
|

|

|

|

|
|

|



|
|
|

| |
BONDAN WINARNO: PELOPOR WISATA KULINER (Bagian 2)

|
|
| |
Di sekolah, ia dikenal sebagai si galak dan serius. Padahal, di rumah, salah satu tugasnya adalah membantu ibunya memasak di dapur.
TERPIKAT SAMBAL BAJAK BUATAN IBU
CINTA DITOLAK, CINTA BERSAMBUT
Waktu berjalan terus. Menjelang lulus SMA, Bondan mengutarakan keinginannya masuk ke fakultas sastra, namun dilarang ibunya. “Mau makan apa kamu kalau menjadi sastrawan? Lebih baik menjadi insinyur atau dokter,” begitu komentar ibunya. Bondan mengaku, ia akhirnya memenuhi keinginan ibunya karena didorong rasa takut kepada orang tua, sekaligus karena rasa sayang dan hormat.
Meskipun kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro, Semarang, Bondan tetap tak bisa menahan keinginannya untuk mempelajari ilmu jurnalistik. Ia pun mendaftar dan merangkap kuliah di Akademi Publisistik Universitas Dipanegara. Di sela-sela masa sibuknya menuntut ilmu, Bondan kembali jatuh cinta. Kali ini kepada seorang wanita Jawa. Wanita itu pun tampaknya menunjukkan perasaan yang sama.
Sampai pada suatu waktu, Bondan akhirnya mengetahui bahwa wanita itu ternyata sudah memilih pria lain, namun ia takut menyakiti hati Bondan. Padahal, justru sikap tidak terbuka itulah yang sangat melukai hati Bondan. “Sejak itu saya bertekad tak akan pernah jatuh cinta lagi pada wanita Jawa,” kata Bondan, kalem.
Hidupnya memang sempat bersinggungan dengan kegagalan. Selain kegagalan cinta, ia juga mengalami kegagalan studi. Bondan tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya, baik sebagai arsitek maupun sebagai wartawan. Namun, mencari uang tampaknya bukan hal yang sulit baginya. Sejak masih sekolah, Bondan telah pandai mencari uang. Antara lain, dengan menjadi ‘tukang foto’. Sebagai mahasiswa drop out, Bondan lalu meneruskan kuliah di Fakultas Publisistik Universitas Prof. Dr. Mustopo, Jakarta. Ia pun mengikuti berbagai kursus dan pelatihan berbagai keahlian, mulai dari periklanan, pemasaran, manajemen, keuangan, jurnalisme, penerbitan, bahkan produksi film.
Di usia 25, Bondan sudah berhasil menjadi manajer kreatif di sebuah perusahaan periklanan. Di tempat itulah, ia bertemu Yvonne Raket (kini 64 tahun), yang kelak menjadi jodohnya. Status wanita berdarah Belanda dan Bugis yang saat itu menjadi manajer akunting, adalah janda dengan dua anak, Marisol (42) dan Eliseo (41). “Padahal, saat itu saya tak berpikir akan menikah lagi. Kecuali bila ada seorang pria yang mencintai anak-anak saya melebihi cintanya kepada saya,” jelas Yvonne, yang berusia tujuh tahun lebih tua dari Bondan.
Syarat itu memang dipenuhi oleh Bondan. Namun, kisah cinta keduanya ditentang habis oleh ibu Bondan. Antara lain karena beda kewarganegaraan dan status Yvonne. “Menikahi Yvonne berarti saya harus meninggalkan Ibu. Tetapi, saya rutin mengirim surat dan uang kepada Ibu di Semarang,” ucap Bondan yang bersusah payah membeli rumah untuk keluarga barunya.
Untunglah, kemarahan ibunya itu luluh bersama kelahiran Gwendoline Amanda Wirastari (31). Lahirnya Gwen juga membuat Bondan bersikap lebih hati-hati. Ia ingin tetap bersikap adil kepada ketiga anaknya, meski kini ia sudah punya seorang anak kandung.
Saking berhati-hatinya, justru Gwen-lah yang sering diperlakukan berbeda. “Saya ingat, ketika kecil, sepulang dari luar negeri, hadiah dari Papa untuk saya sering kali tidak berarti, cuma makanan atau permen. Tetapi, untuk Marisol, selalu gaun atau sepatu. Saat itu, saya pikir karena Marisol lebih cantik,” kata Gwen yang berwajah mirip Bondan. Namun, seiring berjalannya waktu, Bondan mulai memperlakukan Gwen dengan adil.
KISAH MARISOL, ELISEO & GWEN
Bondan memang mampu menciptakan keluarga yang bahagia. Yvonne mengatakan, dia selalu didandani Bondan. “Ia memilihkan baju untuk saya, bahkan jam tangan. Menurut Bondan, saya harus memiliki beberapa jam tangan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan baju yang saya kenakan,” kata Yvonne, tertawa senang.
Yvonne mengakui, keduanya memang tak jarang terlibat perang mulut. Namun, biasanya itu akan berakhir secepat munculnya. Perbedaan usia juga tak menjadi penghalang. “Kecuali, dia memang sering bersikap sok tahu karena merasa lebih berpengalaman,” kata Bondan enteng, sambil tertawa menggoda.
Namun, Bondan mengakui, menjaga cintanya kepada Yvonne bukanlah hal yang mudah. “Jujur saja, saya bertemu dengan beberapa wanita yang membuat saya terpesona. Namun, saya senantiasa menempatkan komitmen di atas cinta,” lanjut Bondan. Gwen berkomentar, sesekali ayahnya masih suka bermanja-manja pada Yvonne. Di saat keluarga berkumpul di akhir pekan, dan Bondan mulai mengantuk, ia akan menunggu Yvonne untuk menemaninya tidur.
Kepada anak-anaknya, meskipun amat disiplin, Bondan juga kerap bersikap romantis. Ia tak pernah lupa memberi ucapan dan hadiah di hari Valentine dan ulang tahun semua anggota keluarganya. Hebatnya, Bondan selalu memberi hadiah yang tepat, atau yang sedang diinginkan istri atau anak-anaknya. “Papa juga selalu memasak untuk kami. Biasanya aneka jenis pasta, atau hasil coba-coba dari pengalamannya mencicipi masakan di suatu tempat yang berkesan. Meskipun bukan koki, hasilnya selalu enak,” ujar Gwen, yang kini berprofesi sebagai konsultan fashion.
Ritual makan memang menjadi acara penting bagi Bondan sekeluarga. Tak jarang mereka makan di berbagai tempat. Bondan memang ingin selalu mencoba berbagai makanan, karena ia tak pernah berprasangka buruk pada makanan. “Kami sampai terbiasa mencoba makanan apa pun karena ajaran Papa,” ucap Gwen.
Kebersamaan keluarga memang diutamakan Bondan. Ia mengakui tak pernah membedakan rasa cintanya pada anak. Suatu hari, ketulusannya ini sempat membuatnya terluka. Bahkan, peristiwa itu dianggapnya paling gelap dalam hidupnya, karena teramat menyakitkan.
“Saat itu memang saya tidak menyetujui hubungan Marisol dengan kekasihnya. Lalu, kekasihnya itu memfitnah bahwa saya menaruh rasa cinta pada Marisol. Sayangnya, saat itu Marisol sempat hampir percaya,” ungkap Bondan Akhirnya, setelah dijelaskan oleh Bondan dan Yvonne, Marisol mengerti. Apalagi, ada kenyataan lain yang membuat Marisol tidak jadi menikah dengan kekasihnya.
Kisah dengan Seo lain lagi. Saat itu Seo mencintai seorang gadis. Demi kebahagiaan Seo, Bondan mengajak gadis itu ke Amerika (ketika itu Bondan sekeluarga tinggal di Amerika), dan memberi pinjaman untuk biaya sekolah. Sayangnya, ketika kembali ke Jakarta, gadis itu memilih menikah dengan pria lain. Saat itu, Bondan mengaku ikut merasakan kepedihan yang sama besar dengan Seo.
Rengekan Gwen yang ngotot ingin sekolah ke Amerika, akhirnya membuat Bondan mencoba jadi pengusaha. “Meskipun saat itu saya sudah menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah, mustahil rasanya gaji saya bisa membiayai Gwen sekolah di Amerika,” kata Bondan.
Siapa sangka, di tahun 1987, kesempatan menjadi pengusaha terbuka begitu saja. Ia diminta oleh pengusaha muda, Sutrisno Bachir, untuk menemani kakaknya, Kamaludin Bachir, melakukan transaksi bisnis di Jepang. Bisnisnya adalah memasarkan udang beku.
Ketika proses negosiasi berlangsung, Bondan merasa pihaknya ditekan. Ia lalu berusaha mencari pembeli lain, dan akhirnya mendapat harga yang lebih bagus. Sejak itulah ia diminta bekerja paruh waktu di perusahaan milik keluarga Bachir itu. Sampai akhirnya Bondan memutuskan bekerja full time di perusahaan tersebut, dan ditugaskan mengepalai cabang perusahaan di Amerika.
Mereka sekeluarga pindah ke Amerika, dan tinggal beberapa tahun di sana. “Ada kesamaan antara menjadi wartawan dan pengusaha. Wartawan mencari informasi untuk bahan tulisan, sedangkan pengusaha mencari informasi sebagai bahan utama merespons pasar,” ucap pria yang menghargai ketepatan waktu ini.
Bondan pun menyadari, bisnis ternyata tidak cocok untuknya. “Saya tahu bisnis itu keras, tetapi saya tak tahu bahwa bisnis itu juga kasar,” kata Bondan. Namun, Gwen tidak ikut diboyong pulang.
“Ia boleh tetap bersekolah di Amerika, dengan syarat, jika mendapat nilai C, ia harus kembali ke Indonesia. Kalau mendapat nilai B semua, mobilnya ditarik,” kata Bondan. Karena tak mau putus sekolah dan mobilnya ditarik, Gwen bekerja keras dan berhasil menyelesaikan pendidikannya di bidang marketing dengan nilai yang memuaskan.
Masalah kembali timbul ketika Gwen jatuh cinta kepada seseorang. Sayang, pria pilihannya itu tak disetujui Bondan untuk beberapa alasan. Gwen bersikeras, begitu pula Bondan. “Saat itu kami sama-sama terluka,” ucap Gwen, mengenang.
“Waktu itu, saya mengultimatum Gwen, dia memilih kekasihnya atau saya. Ternyata, bukan saya yang dia pilih. Saya harus menghadapi kenyataan itu. Namun, saya mengatakan, jika omongan saya kelak terbukti benar, Gwen boleh kembali kepada saya, tanpa penjelasan apa pun,” ungkap Bondan.
Tak sampai empat tahun kemudian, Gwen kembali ke pelukan Bondan, membawa serta anak perempuannya. “Saya memeluk dan menerimanya kembali. Dan, seperti janji saya, saya tidak pernah bertanya apa yang terjadi pada rumah tangganya. Sampai saat ini,” ungkap Bondan, lirih.
Bersambung
Serial Terkait :

» BONDAN WINARNO: PELOPOR WISATA KULINER (Bagian 1)

» BONDAN WINARNO: PELOPOR WISATA KULINER (Bagian 3)

» BONDAN WINARNO: PELOPOR WISATA KULINER (Bagian 4)


|
|
|

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
|
|
|