
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|

| |
Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 3)

|
|
| |
GADIS KERATON BERJIWA PEMBERONTAK
Ternyata, tidak mudah menjadi putri keraton. Selain aktivitas harian yang padat, mereka juga wajib mengikuti berbagai ritual yang tidak ringan.
Paduan darah pesisir Jepara dan Keraton Surakarta dalam diri Mooryati ternyata membuahkan pribadi yang unik. Tutur kata dan tingkah lakunya lembut, tapi karakternya keras hati. Tak heran bila di satu saat ia bisa menjadi gadis penurut, tapi di saat lain ia memberontak (mbalelo) pada kemapanan.
Putri Mbalelo
Mooryati adalah putri nomor tiga dari lima bersaudara. Ayahnya, Kanjeng Raden Mas Tumenggung Ario Poernomo Hadiningrat, adalah putra dari Bupati Demak, K.PA. Hadiningrat, yang merupakan saudara sepupu pejuang wanita R.A. Kartini. Seperti umumnya orang pesisir, ayahnya memiliki watak keras, lugas, terbuka, gesit, dan penuh semangat perjuangan.
Sementara ibunya, Gusti Raden Ayu Kussalbiyah, adalah putri Pakoe Boewono (PB) X, Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang dikenal memiliki sifat halus, anggun, tertutup, dan penuh pertimbangan. Dua paduan darah itulah yang menjadikan Mooryati sebagai wanita anggun, lemah lembut, tapi sekaligus juga terampil, energik, keras hati, dan sedikit mbalelo (pemberontak).
Menurut cerita yang didengar Mooryati dari ibundanya, bukan semata paduan darah itu yang membuat dirinya berwatak demikian. Konon, saat Kussalbiyah mengandung anak ketiga, Ario Poernomo, suaminya, sangat berharap anak yang bakal lahir adalah laki-laki. Karena, kedua anaknya terdahulu perempuan, yaitu B.R.A. Moortinah Siswadi Hadiningrat dan B.R.A. Moortini Notosubianto. Nyatanya, bayi yang lahir Minggu Pon, 5 Januari 1928, di Villa Seneng, Pesanggrahan PB X, lagi-lagi perempuan.
Saat dukun bayi melaporkan kepada Ario Poernomo bahwa bayinya lahir dengan selamat dan berkelamin perempuan, sang ayah hanya berkomentar, ”Ooo….” Wajahnya datar saja, bahkan agak kecewa. Setelah itu, ia bergegas meninggalkan ruang persalinan.
Mooryati yang masih bayi itu dibawa pindah ke Brebes, Jawa Tengah, tempat Ario Poernomo menjabat bupati. ”Ketika menjadi bupati, Romo masih perjaka dan baru 27 tahun. Beliau merupakan bupati termuda saat itu,” tutur Mooryati tentang ayahnya yang ia panggil Romo. ”Karier beliau termasuk melejit. Biasanya seseorang diangkat jadi bupati setelah sebelumnya menjadi mantri polisi, lalu camat, kemudian wedana, dan baru menjadi bupati. Karena prestasinya sebagai mantri polisi sangat bagus, Romo langsung diangkat jadi bupati.”
Tapi, Mooryati tak lama tinggal bersama kedua orang tuanya. Sebagai cucu seorang raja yang masih berkuasa, dia pun harus menjalani kehidupan sebagai putri keraton. Memasuki usia tiga tahun, dia diasuh oleh neneknya, Eyang Tranggono, dan tinggal di Ruang Keputren Keraton Surakarta. Ke mana pun pergi, Mooryati kecil harus selalu dikawal oleh satu-dua orang mbok emban, pengasuh dan sekaligus pengawalnya. Selain bersama kedua kakaknya, Moortinah dan Moortini, di ruang keputren ini juga tinggal anak-anak dan cucu-cucu perempuan dari selir Sunan Pakubuwono X yang lain.
Paduan darah pesisir dan keraton itu akhirnya menjadikan Mooryati yang masih bocah itu tumbuh dengan pribadi yang unik. Pendidikan sopan santun dan kelembutan ala putri keraton yang dijejalkan setiap hari, ternyata tidak mampu seutuhnya membentuk Mooryati menjadi wanita yang feminin dan gemulai.
Tidak seperti umumnya putri keraton, sewaktu kecil ia sangat hobi memanjat pohon mangga, lalu mengambil buahnya yang masih mentah. Ia juga hobi ngebut naik sepeda dan sengaja meninggalkan mbok emban-nya. ”Saya beberapa kali terjatuh, tapi tidak pernah kapok,” kenangnya, sembari tertawa renyah.
Namun, bila di keraton ada acara pisowanan (menghadap raja), mios (raja keluar di pendopo) untuk menyambut hari-hari besar atau menyambut tamu, semua keluarga kerajaan dan abdi dalem harus mengenakan baju kebesaran masing-masing, termasuk Mooryati. Walaupun saat itu masih bocah, ia harus mengenakan baju sabukwolo, yaitu balutan kain limaran sampai sedada yang dilengkapi sengkelat (penutup ikat pinggang yang dibuat dari bahan laken halus) dan janur slepe (kepala ikat pinggang). Tapi, namanya anak-anak, meski memakai baju seperti itu, ia tetap saja rajin berlarian ke sana kemari. Akibatnya, ”Baju saya pernah sampai terlepas semua, ha...ha...ha....”
Gadis Gaul
Ketika usianya menginjak lima tahun, Mooryati dimasukkan ke Sekolah Taman Kanak-Kanak Pamardi Siwi yang masih di dalam wilayah keraton. Sekolah ini hanya dikhususkan bagi keluarga keraton, yaitu putra-putri keturunan keluarga kerajaan dan para abdi dalem, serta karyawan keraton. Selesai TK, Mooryati dimasukkan ke SD Pamardi Putri, tapi tak sampai tamat.
Ayahnya yang mengharapkan Mooryati bisa berbahasa Belanda, lalu memasukkan putrinya ke Europeshe Lagere School, sekolah setingkat SD, yang dikhususkan bagi keluarga Belanda, baik keluarga asli Belanda maupun Indo Belanda, dan Cina. Sejak itu, sepulang sekolah, ia harus mengikuti berbagai kegiatan dengan jadwal yang ketat. Setiap pukul 7 pagi, Mooryati sudah harus tiba di sekolah, dan sekitar pukul 13.30 tiba kembali di keputren.
Setelah makan dan istirahat sebentar, ia harus berangkat lagi untuk belajar mengaji, mengikuti les bahasa asing (Inggris dan Prancis), atau berlatih tarian kebesaran keraton. “Semua putri keraton harus bisa menarikan semua jenis tarian kebesaran keraton, semisal Bedoyo dan Srimpi,” ia mengenang. Ia juga diwajibkan mempelajari tembang-tembang mocopat, wulang reh, dan berbagai karya sastra tinggi berbahasa Sanskerta.
Bagi Mooryati, kenangan ini merupakan kebanggaan tersendiri, lebih-lebih ketika pentas, yang menyaksikan adalah para pembesar dan petinggi Belanda atau Jepang (saat itu masih masa penjajahan). Uniknya, meski tomboi dan cenderung galak, ternyata ia juga senang merias diri. Dan, karena saat itu belum ada alat-alat make up, putri-putri keraton itu pun hanya berdandan dengan kosmetik tradisional.
Bedak menggunakan tepung beras, masker dari parutan bengkuang, dan luluran dengan campuran saripati beras, kunyit, daun pandan, dan temugiring. Untuk perawatan rambut, mereka mencuci rambut dengan bubuk merang yang dibakar, serta conditioner dari air asam. Setiap kali keraton menyelenggarakan pesta, ia tidak hanya sibuk sebagai penari, tapi juga sebagai juru rias. “Sejak remaja, saya sudah tertarik pada bidang tata rias,” paparnya. Mungkin, pada masa-masa itulah ia mulai menyelami rahasia jamu-jamuan tradisional sekaligus seni tata rias.
Meski berstatus cucu, Mooryati dan saudara-saudaranya tak bisa bertemu kakek mereka tiap saat. Mereka hanya bisa bertemu sang nenek, Ratu Mas, permaisuri Raja PB X. Saat-saat tertentu, ia bersama putri-putri selir lain, para cucu, dan para mbok emban marak (bersama-sama menghadap) ke rumah keputren Ratu Mas.
”Pulangnya, kami semua selalu dikasih uang. Anak-anak dan cucu-cucu mendapat seketip, para nyai satu bil, dan para mbok emban satu sen. Saat itu nilai uang masih tinggi sekali. Seingat saya, satu ketip atau seratus sen sama nilainya dengan sepersepuluh gulden, dan sudah bisa dibelikan sepeda. Uang itu sebagian saya tabung dan sebagian lagi untuk bekal sekolah.”
Sebagai gadis ABG yang sedang genit-genitnya, Mooryati juga ingin tampil sebagai gadis yang gaul. Ia tahu teman-teman sekolahnya di ELS banyak yang pintar bermain musik dan berdansa. Karena itu, dua kali seminggu ia belajar bermain piano pada seorang musisi kenamaan di Solo, bernama Bono Tjamsi.
Memasuki masa remaja, ia tidak hanya berkutat dengan tari-tarian tradisional saja. Setiap malam Minggu atau hari libur, ia bersama saudara-saudaranya pergi ke Ndalem Cokrokusuman. Nyonya Gusti Cokrokusumo, penghuni rumah itu, ternyata cukup modern. Melihat putri-putri keraton itu setiap malam Minggu berkumpul di rumahnya, ia pun mengundang guru dansa. Sejak itu, Mooryati dan para gadis berdarah biru itu mulai mengenal dansa dan berbagai tarian modern lain. Belakangan, mereka bahkan mengikuti berbagai lomba dansa di kota Solo dan sekitarnya.
Di lapangan tenis, kelembutannya sebagai gadis keraton mendadak sirna ketika raket tenis berada di tangannya. Bermain mix-double dengan Miraldi (juara tenis Solo saat itu), Mooryati memenangkan berbagai pertandingan di Solo. Kepiawaiannya membuat ia dipercaya oleh pengurus PELTI (Persatuan Tenis Lapangan Indonesia) Solo untuk berlaga di berbagai kejuaraan tingkat lokal maupun nasional.
Bersama Miraldi dan sejumlah petenis terbaik Solo, ia bahkan pernah dikirim oleh PELTI Solo untuk mengikuti Kejuaraan Tenis Tingkat Nasional di Makassar. Meski tak berhasil meraih kemenangan, Mooryati merasa bangga telah ikut menyemarakkan kejuaraan tenis tingkat nasional.
Sebagai wanita zaman itu, Mooryati harus mengenal urusan dapur. “Saya mengikuti les masak, agar kalau menjadi istri sudah bisa memasak,” ujarnya. Guru les masaknya pun bukan orang sembarangan. Dia adalah Nyonya Wironegoro, istri seorang bupati di Solo.
Bersambung
Serial Terkait :

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 1)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 2)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 4)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 5)

» Semangat Energizer Mooryati Soedibyo (Bagian 6)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|