Reviews
Dapat Rating R, Film Beauty and the Beast Bukan Tontonan untuk Anak-anak

17 Mar 2017


Foto: Dok. Disney 

Siapa yang tak kenal dongeng tradisional Prancis, Si Cantik dan Si Buruk Rupa? Kisah yang ditulis tahun 1740 itu tetap populer hingga Disney membuat ‘remake’ film animasinya dengan versi live-action dan sentuhan modern.
 
Di film adaptasi itu, Belle (Emma Watson) masihlah gadis pencinta buku yang jemu dengan kehidupan desa di Villeneuve. Ia hidup berdua dengan sang Ayah yang juga seniman, Maurice. Suatu ketika, Maurice terlantar di sebuah kastil di tengah hutan. Hanya karena memetik bunga mawar, ia ditahan oleh penghuni istana, yang tak lain ialah Si Buruk Rupa/ Beast (Dan Stevens).
 
Belle bertukar tempat dengan Maurice untuk menyelamatkannya. Selama menjadi tahanan, Belle berteman dengan staf kastil yang berwujud perabot rumah akibat kutukan penyihir. Ada Lumiere (Ewan McGregor) si kandil, Cogsworth si jam meja (Ian McKellen), dan Mrs. Potts (Emma Thompson) si teko teh. Mereka berharap Belle dan Si Buruk Rupa akan saling jatuh cinta sehingga kutukan berakhir.
 
Film Beauty and the Beast ini menggunakan alur cerita yang persis seperti versi animasi Disney di tahun 1991. Namun, penonton akan disuguhkan dengan masa lalu Si Buruk Rupa sebelum dikutuk dan Belle saat balita. Seluruh aransemen lagu Beauty and The Beast dibuat lebih megah. Adapun sejumlah lagu baru yang dinyanyikan para pemain film, seperti lagu solo Si Buruk Rupa, Evermore. Seakan belum cukup, film musikal itu dimeriahkan musisi papan atas seperti Ariana Grande, John Legend, Celine Dion, dan Josh Groban.
 
Jauh sebelum dirilis, film ini sudah santer diperbincangkan sejak Disney mengumumkan tokoh LeFou (Josh Gad) berorientasi gay. Bill Condon sebagai sutradara mengungkapkan antusiasmenya terhadap tokoh gay pertama Disney itu. “Ia bingung dengan apa yang diinginkannya. Barulah ia menyadari bahwa ia punya perasaan-perasaan ini. Dan Josh menciptakan sesuatu yang cerdik dari situ,” jelas Bill saat diwawancarai majalah Attitude.
 
Sejarah baru yang ditorehkan Disney itu tidak selalu mengundang tanggapan positif. Terbukti dengan adanya pembatalan rilis di Malaysia. Isu LBGT masih tergolong sensitif sehingga badan sensor film negara itu memberikan rating P13 dan memotong 4,5 menit adegan berunsur gay. Namun Disney lebih memilih untuk membatalkan peredaran film demi mempertahankan unsur baru itu.
 
Film Beauty and The Beast memang memiliki adegan-adegan yang menyentil isu orientasi seksual. Contohnya, adegan Gaston dan LeFou berdekapan di tengah tarian musik. Lalu, ada seorang pria yang tersenyum ketika dikenakan gaun oleh tokoh lemari. Terakhir, ketika LeFou tidak sengaja menari bersama seorang lelaki dalam ballroom. Tiap momen itu berlangsung sekelebat, sekitar beberapa detik.
 
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Lembaga sensor film tanah air tidak memotong adegan-adegan yang dianggap berunsur LGBT tersebut dan film yang akan tayang mulai 17 Maret 2017 ini dikategorikan dengan rating R atau Remaja, yang artinya penonton usia 13 tahun atau lebih boleh menonton film ini. Dengan kata lain, meskipun cerita asli Beauty and the Beast ini adalah untuk anak-anak namun film ini jelas bukan untuk anak-anak. (f) 

Baca Juga:


Inez Priscilla Aisha


Topic

#resensifilm, #beautyandthebeast