsangan, edukasi soal anatomi dan fungsi organ seks, mengenali kondisi yang membantu kenyamanan bercinta, dan latihan komunikasi untuk mengatasi berbagai salah paham di antara kita dan si dia.
Kesulitan menikmati atau bahkan memulai kegiatan bercinta bisa mengakibatkan munculnya stres, perasaan tertekan, sedih, bersalah hingga putus asa karena tidak mampu menjalankan salah satu fungsi dalam pernikahan. Hal ini bakal bertambah parah jika si dia tidak memahami kondisi kita.

Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa mencari solusi, disfungsi seksual bisa menyebabkan retaknya hubungan kita dan si dia. Mencari pertolongan dari profesional tentu adalah jalan terbaik sebelum kondisinya semakin parah. Perbaiki juga komunikasi antarpasangan, jangan sampai si dia berpikiran ketidakmampuan kita menikmati bercinta adalah karena kita sudah tidak sayang lagi kepadanya. (f)
 
Baca juga:
Peka Terhadap Masalah Seksual
4 Masalah Seksual & Solusinya
Tekanan Darah Tinggi Menyebabkan Disfungsi Ereksi?



Wulan Kusumawardhani


Topic

#masalahseks

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?