Bookmark and Share


 
 

  Andi Mallarangeng,
penerus gen politik keluarga (Bagian 2)

 
 


ANTO KECIL INGIN JADI PRIA MACHO

Meski tak suka berkelahi, ia tak mengelak bila ditantang berkelahi. Soalnya, bukan pria Bugis namanya kalau tak berani berantem.

KAKAK TELADAN
Saat ayahnya meninggal, usia Anto baru 8 tahun, Charlie 7 tahun, Choel 5 tahun, Andi Nina Mayasari Mallarangeng Antar, 2 tahun, dan si bungsu, Andi Zulfikar Mallarangeng (almarhum), baru 3 bulan. Saat itu Anto sudah duduk di kelas 4 SD. Ia memang masuk sekolah lebih cepat. Usia 3 tahun, ia sudah bisa membaca dan berhitung, sehingga sudah bisa masuk TK. Umur 5 tahun ia sudah duduk di kelas 1 SD.

Di Makassar, sepeninggal Andi, Asni dan kelima anaknya tinggal di rumah ayah Asni, Andi Patoppoi, mantan bupati Grobokan, Jawa Tengah. Asni mengajukan pensiun dini sebagai pegawai pemda, lalu berwiraswasta. Berbagai usaha dia lakukan, mulai dari menjadi kontraktor, pemasok barang, hingga berdagang. Bisnisnya ternyata lumayan berhasil, sehingga ia terpilih sebagai Ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) wilayah Sulawesi Selatan.

Andi Patoppoi lantas mengambil posisi sebagai pengganti ayah bagi anak-anak Asni. ”Saya sangat berterima kasih kepada Ayah karena mau ikut membimbing anak-anak saya,” papar Asni. Anto sendiri mengenang sang kakek sebagai pria yang sangat berdisiplin dan keras. ”Selesai makan malam, persis pada pukul 7, kami semua harus belajar hingga pukul 9. Kakek sendiri yang menunggui. Selama jam belajar itu, teve dan radio di rumah harus dimatikan.”

Namun, hampir setiap hari Minggu atau hari-hari libur lain, Kakek Patoppoi juga senang mengajak cucu-cucunya berlibur dan berburu jonga (kijang) atau burung di hutan. ”Di bawah bimbingan Ayah, anak-anak saya tidak ada yang bermasalah. Mereka tahu kapan harus bermain, kapan harus pulang, dan kapan harus belajar. Saya hanya berusaha memberi motivasi agar mereka menggantungkan cita-cita setinggi langit dan bintang,’” tutur Asni.

Anto merasa sangat beruntung memiliki ibu yang tangguh. ”Saat ditinggal Ayah, usia Mama masih sangat muda. Namun, Mama punya jiwa kepemimpinan yang hebat,” puji Anto. Sebaliknya, Asni juga sangat bersyukur mempunyai anak sulung seperti Anto. Selain mampu membimbing keempat adiknya, Anto juga dikenal sebagai anak penurut. ”Berbeda dari Charlie yang badung dan pemberontak, Anto anak yang manis, tenang, dan lurus,” tutur nenek dari 10 cucu ini. Di mata Asni, Anto memiliki pemikiran matang, pembawaannya kalem, dan tidak ambisius. Meski mengaku bukan penakut, sebagai anak laki-laki, ia bahkan tak pernah berkelahi. Urusan berantem biasanya ditangani oleh Charlie, si ’preman’ keluarga. Ia hanya tidak mau mengerjakan sesuatu yang tidak ada gunanya. “Namun, jangan sekali-kali menghalangi kemauannya, karena dia pasti akan melawan. Dia akan sangat marah kalau ada yang memotong pembicaraannya sebelum ia selesai ngomong,” kata Asni.

Sebagai orang Bugis, Asni tergolong cukup moderat. Seperti dirinya yang dulu bersekolah di SMA Katolik di Semarang, ia pun menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Katolik. Asni menyekolahkan mereka ke SD dan SMP Katolik di Makassar yang semua muridnya laki-laki. Sejak masuk ke ‘sekolah laki-laki’ itulah, persoalan fisik menjadi penting. ”Di sekolah seperti itu, siapa yang berbadan paling besar, merekalah yang berkuasa,” kenang Anto.

Sebagai ningrat bergelar Andi, keluarga besar Anto masih dianggap elite di Makassar. Ia pun menyadari bahwa anak-anak seperti dirinya akan menjadi sasaran empuk pemerasan para ‘jagoan’ di sekolah. Apalagi, Anto termasuk bertubuh mungil, sudah yatim pula. Kendati begitu, ia tak sudi dijadikan ‘sapi perah’ begitu saja. ”Kalau dijailin siapa pun, pasti akan saya lawan,” katanya.

Menyadari bahwa ia pasti akan kalah berantem melawan mereka, Anto pun mengatur strategi. Caranya, begitu mereka datang mengancamnya, Anto lantas menggiring pengancamnya ke lokasi yang ramai. Lebih bagus lagi ke area sekolah. Begitu ada yang mulai memukul, Anto pun melawan sekadarnya. ”Tapi, saya yakin perkelahian itu tidak akan berlangsung lama, karena pasti akan ada yang mele­rai,” ujar Anto, tertawa berderai.

Kepala agak benjol sedikit, tak apa,yang penting, mereka jadi tahu bahwa Anto tidak bisa digertak. Sayangnya, sampai di rumah, ia justru dimarahi kakeknya. “Kenapa dipukuli kau tidak melawan? Kalau kau dipukul, kau juga harus balas pukul!” hardik sang kakek.

Beruntung pada saat-saat seperti itu biasanya Charlie sedang tidak ada di rumah. Kalau ada, pasti dia akan langsung mencari anak-anak itu dan balas menghajar mereka untuk kakaknya. Charlie lebih temperamental, nekat, dan pemberani. Apalagi, karena hanya beda usia setahun, otomatis teman-teman Anto juga teman-teman Charlie.
Lantas, apa kata Charlie tentang kakaknya? Dalam wawancara terpisah, ia berkomentar, ”Kakak saya itu memang punya karakter khusus. Sejak kecil, sifatnya baik, lurus, agamanya bagus, dan –untuk ukuran pria Bugis-- dia tidak gampang emosi. Urusan nakal-nakalan dan berantem-beranteman, nah, itu baru bagian saya, ha...ha...ha....”

Namun, Anto justru merasa gerah dipuji setinggi langit seperti itu. Ia mengaku dirinya tidak sealim seperti yang digambarkan ibu dan adiknya. ”Saat SMP, saya juga sering berkelahi, kok. Kalau ada anak yang menantang berkelahi, pasti saya ladeni. Tapi, kalau anak itu lebih muda dari saya, biasanya saya serahkan kepada Charlie,” papar Anto, terkekeh.

PARTNER IN CRIME
Karena sering ‘dikipasi’ oleh kakek dan adik laki-lakinya yang badung, Anto memang lantas berusaha mengubah image-nya. Meski bertubuh paling mini, ia tergolong anak pemberani. Namun, ia menambahkan, kenakalannya pada waktu itu tak ada apa-apanya dibandingkan kenakalan anak-anak zaman sekarang. Tak ada minuman keras, apalagi narkoba. “Kenakalan kami paling hanya sebatas membolos sekolah atau pergi dari rumah tanpa pamit, biasanya bersama Charlie,” tambahnya.

Meski keduanya berbeda karakter, kedua kakak beradik ini kompak. Tak jarang, dalam berbagai kesempatan, ke­duanya menjadi partner in crime. Sebagai contoh, suatu hari Asni ditelepon oleh sahabatnya di Pare-Pare, yang mengabarkan bahwa ia baru saja bertemu dengan Anto dan Charlie bersama teman-temannya sedang berjalan kaki menuju ke kota Malino, yang jaraknya sekitar 75 kilometer dari Makassar. Saat itu Anto baru kelas 6 SD dan Charlie kelas 4. Masing-masing menggendong ransel dan menjinjing perbekalan.

Panik, Asni langsung lari ke mobilnya dan tancap gas mengejar anak-anak itu. Beruntung, setelah berkendara selama hampir tiga jam, ia berhasil menyusul. Saat itu, Anto dan Charlie serta rombongannya tengah mandi-mandi di sungai, tidak jauh dari Malino. Saat itu juga Asni langsung membawa keduanya pulang ke Makassar. ”Mereka menangis dan menolak dipaksa pulang,” kenang Asni, geli.

Sejak lulus SD, entah kapan belajarnya dan siapa yang mengajari, keduanya sudah mahir naik motor. Akhirnya, ketika keduanya duduk di bangku SMP, Asni terpaksa membelikan mereka sepeda motor. Celakanya, sejak punya motor itu pula, keduanya --terutama Charlie-- jadi sering bolos sekolah dan ramai-ramai bermotor ke luar kota, tanpa tujuan yang jelas.

Selanjutnya, keduanya juga tahu-tahu sudah mahir menyetir mobil. “Suatu hari, saya melihat mereka membawa mobil Impala milik ayah saya berkeliling kota, dan setelah itu, diam-diam diparkir kembali di tempatnya semula. Dikiranya tak ada yang melihat,” ujar Asni, geleng-geleng kepala.

Kedua pemuda remaja itu memang punya cara tersendiri untuk meraih identitas macho. Saat itu, remaja laki-laki di daerah Marisso --tempat mereka tinggal-- baru pantas disebut laki-laki kalau bisa menonton PSM (Persatuan Sepakbola Makassar) di Stadion Matoangin tanpa membeli tiket alias jadi penonton gelap. Kebetulan, stadion kebanggaan warga Sulawesi Selatan ini tidak jauh dari rumah kakeknya.

Cara masuknya juga tak boleh lewat pintu masuk resmi, tapi harus memanjat pipa talang air. Tingginya sekitar lima-enam meter dan setiap talang dijaga dua satpam yang membawa pentungan beraliran listrik.

Menurut Anto, kalau hanya memanjat talang air, tidaklah sulit. ”Yang paling sulit justru mengelabui penjaganya. Dan, ini tidak mudah, karena masing-masing menjaga di atas dan di bawah. Kalau sampai tertangkap, wah, alamat kami kena pentung sekaligus kena setrum, dan sakitnya bukan main. Saya sempat merasakannya sekali, tapi kami tidak kapok. Soalnya, kami tidak ingin disebut banci oleh teman-teman. Akhirnya saya berhasil juga memanjat talang itu tanpa kena pentung. Ini artinya, sejak itu saya merasa benar-benar jadi laki-laki!” katanya, terkekeh.


Bersambung

Serial Terkait :

» Andi Mallarangeng,
penerus gen politik keluarga (Bagian 1)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 3)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 4)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 5)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 6)


» Andi Mallarangeng,
Penerus Gen Politik Keluarga (Bagian 7)




Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :