Profile
Farwiza Farhan, Sekolah Tinggi Demi Konservasi

9 May 2016


Foto: Paul Hilton for HaKA, Dok. Whitley Award

Di suatu siang,  akhir Maret lalu, femina berbincang dengan Farwiza Farhan. Ada kabar baik yang disimpannya hingga akhir obrolan kami. Ia terpilih sebagai salah satu Whitley Award Winner 2016, penghargaan untuk pejuang lingkungan dari Whitley Fund for Nature, London.

Sepekan sebelumnya, foto Farwiza dan rekannya, Rudi Putra, ramai dibicarakan di dunia maya karena tampil mendampingi aktor Leonardo DiCaprio selama kunjungan singkatnya ke Kawasan Ekosistem Leuser. Farwiza bukan wajah baru di dunia konservasi, terutama di Aceh. Bersama tim HaKA Sumatra, mereka berjuang tanpa banyak ribut-ribut. Sambil menikmati kopi panas, Wiza, demikian ia biasa disapa, mengisahkan perjalanannya di dunia konservasi yang penuh tantangan.
 
Memperjuangkan Hutan Aceh
Wiza menunjukkan peta Sumatra yang ia buka di ponselnya. Sambil menunjuk garis-garis berwarna pembatas wilayah di peta, ia menjelaskan fungsi Kawasan Ekosistem Leuser yang sering dianggap sama dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Padahal, ada perbedaan mendasar antara kedua istilah tersebut. Taman Nasional Gunung Leuser hanyalah bagian kecil dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Saat ini, tempat Wiza bergiat, HaKA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh),  konsisten memperjuangkan perlindungan dan restorasi lanskap di Provinsi Aceh. Salah satunya, mendorong dimasukkannya Kawasan Ekosistem Leuser sebagai Kawasan Strategis Nasional dengan fungsi lindung di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh. Inilah kawasan ekosistem terakhir di dunia yang dihuni oleh empat megafauna, yaitu gajah, badak, orang utan, dan harimau.
“Kalau Taman Nasional dipertahankan, tapi KEL dibabat habis, pasti masyarakat yang tinggal di sepanjang pesisir Timur Aceh, di sepanjang pantai barat Aceh dan central highland akan jadi korban banjir tahunan, gagal panen, atau kekeringan,” papar Wiza, prihatin.

Fungsi Kawasan Ekosistem Leuser yang sangat penting bagi masyarakat Aceh ini dihapuskan dari Qanun atau Perencanaan Tata Ruang Perda Aceh yang disahkan pada akhir tahun 2013. Padahal, status KEL dalam UU adalah Kawasan Strategis Nasional dengan Fungsi Lindung.

Tahun 2014, muncul dua petisi penting yang isinya meminta pemerintah Aceh untuk merevisi Qanun Tata Ruang. Salah satu petisi tersebut didukung lebih dari 1 juta orang, termasuk aktor Leonardo DiCaprio. Kampanye dan dialog dengan pemerintah pun terus dilakukan, namun tidak ada titik temu. Pada Februari 2014, Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan evaluasi perda, salah satunya, harus memasukkan KEL sebagai Kawasan Strategis Nasional dengan Fungsi Lindung. Kalau tidak, perdanya akan dicabut. Sayangnya, hingga kini tidak ada tindak lanjutnya.

Sebelum bertemu femina, Wiza baru saja menghadiri sidang mediasi bersama rekan-rekan dari Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GERAM) di Pengadilan Negeri, Jakarta. Mereka menggugat Kemendagri untuk mencabut perda tadi atau pemerintah Aceh merevisi Qanun sesuai evaluasi Kemendagri. “Argumen pembukaan konsesi lahan sawit atau tambang adalah demi kesejahteraan warga lokal itu, tidak terbukti. Hutan sudah menjadi seperti ATM politik,” ujar Wiza.

Menurut Wiza, dalam kunjungan lalu, sepanjang perjalanan dengan helikopter dari Medan ke Aceh Timur, Leonardo sempat tercengang melihat perkebunan sawit ribuan hektare dan berkomentar, “Wah, kerusakan lahan ini memang sangat parah. Saya belum pernah melihat kebun sawit seluas ini.”
Ramainya reaksi publik mendukung gerakan penyelamatan Kawasan Ekosistem Leuser ternyata mendapat perhatian pemerintah. Setelah Perjanjian Paris pada April lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan pemberlakuan moratorium atau pembekuan perizinan sawit dan tambang. Hal ini direspons oleh Gubernur Aceh yang memberlakukan moratorium sawit dan tambang di Kawasan Ekosistem Leuser.
 
Keluarga Pembelajar
Sejak kecil, Wiza didukung penuh untuk terus menuntut ilmu dan mengembangkan diri. Lahir di Aceh, ia tumbuh dalam keluarga akademisi yang moderat. Ayahnya dosen farmakologi dan mantan anggota DPR, sementara ibunya dosen teknik kimia. Bersama empat saudaranya, ia dibiasakan hidup tidak berlebihan.

Di masa remaja, saat konsumerisme mulai menyapa lewat peer pressure, ia sempat protes kepada  ayahnya agar dibelikan motor, meski saat itu teman-temannya sudah pamer mobil ke sekolah. Namun, ayahnya hanya mengatakan, “Jangan sampai hanya karena kamu ingin mobil, keluarga kita hancur karena terjerat skandal korupsi.” Wiza  tersenyum mengingat-ingat kembali masa itu.

Ayahnya juga pria feminis. Suatu kali ayahnya bilang, “Wanita kadang-kadang berada di posisi yang kurang beruntung. Dia pindah dari rumah orang tuanya ke rumah suaminya. Seolah tidak pernah memiliki dirinya sendiri.” Wiza dan tiga saudara perempuannya (satu lagi pria) terus didorong untuk belajar setinggi-tingginya. “Ayah tidak ingin kalian terjebak oleh keadaan dan tidak punya pilihan,” demikian pesan sang ayah yang terus dipegang erat oleh Wiza.
Kesederhanaan dan kejujuran menjadi bekalnya merantau ke negeri orang. Setelah meraih gelar sarjana, ia melanjutkan studi master biologi kelautan di Melbourne, Australia. Saat itulah, ia magang di sebuah badan riset lingkungan. Tugasnya, menganalisis output sebuah teknologi yang diklaim baik untuk perubahan iklim, meski dia tahu bahwa klaim itu tidak sepenuhnya benar.  

Hidupnya nyaman dengan gaji besar. Di awal, ia sempat menikmati kemapanan itu. Tapi, nuraninya berkata lain. “Saya merasa seperti membohongi diri sendiri.” Ia pun tidak ingin  berlama-lama. Begitu studi masternya selesai, ia langsung kembali ke tanah air dan meninggalkan pekerjaan magangnya.

 Saat masih SMU, ia jatuh cinta pada dunia bawah laut di Pulau Weh, Sabang. Begitu ia kembali lagi lima belas tahun kemudian untuk liburan, banyak hal berubah.  Ia bertemu dengan tim Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan ditawari untuk bergabung dengan tim riset. Inilah titik awal perjuangannya untuk KEL.

 “Jika ingin bekerja melindungi KEL, saya harus tahu pasti apa yang ia lindungi. Saya jatuh cinta pada Kawasan Ekosistem Leuser. Saya mencintai tempat yang ingin saya lindungi. Dan pada akhirnya, kita melakukan sesuatu memang karena cinta.”

Kerja konservasi memang identik dengan pekerjaan macho. Waktu kerjanya panjang dan harus banyak turun ke lapangan. Belum lagi saat harus menghadapi tekanan saat ada kasus lingkungan. Beberapa tahun lalu misalnya, saat Kementerian Lingkungan Hidup menggugat beberapa perusahaan karena pembakaran hutan di Aceh, Wiza bolak-balik ke pengadilan untuk bersaksi. Ada oknum-oknum yang datang ke rumah, mencari keluarganya, menawarkan uang dan meminta ia agar tidak bersaksi.

“Tentu  saya sempat ciut juga. Saya berpikir ulang. Apakah semua ini sepadan dengan kepuasan yang saya dapatkan? Saya dianugerahi banyak pilihan untuk berkarier di banyak negara. Tapi, inilah pilihan saya.”

Tim HaKA yang ramping dengan tugas seabrek mau tidak mau menuntut perhatian penuh dari semua anggotanya. Ia bersyukur bisa bekerja dengan tim yang berdedikasi tinggi. Salah satunya, Rudi Putra, Conservation Manager HaKA, yang juga peraih Goldman Prize 2014, penghargaan bergengsi yang sering disebut Oscar untuk para pejuang lingkungan. Yang tak kalah menarik, pos-pos penting di HaKA diisi oleh wanita yang berpendidikan tinggi. Termasuk Wiza yang sekarang adalah PhD Candidate di Radboud University Nijmegen, Nijmegen, Belanda. Ia mendalami cultural anthropology & development studies.

Ia memilih studi antropologi untuk lebih memahami masalah masyarakat sebagai pendekatan menuju perubahan kebijakan publik. Para birokrat pembuat regulasi tidak banyak yang memiliki pemahaman yang baik tentang pengelolaan hutan dan laut. “Bayangkan, tanpa pemahaman, mereka mencoba mengatur hutan dan laut. Mau jadi apa? Ibaratnya, seorang pria mencoba meregulasi tubuh wanita, padahal dia tidak paham dengan siklus menstruasi dan fluktuasi mood kita,” ujarnya, tegas.

Kebakaran hutan sangat berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat. Hutan gundul akan membuat ekonomi suatu negara kolaps. Ia mencontohkan  Haiti yang sangat miskin, padahal Republik Dominika yang notabene satu pulau tapi alamnya masih hijau, bisa sangat sejahtera. Perlindungan hutan itu harusnya kita lakukan bersama.

Kunjungan Leonardo DiCaprio ke Kawasan Ekosistem Leuser menjadi bonus bagi tim HaKA. Leo meminjamkan popularitasnya untuk isu-isu penting, seperti perubahan iklim. Wiza melihat Leo memang sangat peduli dan tulus ingin menyelamatkan lingkungan. Ia mengutip ucapan Leo, “Isu penyelamatan lingkungan harus menjadi sesuatu yang mainstream, karena  tiap orang berutang pada planet ini. Tanpa planet yang sehat, kita takkan bisa bertahan.”
Saat masyarakat sudah sadar dengan apa yang terjadi pada alam, mereka akan menjadi pahlawan untuk diri mereka sendiri. Meraih penghargaan adalah bonus lain bagi perjuangan mereka. Sebab, masih banyak yang belum paham mengapa kita harus menolak pembukaan lahan untuk kebun sawit. “Mungkin saja kita merasa tidak membunuh harimau sumatra, dan tidak membeli produk dari kulit harimau. Tapi, kita tiap hari membeli minyak sayur dari kelapa sawit yang membunuh habitatnya,” tegas Wiza.

Jadi, apa yang membuat ia bertahan sebagai pekerja konservasi? “It’s love for the place, love for the people,” katanya ringan. Ia merasa beruntung pekerjaannya memberi kesempatan untuk terus bepergian, sehingga tidak ada kata bosan dalam kamusnya. Di antara kesibukannya, ia menikmati waktu dengan cara sederhana, namun merupakan sepotong kemewahan bagi para pekerja urban, yaitu menikmati senja di pantai Aceh yang indah.
“Ini hidup yang menyenangkan. Dari rumah saya, cukup 20 menit ke pantai. Mau hiking ke bukit yang ada air terjun pun dekat. I’m in a perpetual holiday,” katanya tersenyum,  menutup pembicaraan.


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?