
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|

| |
Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 5)

|
|
| |
MENYERAHKAN TAHTA PADA PENERUS
Belakangan Putri baru tahu, ibunya ternyata membuat kamar-kamar di dalam hatinya. Itu yang membuatnya tak pernah terbelenggu masalah.
Saat bertemu Soedibyo, usia Mooryati sudah 28 tahun. Pada zaman itu, ia sudah tergolong perawan tua. Kedua kakaknya menikah pada usia di bawah 20 tahun. Tapi, bukan karena itu maka ia menerima lamaran pemuda desa tersebut. Banyak sisi positif yang ia temukan pada diri Soedibyo. Selain lucu, sikapnya juga matang, terbuka, cerdas, dan jantan. “Saya membutuhkan suami yang bisa saya teladani. Dia pantas menjadi suami saya! ujar Mooryati, tanpa ragu.
Sejak merasa cintanya disambut oleh Mooryati, sejak itu pula Soedibyo rajin menyambangi rumah sang buah hati di Yogya. Usai menyelesaikan studinya di bidang teknologi tekstil di India dan Amerika Serikat, Soedibyo bersama temannya, Ir. Safiun, merintis berdirinya Institut Teknik Industri Tekstil Bandung, sekolah tinggi teknik industri tekstil pertama di Indonesia.
Setiap hari libur, Soedibyo meluangkan waktu menjenguk kekasihnya, naik kereta api dari Bandung ke Yogya. “Meskipun dia wong ndeso, pemikirannya sangat maju dan orangnya sangat romantis. Dia pintar membuat saya merasa tersanjung, kenang Mooryati. Mungkin memang jodoh, keduanya menikah pada 8 April 1956.
MENDIRIKAN MUSTIKA RATU
Beberapa hari setelah menikah, Mooryati diboyong sang suami ke Bandung, dan seminggu kemudian lanjut ke Medan. Sejak sebelum menikah, Soedibyo sudah diangkat sebagai Kepala Kantor Wilayah Departemen Perindustrian Provinsi Sumatra Utara dan Aceh. Berpacaran satu tahun, ternyata banyak hal tentang suaminya yang belum diketahui oleh Mooryati. Sejak menikah, Mooryati yang semasa gadis gemar berolahraga dan berdansa, akhirnya harus ikhlas melepaskan semua hobinya itu, meski Soedibyo tak pernah melarang. “Dasarnya dia memang tidak suka olah raga, apalagi berdansa. Ada saja alasannya untuk mengelak ajakan saya. Dan, karena malas melakukannya sendirian, saya pun menyerah.
Tapi, ada satu hal yang membuat Mooryati terkaget-kaget saat menyaksikan keseharian suaminya. Soalnya, sebagai putri keraton, sejak kecil ia dididik untuk menjaga etika kesopanan dan kelembutan. Sementara, Soedibyo terbiasa melakukan segala sesuatu dengan cepat. Sampai-sampai makan pun cepat sekali, sehingga saya tidak bisa mengikuti, papar Mooryati, tertawa.
“Padahal, gaya makan seperti itu di keraton dianggap tabu! Orang Jawa bilang, saru. Tapi, karena saya selalu makan bareng suami, lama-kelamaan saya jadi terbawa juga. Sekarang, saya kalau makan juga cepat sekali. Saya jadi suka malu kalau makan bersama para relasi. Mereka mungkin membatin, ‘Putri keraton, kok, makannya byayakan (seperti tergesa-gesa).’ Ha...ha...ha....
Sampai saat itu, Mooryati tidak pernah bermimpi akan menjadi seorang pedagang, apalagi pengusaha besar. Sebagai istri pejabat tertinggi di lingkungan Departemen Perindustrian di Medan dan Aceh, awalnya ia hanya ingin menularkan pengetahuan tentang obat-obatan dan ramuan kecantikan tradisional kepada para istri anak buah suaminya. Saya mengajari mereka membuat jamu-jamu tradisional, merias pengantin, dan menari tradisional Jawa, tutur Mooryati, mengenang.
Semula, ia hanya ingin menjaga nilai-nilai luhur peninggalan nenek moyangnya, dan syukur-syukur juga bisa meningkatkan pendapatan bagi para wanita peserta pelatihan. Tapi, siapa sangka, niatnya itu kelak ikut menentukan jalan hidupnya. Kalau nyatanya banyak orang suka jamu dan kosmetik tradisional, kenapa saya tidak mencoba mengembangkan usaha ini? Mungkin, sejak itulah Mooryati mulai terpikir untuk menjadi pengusaha.
Niat itu makin mengental saat ia dan keluarganya pindah ke Jakarta, sekitar tahun 1968, mengikuti suami yang dipindahtugaskan ke Jakarta. Saat itu, banyak ibu-ibu yang kagum melihat wajahnya yang cantik, tubuhnya yang singset, kulitnya yang kuning mulus, dan tampak awet muda meski sudah punya anak lima.
Ibu minum jamu apa, to? Kok, kelihatan cantik terus dan awet muda? Itulah pertanyaan yang sering mampir ke telinga Mooryati. Ia pun menjelaskan bahwa ia hanya rajin minum jamu beras kencur yang dibuatnya sendiri setiap hari. Dari situlah ia mulai sering mendapat pesanan untuk membuatkan jamu beras kencur. Dan, berkat berbagai pujian dan kalimat penyemangat dari teman-temannya, akhirnya Mooryati nekat memulai usaha jamu di garasi rumahnya, pada 1973.
Itulah yang menjadi cikal bakal PT Mustika Ratu Tbk, yang kini sudah melahirkan sejumlah anak perusahaan, antara lain: Taman Sari Royal Heritage Spa, PT Mustika Ratu Centre, PT Mustika Princess Hotel, PT Mustika Ratu, Sdn, Bhd, PT Mustika Ratu Buana International, dan PT Mustika Ratu Investama.
SEMPAT HANCUR
Karena makin lama produksi jamunya makin banyak, Mooryati membeli mesin pembungkus dan alat produksi dari Taiwan. Dengan jumlah tenaga dan peralatan yang kian lengkap, bukan saja produksinya makin lancar, kemasannya pun jadi lebih rapi.
Tapi, persoalan lain muncul. Saya diprotes suami, keluhnya. Dengan pekerja dan peralatan yang terus bertambah, rumah saya jadi sangat sumpek. Suami saya mengeluh, karena keluarga kami jadi tak punya privasi lagi. Ia pun meminta agar saya segera memindahkan tempat usaha.
Apa boleh buat, Mooryati terpaksa secepatnya mencari tempat usaha baru. Namun, tak urung ia pusing tujuh keliling. Selain tidak mudah mencari tempat baru, ia juga khawatir uangnya tidak cukup untuk membeli tanah sesuai harapannya. Ia pun segera berburu tanah, sampai akhirnya ia menemukan sebidang tanah yang cukup ideal di daerah Ciracas, Bogor. Tapi, bagaimana mungkin ia bisa membeli tanah seluas hampir satu hektar itu?
Ia pun mengintip jumlah tabungannya di bank. Ia mengaku, selama itu nyaris tak pernah menghitung hasil keuntungannya. Saya sadar, saya bukanlah ahli keuangan. Karena itu, uang hasil penjualan jamu semuanya langsung saya masukkan ke bank.
Mooryati sama sekali tidak mengira kalau uang simpanannya di bank selama hampir lima tahun itu ternyata lebih dari cukup untuk melunasi tanah di Ciracas itu. Bahkan, pada 1981, ia berhasil membangun tiga pabrik modern sekaligus.
Saya berhasil membangun pabrik yang mampu menyerap tenaga kerja ribuan orang, tanpa sepeser pun memakai uang suami maupun pinjaman dari bank, papar Mooryati, bangga. Suami saya sampai bingung, bagaimana saya bisa mempunyai uang sebanyak itu. Demi Allah! Jangankan dia, saya sendiri juga nggumun (heran), ujarnya dengan tawa berderai.
Dengan berdirinya pabrik ini, Mooryati tercatat sebagai pengusaha pertama di Indonesia yang membuat modernisasi di industri jamu dan kosmetik tradisional. Kini, perusahaan yang dirintis 35 tahun lalu itu, menjadi perusahaan kosmetik tradisional Indonesia pertama dan satu-satunya yang terdaftar di pasar modal. Dengan bendera PT Mustika Ratu, ayunan langkahnya pun makin panjang dan jauh. Selain menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja, perusahaan ini juga ikut memberi keuntungan bagi para petani penanam bahan baku, penjaja jamu gendong, industri salon, tata rias, dan masih banyak lagi.
Ia pun aktif membimbing koperasi jamu, para penjaja jamu gendong, dan para petani pemasok bahan baku pabriknya. Selain itu, kini ia juga sudah menyiapkan lahan seluas 10 ha di daerah Citeureup, Bogor, sebagai kebun penyangga.
Di mata Putri Kuswisnu Wardani, penyebab utama keberhasilan itu menyatu pada diri ibunya. Selain selalu menikmati pekerjaannya, mau bekerja keras, dan sangat tekun, masih banyak faktor lain dalam diri Mooryati yang tanpa disadari telah menjadi pilar keberhasilan Mustika Ratu. Salah satunya, kemampuan Ibu mengelola emosi. Tidak banyak orang memiliki kemampuan seperti itu, ujar Putri, kagum.
Menurut Putri, ibunya tidak pernah berlebihan meluapkan kesedihan ataupun kemarahannya, apalagi sampai out of control. Kalau marah, Ibu langsung melepaskannya saat itu juga dan tidak pernah disimpan lama-lama. Tapi, 5 menit kemudian, Ibu sudah lupa. Ibu juga tidak mudah larut dalam kesedihan.
Seingat Putri, selama hidupnya ia baru dua kali melihat ibunya sangat bersedih. Salah satunya, saat ayahnya wafat, pada 1998. Ketika Bapak meninggal, kami semua berpikir, Ibu tidak mungkin hanyut dan larut dalam kesedihan, papar Putri.
Kami semua tahu, Ibu sangat tough, perkasa, dan powerful. Karena itu, ketika melihat Ibu sangat down sepeninggal Bapak, ini sungguh di luar dugaan kami semua. Apalagi, kondisi itu berlangsung cukup lama. Seumur hidup, kami belum pernah melihat Ibu sesedih dan sehancur itu. Saat itu, kami baru menyadari bahwa Ibu tetaplah manusia biasa.
Saat itu Putri dan keempat saudaranya baru menyadari bahwa keperkasaan ibunya selama ini ternyata bertumpu pada ayah mereka. Selama ini mereka melihat Soedibyo sebagai ayah yang jenaka dan sangat kebapakan. Soedibyo tidak pernah menghalangi istrinya beraktivitas, termasuk saat Mooryati berusaha membesarkan Mustika Ratu.
Bapaklah yang menjadi pendorong utama semangat Ibu, tegas Putri. Berkembangnya Mustika Ratu tidak lepas dari kebesaran jiwa Bapak, meski Bapak lebih banyak berperan di belakang layar, kenang Putri.
Bersambung
Serial Terkait :

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 1)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 2)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 3)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 4)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 6)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|