
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|

| |
Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 3)

|
|
| |
MASUK ISTANA TANPA IZIN
Anies yang baru kelas 2 SMA, nekat menemui Presiden Soeharto dan Ny. Tien Soeharto tanpa izin. Ia berhasil, meski sebelumnya dimarahi habis-habisan.
Saat duduk di bangku SMP, Anies bersama Anjang dan tiga orang temannya pernah membuat panik orang sekampung. Mereka dikira sudah tewas, tenggelam di Selokan Mataram, sungai yang dibuat oleh Hamengku Buwono IX di zaman penjajahan Jepang untuk menjaga rakyatnya agar tidak dipaksa sebagai romusa.
Pagi-pagi sekali, beberapa hari setelah Lebaran, Anies pamit akan mengarungi sungai yang terletak di sebelah utara kampus UGM Yogya, yang menghubungkan Sungai Progo dengan Sungai Opak. Mereka akan berlayar dari Jalan Kaliurang sampai di dekat Candi Prambanan (perbatasan Klaten-Yogya). Tetapi, hingga sore rombongan anak-anak yang menggunakan perahu rakitan batang pisang itu ternyata belum juga pulang. Banyak orang akhirnya berspekulasi, anak-anak itu sudah tenggelam.
Keluarga mereka tentu sangat cemas, termasuk orang tua Anies. Meski sudah pamit, kedua orang tua Anies tidak mengira kalau sampai selarut itu Anies belum juga pulang. Adik Anies, Ridwan, disuruh untuk mencari kakaknya dengan dibonceng sepeda motor pamannya. Bersama anggota keluarga anak-anak yang lain, mereka menyusuri sepanjang sungai. Ternyata, Anies dan teman-temannya masih berada di sungai di dekat Candi Prambanan. Suatu petualangan yang cukup jauh dan sangat melelahkan!
’HOBI’ MELAYAT PEJUANG Kalau saja Anies bersama teman-temannya benar-benar tenggelam di sungai itu, selain kedua orang tua, adik-adik, dan keluarga besarnya, ada lagi keluarga yang sangat berduka, yaitu keluarga besar siswa, guru, dan karyawan SMP Negeri 5 Yogya. Sebagai Ketua Seksi Pengabdian Masyarakat, salah satu tugas Anies adalah mengabarkan dan mengumpulkan dana kalau ada anggota keluarga dari siswa, guru, atau karyawan di sekolah itu yang sakit atau meninggal.
Setiap kali ada yang mendapat musibah, Anies langsung mendatangi kelas demi kelas di sekolah itu. Selain mengumumkan adanya musibah ke seluruh kelas (ada 30 kelas), ia juga mengedarkan kotak amal untuk mengumpulkan dana. Setelah itu, ia memimpin teman-temannya mendatangi keluarga yang sedang terkena musibah untuk menyampaikan rasa dukacita dan sumbangan. Secara struktural, jabatan itu seolah tidak penting dalam organisasi siswa sekolah. Tetapi, pada pelaksanaannya, justru seksi inilah yang paling aktif.
Tanggung jawab yang diemban Anies dengan baik ini telah berhasil menempa diri Anies menjadi lebih dewasa dibanding usia yang sebenarnya. Sebagai anak usia 13 tahun, ia harus berbicara di kelas di depan guru dan puluhan siswa. Setelah itu, ia harus mewakili sekolah untuk menyampaikan rasa dukacita dan sekaligus sumbangan.
Semua siswa dan guru di SMP 5 itu akhirnya mengenal Anies. Saat duduk di bangku kelas 2, ia terpilih sebagai Ketua Panitia Tutup Tahun SMP Negeri 5. Acara yang diselenggarakan di Gedung Purna Budaya ini diadakan secara besar-besaran dan megah. Untuk menyukseskan acara itu, ia harus melibatkan banyak personel. ”Alhamdulillah, acara ini ternyata bisa berjalan dengan sukses,” katanya.
Setelah dewasa, Anies baru menyadari, betapa besar manfaat kegiatan di masa remaja itu bagi kehidupannya saat ini. Selain menjadi lancar berbicara di depan banyak orang, ia makin peka setiap kali ada kabar kematian. Saat Sultan Hamengku Buwono IX meninggal, ratusan ribu pelayat memenuhi alun-alun utara Yogya. Tetapi, Anies ingin sekali melayat dan bisa memasuki Sitihinggil, tempat jenazah orang nomor satu di Yogya itu disemayamkan.
Bersama Ridwan, Anies berusaha menjebol barikade lautan manusia yang meluber di seluruh alun-alun sampai kantor pos. Anies mengekor di belakang Ridwan yang bertubuh lebih besar, yang terus meringsek masuk. Usahanya tidak sia-sia. Anies dan Ridwan berhasil sampai di Sitihinggil, meski dengan sangat susah payah. Perjalanan dari kantor pos menuju Sitihinggil yang hanya berjarak sekitar dua kilometer, harus ditempuh selama lebih dari empat jam! ”Hati saya plong, bisa ikut menyalatkan almarhum.”
’Hobi’ melayat para tokoh pejuang ini menjadi kebiasaannya hingga kini, meski ia sendiri secara pribadi tidak mengenal tokoh itu maupun keluarganya. ”Mungkin, karena saya sangat hobi membaca biografi, saya memiliki rasa hormat pada para pejuang. Jadi, kalau mereka pulang ke pangkuan Ilahi, saya merasa harus mengantar,” tuturnya, tulus. ”Saat Kiai Ali Maksum, pimpinan Pondok Pesantren Krapyak, meninggal dunia, saya jalan kaki cukup jauh dari Krapyak sampai ke tempat pemakamannya di Jalan Bantul, Yogyakarta.”
Dan, setiap kali Anies menghadiri pemakaman para tokoh itu, ia seakan sedang menyaksikan betapa besar akumulasi pahala para tokoh itu. ”Kalau dia tidak banyak berbuat untuk tanah air, bangsa, atau agamanya, mana mungkin kepulangan mereka diantar begitu banyak orang?”
BELAJAR KELUHURAN BUDI DARI SANG AYAH
Seperti anak-anak yang lain, semasa bocah, Anies juga banyak bermain. Sepulang sekolah, Anies tidak langsung pulang ke rumah. Bersama teman-temannya, ia sering kali mengadakan penjelajahan, yaitu bersepeda menuju tempat-tempat baru. Tempat-tempat itu umumnya daerah pedesaan yang masih seperti hutan, yang terkadang masih ada ular maupun binatang buas lain. ”Karena, saya sangat terkesan pada film Tarzan,” ujarnya, tersenyum.
Saat kelas 2 SMP, Anies sempat ditangkap polisi lalu lintas karena melanggar rambu lalu lintas saat mengendarai sepeda motor. Repotnya lagi, ia belum mempunyai SIM (surat izin mengemudi). ”Mak nyes... begitu perasaan saya ketika polisi menyetop. Saya tegang dan ketakutan luar biasa, karena seumur-umur saya tidak pernah melanggar aturan dan berurusan dengan polisi,” katanya, polos.
Anies dibawa ke Kantor Polisi Gondomanan. Sepeda motornya disuruh ditinggalkan di situ, dan ia pulang naik becak. Dengan penuh rasa berdosa, ia melaporkan semua kejadian tersebut kepada ayahnya. Di luar dugaan, sang ayah sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kemarahan. ”Oya, ada apa?” kata ayahnya, datar saja menanggapi persoalan tersebut.
Esoknya, Anies diajak ke kantor polisi oleh ayahnya. Di kantor polisi, ayahnya langsung masuk, sementara Anies disuruh duduk menunggu di ruang depan. Ayahnya keluar dari ruang kantor itu dengan membawa STNK dan membawa pulang motor Vespa itu. Anies terkesan sekali pada sikap ayahnya itu. ”Saya sadar, saya melakukan kesalahan. Tetapi, saya tidak dimarahi, malah justru dibela. Di sinilah saya merasa, betapa Abah sangat menyayangi dan melindungi kami, anak-anaknya!”
Sikap itulah yang membuat Anies makin hormat, segan, dan tunduk kepada ayahnya. Baginya, hukuman tanpa hukuman itu justru membuatnya makin takut untuk berbuat kesalahan. Tetapi, entah kenapa, nasib sial itu kembali menghampiri Anies di jalanan.
Saat kelas 3 SMP, ia mengendarai Vespa-nya di Jalan Kaliurang, berboncengan dengan Anjang. Ia tahu, beberapa meter di depannya ada seseorang naik sepeda, sehingga ia pun berusaha mengambil posisi lebih ke kanan. Tetapi, ketika motor Anies tepat berada di kanan sepeda itu, mendadak sekali pengendara sepeda iseng membelak-belokkan alat kemudinya.
Karena kecepatannya agak tinggi, Anies tak sempat lagi menghindar dari pengendara sepeda yang sedang bermain-main di jalanan itu. Tabrakan keras pun tak terhindarkan. Pengendara sepeda terpelanting dan pingsan, sementara Anies terjatuh dan menderita luka-luka, tangannya bengkak dan tak bisa digerakkan.
Lagi-lagi Anies menemukan keluhuran budi ayah-bundanya. Saat menjenguk Anies maupun pengendara sepeda itu di RS Sardjito, sikap ayahnya tetap saja sangat menyejukkan. Ayah-ibunya sama sekali tidak panik dan tidak membicarakan masalah tabrakan itu. Mereka hanya menanyakan apakah Anies pusing, telinganya keluar darah atau tidak, dan bagian mana saja dari tubuh Anies yang sakit. ”Saat saya melakukan dua kesalahan yang sangat fatal, ngebut dan menabrak orang sampai pingsan, Abah sama sekali tidak memarahi saya sedikit pun!”
Bersambung
Serial Terkait :

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian I)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 2)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 4)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 5)

» Anies Baswedan Intelektual Indonesia Kelas Dunia (Bagian 6)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|