Profile
M. Aan Mansyur, Pujangga di Balik Ada Apa Dengan Cinta 2

28 Apr 2016


Lihat tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi’. Demikianlah sepotong puisi cinta Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2 yang ditulis oleh penulis, penyair, dan pustakawan asal Kota Makassar, M. Aan Mansyur (34).

Potongan puisi tersebut diambil dari bukunya, Tidak Ada New York Hari Ini.  Kumpulan puisi berisi 31 puisi ini ia siapakan khusus untuk AADC 2, yang semuanya bebas diambil dan ditampilkan dalam film. "AADC punya sumbangsih besar membuat cerah wajah dunia sastra Indonesia, khususnya puisi," ujar Aan. Sejak AADC pertama tayang 2002, ia tidak pernah malu menenteng buku puisi kemana pun ia pergi. 
 
Pengaruh Penyair Wanita
Pengalaman Aan dalam menulis puisi memang cukup banyak. Lihat saja, dari sepuluh buku yang telah ia keluarkan sejak tahun 2005 silam, tujuh di antaranya adalah buku kumpulan puisi. Seperti Hujan Rintih-Rintih (2005), Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Cinta yang Marah (2009), dan Melihat Api Bekerja (2015).        
Menurut Aan, menulis puisi jauh lebih sulit dibandingkan dengan menulis cerita pendek (cerpen) atau novel. Namun, ia tetap konsisten dan terus menulis puisi karena sudah telanjur jatuh cinta. Apalagi kata-kata yang lembut, manis, dan romantis selalu dihadirkan Aan dalam puisi, cerpen, dan novelnya, hingga membuatnya bernilai.  
           
Itulah yang membuat Mira Lesmana, produser AADC 2, memercayakan puisi untuk sequel film fenomenal itu kepada Aan. Memang, sudah lama Mira telah menyukai karya-karya Aan dan juga membaca bukunya.

Cinta Aan pada puisi mulai tumbuh kala membaca buku berjudul Simfoni Dua, karya penyair Subagio Sastrowardoyo. Saat itu ia masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Negeri 400 Watampone. Sajak berjudul Dan Kematian Makin Akrab milik eyang Dian Sastrowardoyo itu menyadarkan Aan bahwa ternyata segala sesuatu yang dialami oleh manusia dapat dituangkan ke dalam tulisan-tulisan yang indah dan menarik untuk dibaca serta didengar.

“Karya Subagio banyak memengaruhi gaya penulisan saya di awal memulai karier sebagai penulis. Tapi, orang menganggap bahwa karya saya sangat mirip dengan karya-karya Sapardi Djoko Damono,” kata pria yang dulu bercita-cita menjadi pelukis dan pemain musik ini.   

Namun, kuliah di jurusan Sastra Inggris membuat Aan banyak membaca literatur-literatur berbahasa Inggris, salah satunya karya penyair Inggris-Amerika Serikat, Thomas Stearns Eliot. Ini pun membuka matanya.

Makin ke sini, karya pria kelahiran Bone, 14 Januari 1982, ini banyak dipengaruhi oleh karya wanita-wanita penyair, seperti Anne Sexton, Mary Oliver, Naomi Shihab Nye, dan Sylvia Plath. Akhirnya, teknik-teknik menulis banyak ia adopsi dari para penyair hebat itu.

Tak hanya itu, kisah hidup ibunya, Safinah, juga ikut memengaruhi gaya menulis Aan. Ia kerap menghadirkan cerita tentang ibunya di dalam cerpen maupun puisi yang ia tulis. Relasi emosional antara dia dan ibunya ia tuangkan dalam goresan karya.

Ibunya pun amat mencintai puisi. Hampir semua puisi yang ia tulis, dibaca lebih dulu oleh ibunya. Dan kini, Aan di Makassar dengan ibunya di Balikpapan, masih ‘berbagi’ puisi lewat SMS.

“Seminggu saja tak mengirim puisi, Ibu bertanya, ‘Apakah sudah berhenti menulis puisi?’ Itu adalah isyarat bahwa ia rindu pada puisi saya,” ujarnya, bahagia. Kadang kala, Aan menelepon beliau, sekadar membacakan beberapa puisi. “Jujur, hubungan saya dengan Ibu yang membuat saya ingin tetap menulis puisi.” Menurut Aan, hal-hal di atas itulah  yang membentuk gaya tulisannya, hingga memiliki ciri khas sendiri.
 
Taklukkan Tantangan
Setelah menamatkan SMA pada tahun 1997, Aan pindah dari tanah kelahirannya di Kabupaten Bone ke Kota Makassar yang harus ditempuh sekitar 6 jam perjalanan. Sebuah keputusan yang berani, padahal saat itu ia masih belasan tahun. Selama satu tahun penuh hingga tahun 1998, ia memilih tidak melakukan apa-apa selain membaca buku tiap hari. Targetnya, satu hari satu buku harus dibaca.

“Kalau tidak selesai satu buku dalam satu hari, maka saya akan ‘menghukum’ diri sendiri dengan membaca 2 buku pada hari berikutnya,” ungkap alumnus SMA Negeri 1 Kahu, Bone, Sulawesi Selatan, ini. Bisa jadi, hal itu adalah aksi ‘balas dendam’-nya karena sejak kecil hingga lulus SMA, ia tidak mendapat banyak  buku untuk dibaca.
Untuk memenuhi balas dendamnya itu, Aan telah mendatangi hampir semua perpustakaan di Kota Makassar yang dibuka untuk umum. Dan, saat-saat inilah yang mulai menumbuhkan keinginannya untuk menjadi penulis. “Saat itu pula saya sadar, menulis tidak pernah lepas dari aktivitas membaca. Untuk menjadi penulis maka harus menjadi pembaca yang baik terlebih dahulu,” katanya.

Tahun 2000, dua tahun setelah menempuh pendidikannya di Jurusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin, Aan pun  makin aktif menulis. Cerpen dan puisi ia kirim ke berbagai surat kabar nasional dan daerah. Ia juga aktif memberikan tulisannya untuk ditampilkan di media kampus. Meski sebenarnya, Aan sudah menulis sejak kelas 4 SD. Ia menulis cerita anak-anak dan dikirim ke berbagai redaksi majalah anak, seperti Bobo, dan diterbitkan.

Saat itu, semua cerita yang ia tulis adalah dongeng yang diceritakan neneknya  tiap malam. “Saya tulis ulang saja yang diceritakan nenek saya,” kata Aan. Kegemarannya menulis berlanjut hingga SMP dan SMA dengan menulis cerita-cerita remaja yang juga ia kirim ke majalah remaja seperti Aneka Yess!.

Kegemaran Aan menulis memang sebenarnya berawal dari sifatnya yang pendiam dan sulit berbaur, yang membuatnya sulit mengobrol. Tak heran jika ia lebih senang menghabiskan waktunya di kamar dan perpustakaan milik kakeknya. Karena sulit berkomunikasi, ia memilih tulisan menjadi medianya. Bahkan, berkomunikasi dengan ibunya pun, ia lakukan lewat tulisan. Bila hendak mengatakan sesuatu atau meminta dibelikan buku, Aan menulis surat dan diletakkan di bawah bantal ibunya. “Berharap beliau melihat dan membacanya,” katanya, tersenyum. Ibunya pun membalas semua suratnya dan meletakkannya di kamar Aan.

Keputusan Aan untuk menjadi seorang penulis sempat tidak disetujui ibunya. Menurut beliau, seorang penulis akan miskin harta dan uang. “Tapi, dalam pikiran saya, miskin adalah sebuah kehidupan yang romantis. Seperti layaknya di film-film. Hahaha…,” kata Aan, tertawa.  

Ternyata, sang ibu ada benarnya. Tantangan demi tantangan dihadapi Aan. Ia harus membeli banyak buku sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasannya untuk menciptakan karya. Sedangkan saat itu ia tidak lagi mendapatkan kiriman uang dari ibunya.

“Pengeluaran saya untuk membeli buku  tidak sebanding dengan uang yang saya dapatkan dari menulis. Makan pun saya harus menghemat,” katanya. Kala itu, ia mengeluarkan uang sebesar Rp1,5 juta per bulan untuk membeli buku.

Melihat kondisi Aan yang sedikit terpuruk, ibunya membesarkan hati Aan. Beliau berkata bahwa sesuatu yang indah tidak akan ditemukan pada hal-hal yang mudah. “Pekerjaan menulis adalah pekerjaan yang ‘paling’ sulit. Tak hanya berkaitan dengan ekonomi semata, tetapi kita dituntut memiliki kemampuan berpikir dan imajinasi yang tinggi,” tuturnya.

Gara-gara menulis pula kuliahnya sempat terbengkalai. Ditambah lagi ia harus mengajukan cuti kuliah selama beberapa semester dan bekerja serabutan. Uang yang ia dapatkan digunakan untuk biaya kuliah semester berikutnya. Meskipun tertatih-tatih, Aan akhirnya menyelesaikan S-1 dalam jangka waktu 7 tahun. “Terciptalah buku Hujan Rintih-Rintih (2005), yang merupakan wujud ucapan terima kasih saya untuk kampus,” kata Aan, bangga.   

Syukurlah, dalam menerbitkan buku-bukunya, Aan hampir tidak pernah mengalami kendala. Buku pertamanya diterbitkan oleh penerbit Ininnawa yang ia dirikan bersama teman-temannya. “Internet membantu saya untuk berkenalan dan berkomunikasi dengan para penulis dari berbagai penjuru Indonesia yang telah berhasil menerbitkan buku mereka,” ujar pria berzodiak Capricorn ini.

Buku keduanya, berjudul Perempuan, Rumah Kenangan (2007), diterbitkan oleh salah satu penerbit  di Yogyakarta. Sedangkan buku Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia (2014), diterbitkan di Malaysia.

“Tempat tidak membatasi kita untuk berkarya. Walau para penerbit terpusat di Pulau Jawa,   bila karya kita berkualitas, bernilai tinggi dengan standar-standar tertentu, maka kita akan dicari,” katanya, bangga. Hingga kini, ada puluhan perusahaan penerbitan yang berebut ingin menerbitkan bukunya.
 
Mengembangkan Komunitas
Sebagai penulis, tantangan terbesar Aan adalah diriny­a sendiri. Ia harus berjuang melawan rasa malas yang ada dalam dirinya. Apalagi, ia juga tidak bisa melakukan pekerjaannya dalam lingkungan yang ramai. Sebab, dengan adanya orang lain, ia merasa diintimidasi dan dimata-matai.

“Saya kerap tidur lebih awal, supaya bangun dini hari dan menulis hingga matahari terbit. Saya menyukai keheningan dan ketenangan,” katanya, serius.

Kini, selain menulis, Aan juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan komunitas. Di Makassar International Writers Festival (MIWF), selain sebagai penggagasnya, Aan juga menjadi kuratornya.

Di sana jugalah ia berkenalan dengan Riri Riza, pendiri Rumata’, wadah yang menyelenggarakan MIWF. “Saya ikut mengembangkan program sastra, sedangkan Riri program film,” katanya.

Bersama teman-temannya, pada tahun 2014 ia mendirikan sebuah wadah perkumpulan bernama Katakerja, yang menjadi ruang interaksi antara manusia dengan manusia lain, seperti berdiskusi dan pertunjukan musik.  “Katakerja merupakan ruang kreatif dan ruang publik alternatif di Makassar untuk belajar, berbagi, dan bekerja untuk melakukan hal-hal kecil,” kata Aan, merendah.

Tempat ini dilengkapi ruang baca dengan koleksi buku yang bisa diakses cuma-cuma oleh siapa pun, dengan catatan, terlebih dahulu menyetor minimal dua buku. Di tempat inilah Aan tinggal sekaligus melakukan aktivitasnya sebagai penulis dan juga sebagai seorang pustakawan.

Katakerja memiliki sejumlah pustakawan dengan beragam profesi dan dengan keterampilan yang beragam pula. Secara sukarela, mereka memberikan waktu dan tenaga untuk mengurus ruang baca dan kegiatan–kegiatan di Katakerja.

“Tiap minggu, secara bersama-sama kami berlatih berbagai keterampilan dasar, seperti belajar bahasa asing, kerajinan tangan, dan lain-lain. Semua kegiatan terbuka untuk umum dan tidak berbayar,” ujarnya, senang.

Aan mengatakan, selain kegiatan mingguan,  tiap bulan Katakerja menggelar kegiatan Menyimak (presentasi ide, karya, dan musik), Mengamati (pemutaran  film), dan Mengeja (membaca bersama satu buku tertentu).

Untuk biaya operasional serta semua  kegiatan di Katakerja, mereka memiliki toko kecil bernama Toko Sebelah, bersebelahan dengan Katakerja. Toko ini menjual barang-barang kerajinan tangan, buku, dan lain-lain. Semua keuntungan diperuntukkan bagi Katakerja.

“Sesuai dengan namanya, Katakerja merupakan perpaduan antara ‘kata’ dan ‘kerja’. Artinya,  tiap kali kita berkata-kata, harus diiringi dengan kerja,” kata pria pencinta kucing ini, tegas.(f)
 

Desiyusman Mendrofa


Topic

#AADC2