Profile
Inayah Wulandari, Ajak Orang Muda Bahagia dan Berdaya

22 Dec 2017


Perubahan Tidak Menunggu

“Perubahan itu tidak menunggu kita nanti menjadi siapa dan ada di posisi mana,” ucap Nay, mengutip pesan almarhum ayahnya yang akrab dipanggil Gus Dur. “Perubahan bisa dimulai saat ini, di tempat sekarang saya berada,” lanjutnya. Nay belajar meneladani sikap hidup ayahnya yang tidak banyak bicara, tapi aktif mendengar dan berkarya.

Ia menyaksikan bahwa di sepanjang hidupnya Gus Dur pun mengerjakan banyak hal: menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Ketua PBNU, mengajar, dan menyediakan diri untuk mendengar keluh kesah orang-orang kecil.

“Buat Bapak, semua orang punya cerita yang patut didengarkan. Ini yang menurut saya jadi kekuatan Bapak,” cerita Nay, tentang rutinitas Gus Dur menerima tamu dan mendengarkan curahan hati mereka, jauh sebelum beliau menjadi Presiden RI.

Tiap pagi, selesai salat Subuh, Gus Dur akan membuka pintu ruang tamunya, menerima tamu yang telah mengantre sejak semalam sebelumnya. Semua dilayani sesuai urutan kedatangan. “Kalau yang datang tukang sapu duluan, yang menteri juga harus menunggu giliran,” cerita Nay.

Mereka duduk sama rendah, lesehan di atas gelaran karpet. Selama lima jam tersebut Gus Dur akan menyediakan dirinya untuk mendengarkan curahan hati tiap orang yang datang.

Nay belajar bahwa ibu-ibu yang datang naik odong-odong itu tentunya tidak mendatangi Gus Dur karena beliau punya ide-ide brilian tentang pluralisme. “Mereka datang ke Bapak karena mereka tahu Bapak mendengarkan mereka, peduli, dan membela nasib mereka,” ungkap Nay, tentang teladan yang ditinggalkan Gus Dur, yang coba terapkan dalam setiap langkahnya.

Bahkan, dalam tulisan di atas nisannya pun, Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009 itu dikenang bukan sebagai pejuang pluralisme, tapi sebagai seorang humanis: ‘Di sini berbaring pejuang kemanusiaan’. Tulisan yang juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Arab, dan Tiongkok itu menjadi sebuah pengingat bagi Nay untuk lebih memfokuskan gerakannya pada kemanusiaan.

Ia merasa bahwa ada sesuatu yang hilang saat gerakan toleransi beragama terus digembar-gemborkan. “Bukan agamanya yang jadi sumber masalah, tapi toleransinya,” ungkapnya. Jika bicara soal toleransi, berarti bicara soal relasi antarmanusia. “Masalahnya, sekarang ini kemanusiaan kita telah tereduksi, tidak ada lagi empati,” lanjut Nay, sedih dengan era yang lebih mengagungkan idealisme dan ego sektoral di mana perbedaan menjadi sebuah ancaman.

Maka, dengan caranya sendiri ia menggelitik telinga dan hati nurani orang lewat puisi-puisi ciptaannya yang ia bacakan sendiri. Dua di antaranya adalah puisi percakapan antara seorang santri dengan kiainya tentang pemahaman Indonesia yang plural dan Pancasila, serta puisi berjudul Doa Millennial di Penghujung 2016.

Puisi kocak kekinian ini disebut-sebut paling banyak diperbincangkan orang. Berisi sindiran terhadap gegar budaya di era media sosial, serta perbenturan antara nilai-nilai humanisme dan akidah agama yang kaku.

Di sisi lain, melalui kiprahnya di seni akting dalam serial komedi situasi Oke Jek, Nay juga berhasil merengkuh lapisan kaum muda yang awalnya tidak terjangkau oleh gerakan positif yang dirintisnya sejak tahun 2016. Kekocakannya dalam memerankan tokoh Naya, bos layanan ojek online Oke Jek yang bawel, tidak hanya membuat para fans ingin mengenal sosok pribadinya, tapi juga mencari tahu aktivitasnya di luar sorot kamera.

“Mereka mulai follow media sosial saya. Awalnya mungkin mereka berharap saya akan banyak bicara soal tontonan itu sendiri. Tetapi, di luar dugaan saya justru banyak memasukkan konten-konten sosial. Akhirnya mereka ikut terpapar,” ungkapnya, saat menjelaskan alasannya menerima tawaran peran itu.

Nay tidak takut jika keputusannya bermain sinetron akan menimbulkan tanda tanya atau nada sumbang mengingat latar belakang keluarganya yang banyak berkecimpung di dunia akademisi. “Apa pun itu, apa yang bisa saya kerjakan sekarang, akan saya lakukan. Jika saat ini bermain sinetron komedi bisa membuka jalan agar orang muda mengenal pergerakan yang saya perjuangkan, mengapa tidak?” jawab wanita yang sejak SMA memang telah menggeluti dunia teater ini, santai.

Selanjutnya: Belajar dari Gus Dur
 


Topic

#InayahWulandari, #WanitaHebat, #GusDur, #InayahWahid

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?