Bookmark and Share


 
 

  PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 5)

 
 


BANGKIT DARI TITIK NOL

Trauma berkepanjangan pada diri istrinya, sempat membuat Ari nyaris gagal menjalani rehabilitasi ketergantungannya pada putaw.

Cerita cinta Ari Lasso dan Vitta Dessy Catur Purnama bagaikan kisah dalam novel. Ada keindahan, ketegangan, kecurigaan, kesangsian, tawa, juga tangis. Kadang-kadang terkesan drama­tis, tragis, dan tak jarang sangat kekanak-kanakan. Vitta memang memiliki trauma tersendiri, yang membuatnya sulit percaya pada pria mana pun. Kondisi inilah yang nyaris menggagalkan upaya pe­­nyembuhan Ari dari ketergantungannya pada putaw.

CINTA DALAM SELITER ES KRIM
Peristiwa itu terjadi di bulan April 1995. Sebagai mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Surabaya, pagi itu Vitta kebingungan mencari tempat pembayaran uang kuliahnya. Di saat celingak-celinguk di depan Kantor Bagian Administrasi, tiba-tiba ia didatangi seorang pemuda gondrong yang mengaku sebagai seniornya di FE. Dengan ramah pemuda itu mengantarnya ke tempat tujuan. Namun, setelah usai membayar, pemuda itu tetap membuntutinya.

Dua hari setelah itu, pemuda gondrong itu tahu-tahu sudah muncul di rumahnya, di daerah Darmo Permai, mengenakan T-shirt berwarna hijau butut dan bercelana jeans kumal. Nekat, memang. Selain kedua orang tua Vitta berprofesi sebagai dosen, saat itu Vitta juga sudah punya kekasih yang tengah belajar di Australia.

Kalau sedang pulang ke tanah air, sang kekasih selalu datang ke rumah Vitta mengendarai mobil mewah, sementara pemuda itu hanya mengendarai sepeda motor Honda GL-Pro. ”Motor itu sampai sekarang masih ada dan tetap dirawat dengan baik di Surabaya. Benda kenangan yang tidak mungkin akan kami lupakan...,” papar Vitta, tersenyum.

Lucunya, meski nama Dewa 19 sudah sangat terkenal di tanah air, Vitta mengaku tidak begitu mengenal band itu maupun vokalisnya. ”Makanya, meski orang-orang di rumah heboh karena saya kedatang­an tamu seorang Ari Lasso, penyanyi terkenal, saya, sih, biasa-biasa saja, he...he...he...,” Vitta mengenang.

Tak hanya Vitta yang masih punya pacar. Ari pun sebenarnya tidak sedang jomblo. Tapi, entah kenapa, sejak bertemu gadis cantik berkulit kuning langsat dan bermata indah itu, ia langsung bertekuk lutut. Pu­tri keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan Taufik Hadi dan Ruswiati Suryosaputra ini seakan terus menempel di pelupuk ma­tanya. Sejak pertemuan pertama di kampus, ia kasak-kusuk mencari alamat rumah gadis itu. Beruntung, senyum manis Vitta terus mengu­lum sejak ia datang ke rumahnya hingga pamit pulang.

Dua hari kemudian, Ari datang lagi dengan membawa seliter es krim. “Saking keasyikan ngobrol, tahu-tahu sudah pukul 9 malam. Dan, tanpa disadari, seliter es krim yang dia bawa sudah ludes. Dari pembicaraannya, terlihat sekali kalau Ari sangat hobi membaca. Meski saya juga hobi baca, bacaan saya tidak sebanyak dia,” ujar Vitta, kagum.

BERJUANG MENAKLUKKAN HATI ORANG TUA
Pada awalnya, Vitta hanya sekadar senang bergaul dengan Ari. ”Tapi, lama-kelamaan, kok, ada perasaan klik. ‘Nah, ini dia jodoh saya!’ Meski lahir dari keluarga yang cukup berada, ia mendapatkan rupiah demi rupiah dari keringatnya sendiri. Dia juga sangat cool, periang, dan menyenangkan. Dia bisa membuat saya tertawa sekaligus terlindungi,” ujar Vitta, ekspresif.

Di pihak lain, Ari makin tertarik pada Vitta, justru karena gadis itu bukan fans-nya. ”Saya tidak ingin cinta yang hanya karena kekagum­an sesaat, bukan karena saya seorang penyanyi atau public figure. Kalau hanya berdasarkan kekaguman, saya khawatir cintanya tidak akan langgeng,” Ari menimpali.

Awalnya, Vitta tidak tahu bahwa Ari adalah pecandu putaw. ”Tapi, ketika akhirnya saya tahu, saya sudah telanjur mencintainya,” Vitta berterus terang. Masa pacaran itu makin terasa mengasyikkan ketika Ari pindah ke Jakarta. Pertemuan yang hanya sesekali itu justru memunculkan keindahan dan kerinduan tersendiri.

Sampai sejauh itu, kedua orang tua mereka tampak tenang-te­nang saja. Tapi, ketika mereka menyatakan ingin menikah, barulah hambatan itu mulai muncul. Maklum, keduanya berbeda keyakinan. Yang paling menentang adalah kedua orang tua Vitta. Apalagi, mereka akhirnya tahu juga bahwa Ari adalah pecandu narkoba. ”Tapi, kami sudah saling cinta banget, rasanya tidak mungkin bisa dipisahkan lagi. Apa boleh buat, meski bebannya sangat berat, kami ngotot melanjutkan hubungan.”

Berbagai usaha sudah mereka lakukan berdua, tapi sejauh itu belum membuahkan hasil. Sikap Vitta jelas. Ia tidak ingin menikah dengan lelaki mana pun, kecuali Ari. Namun, ia juga tidak akan menikah kalau kedua orang tuanya tidak merestui.

Meski Ari terus menunjukkan kesungguhannya, orang tua Vitta bersikukuh tak merestui. Bahkan, ketika Ari datang melamar pun tetap ditolak. Kedua muda-mudi yang dimabuk asmara itu pun akhir­nya mengambil jalan pintas. Hasilnya, mudah ditebak, Vitta hamil.

Kali ini, barulah kedua orang tua Vitta mengalah dan akhirnya merestui perkawinan Vitta dengan Ari. Itu pun ketika usia kehamil-an putrinya sudah delapan bulan. Pada 4 Februari 1999, pasangan muda ini akhirnya dinikahkan oleh Pendeta Ratna di GKJW (Ge­reja Kristen Jawi Wetan) Waru, Surabaya.

Sebulan kemudian (12 Maret 1999), anak pertama mereka, Aura Maharani, lahir. ”Saya dan Ari sepakat, hal ini tidak akan pernah kami tutup-tutupi, termasuk kepada Aura kelak, karena semua ini kami lakukan dengan penuh kesadaran,” ujar Vitta, tersenyum.

BANGKIT PELAN-PELAN
Sehari sebelum istrinya melahirkan, Ari mendapat telepon dari Iin, bos Aquarius Musikindo Record. ”Ri, mau tidak kamu duet bersama Melly Goeslaw?” tanya Iin. Ditodong pertanyaan seperti itu, ia malah kebingungan. ”Apa saya bisa cocok berduet dengan Melly?” Ari justru balik bertanya. Belakangan, ia mengakui, pada masa-masa itu rasa percaya dirinya sedang benar-benar anjlok.

Ari pun berangkat ke Jakarta untuk rekaman bersama Melly. Tapi, lagi-lagi Iin dibuat sport jantung. Soalnya, baru pukul 7 malam Ari tiba di kantor Aquarius, padahal seharusnya pagi atau siang. Iin memberi uang sekadarnya untuk makan dan naik taksi, lalu Ari berangkat ke studio rekaman. Pada saat yang sama, Iin menelepon Melly, yang sudah sejak sore menunggu kedatangan Ari di studio. Ia mengabarkan bahwa Ari sudah datang dan sedang menuju ke studio.

Apa yang terjadi? Sampai detik-detik terakhir jadwal rekaman pukul 10 malam, Ari belum juga datang. Seharusnya perjalanan dari kantor Aquarius hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Dengan gusar, Melly menelepon Iin, ”Kita jadi rekaman nggak, sih?”

Iin tentu saja sangat marah melihat kelakuan Ari yang tak kunjung berubah. Tapi, Iin tidak bisa berbuat apa-apa, karena saat itu Ari belum punya telepon genggam. Untunglah, tak lama kemudian Ari muncul di studio dan menjalani rekaman sampai selesai.

Beberapa bulan kemudian, saat album tersebut akan dipromosikan di sebuah stasiun TV, lagi-lagi jantung Iin nyaris copot. Sekitar lima menit sebelum kereta berangkat ke Jakarta, Ari baru nongol di Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Padahal, tiketnya didapat dengan susah payah karena masih dalam masa Lebaran. Di Jakarta pun Ari ber­ulah lagi. Ia baru muncul hanya beberapa menit menjelang tampil di panggung bersama Melly. Untunglah, promosi album bertajuk Jika itu sukses besar dan terjual hingga ratusan ribu copy.

Bersambung


Serial Terkait :

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 1)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 2)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 3)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 4)

» PETUALANGAN PANJANG ARI LASSO (BAGIAN 6)



Send To Friend!
 


 

www.femina.co.id © 2010 Hak Cipta Oleh Femina Online.
Dilarang menyalin/ mempublikasikan/ mengcopy isi website tanpa izin dari pihak Femina Group.
Website Femina Group :