
Foto: Fotosearch
Tiap orang tentunya ingin memiliki kondisi keuangan yang meyakinkan. Sayangnya, nih, seringkali kita melakukan kesalahan dalam mengelola keuangan—baik yang disadari maupun nggak, he he he. Saatnya membuang kebiasaan lama yang merugikan, nih. Berikut beberapa di antaranya, seperti yang diungkapkan Alemantis, CFP (R), (Titis), Independent Financial Planner dari PT QM Financial….
1. Tanpa perencanaan
Banyak di antara kita yang tidak memiliki tujuan keuangan. Jadi begitu menerima gaji, kita jor-joran menggunakannya untuk bersenang-senang. Belum juga akhir bulan, kita sudah nggak bisa mengambil uang di atm, deh, karena dananya sudah habis.
Buatlah catatan pengeluaran tiap bulannya, terutama yang wajib. Lalu, mulailah menabung dengan tujuan yang pasti—bisa untuk keliling dunia, beli mobil, atau mencicil rumah. Dengan begitu kita termotivasi untuk menyimpan uang.
2. ‘Budak’ kartu kredit
Kartu kredit merupakan alternatif pengganti uang tunai, namun bukan uang tambahan. Boleh saja kita menggunakannya untuk makan di mall, nonton bioskop, atau online shopping. Asalkan, nih, ada uang untuk menbayar lunas ketiga tagihan jatuh tempo. Sayang, banyak di antara kita yang justru kebablasan sampai tagihan menumpuk. Cobalah membatasi pengunaan kartu kredit, misalnya maksimal hanya 10% dari gaji.
3. Menunda pembayaran
Transaksi dengan kartu kredit memang memudahkan. Tapi, jangan lupa untuk membayar tagihannya sampai lunas. Jika hanya membayar jumlah minimum, kita akan dikenakan bunga untuk sisanya. Sayang, kan, menghabiskan uang puluhan ribu rupiah—apalagi ratusan ribu, hanya untuk bayar utang bunga. Mendingan uang tersebut dipakai untuk isi pulsa!
4. Kebanyakan ngopi
Menjamurnya coffee shop memberi kita pilihan beragam untuk ngopi sambil bersosialisasi. Namun kebayang, nggak, berapa rupiah yang kita habiskan per bulannya—jika dua kali seminggu kita minum secangkir kopi di sana? Bisa ratusan ribu rupiah, tuh. Bukannya harus menghentikan sama sekali, hanya saja kurangi frekuensinya. Misalnya satu kali seminggu, lalu jadi dua minggu sekali.
5. Tergiur sale
Yap, tanpa direncanakan kadang kita membeli voucher makan di situs daily deals atau sepatu di mall hanya karena sedang diskon. Memang, sih, potongan harganya mencapai 50%. Tapi sebenarnya kita tetap rugi, tuh, karena mengeluarkan uang untuk barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Apalagi jika stok sepatu atau baju di lemari sudah menumpuk—dipakainya jarang-jarang pula. Mubazir, deh!
6. Tergila-gila brand
Ini dia salah satu kebiasaan yang dapat menguras uang dalam sekejap. Satu helai baju bermerk harganya sama dengan harga tiket pesawat ke negara tetangga—atau bisa menghabiskan 20% gaji kita. Lebih besar pasak daripada tiang, deh.
Untuk situasi tertentu, kita boleh-boleh saja memakai produk bermerk. Tapi, kita harus menyadari kemampuan kita dan nggak berarti sebagian besar gaji dihabiskan untuk itu. Daripada menciptakan utang, mendingan sesuaikan produk dengan kondisi keuangan kita.
7. Jajan di luar
Makan siang, beli di luar kantor. Makan malam, dilakukan di mall. Nggak heran, deh, dompet selalu kempes sebelum pertengahan bulan. Jika di rumah ada makanan, sih, akan lebih irit. Bisa banget, tuh, manfaatkan akhir pekan buat memasak jatah makanan beberapa hari ke depan. Biaya satu kali makan malam di mall sama besarnya dengan modal beberapa kali makan di rumah.
8. Korban teknologi
Apakah perlu ganti gadget tiap kali keluar yang baru? Kalau mengikuti perkembangan teknologi, sih, pasti nggak ada habisnya! Jadi jika bujet terbatas, tentunya kita mesti puas dengan gadget yang ada. Yang penting, bisa dipakai untuk bersosialisasi sekaligus cek email terkait pekerjaan. Hindari juga membeli gadget dengan mencicil—mendingan targetkan kapan mau ganti ponsel dan mulai menabung.
9. Menggabung rekening tabungan dan gaji
Idealnya, nih, pisahkan rekening tabungan dan gaji. Dengan begitu, kita nggak akan khilaf menggunakan uang tabungan untuk belanja. Begitu gajian, ambil 10-20% dari gaji kita dan pindahkan ke rekening bank khusus tabungan. Pilih bank yang tidak mengenakan biaya admin jika nggak mau uang kepotong tiap bulannya.
10. Tanpa dana darurat
Mungkin kita sudah bosan membaca berbagai artikel keuangan yang menyarankan kita untuk menyimpan dana darurat. Namun suka atau tidak, ini memang penting untuk membantu kita mengatasi keadaan di luar dugaan. Misalnya, ketika di-PHK (jangan sampai, sih!), atau saat ada anggota keluarga yang masuk rumah sakit sehingga butuh biaya besar.
Total dana darurat yang diperlukan bagi kita yang single adalah sejumlah tiga kali gaji. Namun, kita bisa mencicilnya, kok, dengan menabung 10% dari gaji tiap bulannya. (f)
Topic
#kelolauang


