
Selama 11 tahun, masyarakat kelas menengah telah tumbuh tiga kali lipat, sehingga di tahun 2015 mencapai 170 juta atau 70 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Kelas menengah pun menjadi kelompok masyarakat dengan daya beli yang besar hingga 20 dolar AS per hari.
Hal ini berpotensi menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun ironisnya, ketika masyarakat punya kesadaran akan spending yang besar, tak diiringi dengan kesadaran untuk menyimpan uangnya dalam jangka waktu yang lama. Pemahaman tentang pentingnya berinvestasi demi kesejahteraan finansial di masa mendatang masih minim.
Terbukti dari data lembaga penyelenggara pasar modal, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bahwa jumlah investor di Indonesia hanya mencapai 548.348 nasabah, atau sekitar 0,2 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Padahal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berekspektasi, di tahun 2017 jumlah investor tanah air bisa mencapai angka 5 juta nasabah. Tampaknya, target tersebut akan sulit terpenuhi.
Dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, kita masih tertinggal jauh. Malaysia yang berpenduduk 30 juta jiwa memiliki investor sebanyak 17 juta orang, sementara Thailand yang berpenduduk 65 juta jiwa, memiliki 4 juta investor.
Kebanyakan masyarakat Indonesia memang cenderung masih ‘main aman’ dalam mengelola keuangan mereka. Masyarakat kita lebih suka menabung dibandingkan yang menginvestasikan hartanya.
Rendahnya pemahaman terhadap literasi keuangan dan kesadaran masyarakat untuk berinvestasi bisa jadi penyebab minimnya angka investor dalam negeri. Bahkan menurut riset terakhir OJK (2013), literasi keuangan pada masyarakat hanya 21,8 persen. Survei selanjutnya pun baru akan diadakan tahun ini atau 2017 dengan harapan peningkatan sebesar 2 persen.
Tak heran jika akhirnya Bursa Efek Indonesia (BEI), bersama dengan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan KSEI yang didukung oleh OJK melakukan kampanye edukasi Yuk Nabung Saham sejak November 2015 lalu. “Selain untuk meningkatkan jumlah investor, kampanye ini untuk mengubah paradigma masyarakat bahwa berinvestasi itu tidak harus mahal dan rumit, karena sekarang berinvestasi bisa dilakukan seperti menabung,” tutur Dr. Tito Sulistio, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia.
Kampanye ini adalah ajakan kepada masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal dengan membeli saham secara rutin. Masyarakat diharapkan secara berkala akan menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk dibelikan produk investasi, seperti saham, reksa dana, atau exchange trade fund. Tak perlu membutuhkan dana yang fantastis hingga puluhan atau ratusan juta, masyarakat bisa berinvestasi hanya dengan ratusan ribu rupiah saja.
Bersamaan dengan itu, kini juga kian banyak perusahaan yang menjual sahamnya kepada masyarakat, atau yang lebih dikenal dengan istilah go public. Setidaknya saat ini ada lebih dari 500 perusahaan go public, dan banyak di antara mereka yang menjual sahamnya secara ritel dengan harga yang terjangkau.
Siapakah sasaran edukasi ini? Karyawan, mahasiswa, hingga kalangan ibu rumah tangga yang diyakini menjadi sasaran potensial untuk meningkatkan investor dalam negeri. “Mengapa wanita? Karena wanita itu berperan sebagai menteri keuangan dalam rumah tangga, sehingga penting memberikan edukasi kepada mereka tentang mengelola keuangan untuk jangka panjang,” jelas Dr. Tito, sambil berharap ke depannya kebiasaan masyarakat bisa berubah, tidak hanya menjadi masyarakat yang menabung (saving society), tapi juga jadi masyarakat yang berinvestasi (invest society).(f)


