Bookmark and Share


 
 

  Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 4)

 
 


MASUK ISTANA TANPA IZIN

Anies yang baru kelas 2 SMA, nekat menemui Presiden Soeharto dan Ny. Tien Soeharto tanpa izin. Ia berhasil, meski sebelumnya dimarahi habis-habisan.

KETUA OSIS SE-INDONESIA
Lulus SMP, Anies mendaftarkan diri ke SMA Negeri 2 Yogya. Lagi-lagi ia tak bisa lepas dari aktivitas organisasi di sekolah barunya itu. Beberapa bulan setelah ikut aktif di OSIS, ada pemilihan ketua OSIS yang baru. Saat itu ada empat calon ketua, satu orang dari kelas 1, dua orang dari kelas 2, dan seorang lagi dari kelas 3.

Anies, yang baru tiga bulan bersekolah di tempat itu, terpilih sebagai calon ketua yang diajukan dari kelas 1. Ia harus bertarung melawan tiga calon ketua dari kelas 2 dan 3. Pemilihan itu diselenggarakan secara langsung dan setiap calon ketua harus berpidato, mengajukan gagasan dan programnya masing-masing di hadapan seluruh siswa. ”Saya berhasil menjadi pemenangnya, dengan selisih kemenangan yang cukup besar,” ujarnya, tanpa maksud menyombong. ”Tetapi, kemenangan itu akhirnya dianulir oleh para guru dan pimpinan sekolah. Dalam sejarah sekolah itu, belum pernah ada anak kelas 1 menjadi ketua OSIS.”

Akhirnya diputuskan, pemenang urutan kedua adalah Novi, sis­wi kelas 2, yang menjadi ketua OSIS yang baru. Anies ditunjuk sebagai wakil ketua. ”Tahu tidak, saya tadi siang berjumpa mantan ketua OSIS itu di pesawat. Dia sekarang menjadi dosen di UGM,” kata Anies, sembari tertawa lepas.

September 1985, sebagai wakil ketua OSIS SMAN 2, Anies di­tunjuk oleh sekolah untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan di Jakarta. Acara ini sesungguhnya diperuntukkan bagi para ketua OSIS SMA dari seluruh Indonesia. Dari Yogya ada 10 delegasi, dan jumlah peserta dari seluruh Indonesia mencapai 300 orang yang diinapkan di sebuah hotel di Jakarta Selatan. Agar acara pelatihan berjalan lancar, maka ditunjuklah seorang ketua untuk memimpin acara itu. Hebatnya, meski Anies hanya sebagai wakil ketua OSIS dan masih kelas 1, ia terpilih sebagai ketua OSIS SMA se-Indonesia yang umumnya siswa kelas 2 dan 3.

Dalam forum inilah Anies merasa sikap kepemimpinannya benar-benar diuji. ”Bayangkan, di sini saya harus memimpin ratusan anak, yang hampir semua di antara mereka adalah anak-anak pilihan, yang semuanya merasa bahwa diri mereka adalah seorang pimpinan di sekolah mereka. Saya benar-benar diuji, sehingga saya harus banyak bernegosiasi, berbicara, persuasif, dan berbagai cara lain sehingga forum itu bisa berjalan dengan baik dan suasananya hidup!”

Pengalaman ini sangat berkesan pada diri Anies. Selain terpilih sebagai ketua, di tempat ini pula ia bertemu dengan Menteri Pendidikan, Prof. Dr. Fuad Hasan. ”Saya bangga sekali bisa bertemu dengan Pak Menteri,” paparnya, dengan wajah berbinar. ”Sebagai anak Yogya, orang pelosok, yang datang ke Jakarta dan bisa berjabat tangan dengan Pak Menteri, wah... saya seperti sedang mimpi. Foto dengan Pak Menteri itu saya bawa pulang ke Yogya dan saya ceritakan kepada semua orang, bahwa saya bertemu dan berjabat tangan dengan Pak Menteri yang ramah dan hangat itu.”

GEGAR BUDAYA SEPULANG DARI AS
Meski sangat sibuk berorganisasi, Anies masih berhasil naik ke kelas 2, tahun 1986. Seperti saat di SD maupun SMP, prestasi akademi Anies memang bukan yang terbaik, walaupun tetap di atas rata-rata. Namun, dengan kesukaannya membaca dan mempelajari bahasa Inggris, Anies berhasil terpilih menjadi peserta AFS, program pertukaran pelajar siswa Indonesia-Amerika, tahun 1987.

Selama satu tahun Anies tinggal di rumah sebuah keluarga di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Untuk mengikuti pemilihan tidaklah mudah, karena harus mengikuti berbagai tes. Dari Yogya hanya dua anak, yaitu Anies dan Rina, siswi SMA Muhammadiyah 1.

Tinggal di negara superpower itu, Anies mengaku mengalami gegar budaya yang sangat dahsyat. ”Saya mengalami gegar budaya yang luar biasa hebat. Jangankan ke Amerika, ke Jakarta saja saya masih terkagum-kagum. Kepergian saya ke Amerika itu membawa efek yang besar bagi kehidupan saya, dan membuka cakrawala yang sangat besar. Cara berpikir saya menjadi lebih global.”

Efeknya, Anies merasakan pergeseran yang luar biasa pada pemikiran-pemikirannya saat masuk kembali ke SMAN 2 tahun 1988. ”Saya merasakan banyak kejanggalan dan ketidakadilan di sekeliling saya! Mendadak muncul pemberontakan-pemberontakan. Di sekolah, saya merasakan banyak aturan yang tidak masuk akal, pelajaran membosankan, guru yang tidak mau diajak dialog, dan teman pun jarang yang sejalan.”

Beruntung Anies memiliki seorang ibu yang penuh pengertian. ”Ini adalah realitas dari Republik ini. Hiduplah dengan keadaan itu, dan perjuangkan agar terjadi perubahan. Tetapi, jangan sekali-kali nyempal. Jangan menarik diri!” kata sang ibu setiap kali putra sulungnya memprotes sesuatu di lingkungannya.

Aliyah sadar, putranya itu tengah mengalami guncangan pemikiran yang luar biasa. Ia berusaha menghadapi putranya itu dengan sikap keibuan. Kesibukannya sebagai Guru Besar Universitas Negeri Yogya, ia kurangi agar bisa lebih fokus menangani putranya.

”Banyak acara penting yang sengaja saya batalkan demi mendampingi Anies yang batinnya tengah bergolak. Ia tiba-tiba menjadi sangat tidak nyaman di lingkungannya sehingga ingin berontak. Mendadak ia benci pada sekolahnya, karena keadaan sekolahnya sangat berbeda dengan di Amerika. Syukurlah, Anies itu anaknya terbuka, sehingga semua permasalahan dia bicarakan dengan saya,” cerita Aliyah.

Rasyid menambahkan, anak sulungnya itu akan langsung melawan kalau diperlakukan tidak adil. Suatu hari, ia membuat SIM ke kantor polisi. Saat ia harus membayar dokter, blanko formulir, dan berbagai persyaratan lain, ia tidak berontak karena semua itu disertai dengan kuitansi. Tetapi, ketika akan mengambil SIM yang sudah jadi, tiba-tiba ia diharuskan memasukkan uang ke kotak oleh petugas di situ. Anies menolak karena petugas itu tidak mau memberikan kuitansi. Dia diancam tidak akan mendapatkan SIM.

Anies tidak mau diperlakukan tidak adil seperti itu. Ia meng­hadap komandan bagian pembuatan SIM, dan melaporkan tindakan petugas itu. Apa yang terjadi? Sang komandan bukan hanya menerima pengaduan Anies, tetapi juga mengambilkan SIM-nya.

DIMARAHI STAF PRESIDEN
’Kekayaan’ Anies meningkat lagi ketika bulan Januari 1989 TVRI Yogya pimpinan Ishadi SK membuat acara yang bernama Tanah Merdeka. Acara ini merekrut anak-anak muda di Yogya untuk mewawancarai tokoh-tokoh nasional. Anies termasuk salah satunya. Dari sinilah kekayaan batin Anies dari hari ke hari terus bertambah. Selain meningkatkan diri di bidang ilmu jurnalistik, Anies juga bisa banyak belajar dari kehidupan orang-orang besar.

Satu per satu tokoh nasional ia datangi dan ia wawancarai. Antara lain, Sultan Hamengku Buwono IX, Tien Soeharto, Sudomo, WS Rendra, Emil Salim, Taufiq Ismail, dan masih banyak lagi. Namun, tidak semua program berjalan mulus. Suatu hari Anies bersama teman-temannya ’kena batunya’. Ketika Presiden Soeharto meresmikan Muktamar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Krapyak di Yogya, Anies bersama timnya bermaksud mewawancarai. Tanpa sepengetahuan pimpinan, mereka berangkat dengan mobil TVRI Yogya, dilengkapi kamera, menuju ke Gedung Agung tempat Presiden Soeharto dan para menteri menginap, lewat pintu belakang istana. Karena mobil itu berlogo TVRI Yogya, meski belum ada janji, mereka boleh masuk.

Namun, apa yang terjadi? Begitu mendatangi kepala rumah tangga kepresidenan dan memohon izin untuk bisa mewawancarai Presiden Soeharto, Anies dan teman-temannya dimarahi habis-habisan. ”Apa-apaan ini? Tidak ada wawancara dengan Presiden!” kata staf kepresidenan itu penuh kemarahan. Tetapi, dengan sikap tenang, Anies dan teman-temannya memberikan pengertian kepada pejabat tersebut. Setelah berdialog hampir satu jam, pejabat tersebut akhirnya bisa mengerti. ”Saya janjikan kalian bisa wawancara dengan Pak Harto, tetapi tidak sekarang,” katanya.

Malam itu mereka kemudian dipertemukan dengan Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, tetapi hanya sekadar bertegur sapa. ”Sekarang Bapak capai. Nanti kapan-kapan di Jakarta saja, ya, Anak-Anak...,” kata Ibu Tien, ramah. Meski demikian, Anies bersama teman-temannya tidak pulang dengan tangan hampa. ”Sekarang, kalau kalian ingin wawancara dengan pejabat siapa pun, saya akan bawa kemari. Silakan mau pilih menteri siapa,” lanjut kepala rumah tangga kepresidenan itu.

Dalam waktu hampir bersamaan, Laksamana (Pur) Sudomo, saat itu menjabat sebagai Menteri Koperasi, melintas di tempat duduk mereka. Anies pun spontan meminta tolong kepada kepala rumah tangga kepresidenan untuk bisa mewawancarai mantan Pangkopkamtib (Panglima Komando Pemulihan Ketertiban dan Keamanan) yang sangat disegani itu. ”Dom... Dom, iki bocah-bocah soko TVRI Yogya pengin ketemu awakmu (ini anak-anak TVRI Yogya ingin bertemu kamu)!”

Saat ia bersama timnya dari Yogya berangkat ke Jakarta, Presiden Soeharto ternyata tengah berada di luar kota. Kepala rumah tangga kepresidenan kemudian menawari Anies untuk mewawancarai Ibu Tien Soeharto. Anies setuju. ”Saat Ibu Tien wafat, rekaman wawancara saya itulah yang berulang kali diputar ulang di TVRI Pusat Jakarta. Rupanya, tidak ada wawancara lain yang cukup panjang,” kenangnya.

Bersambung

Serial Terkait :

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian I)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 2)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 3)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 5)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 6)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :