
Foto: NJL
Bahasa universal musik dalam Java Jazz Festival 2018 berhasil menyatukan semua pecinta musik dari lintas generasi, lintas budaya, dan lintas genre musik. Ketika beberapa mempertanyakan arwah jazz yang mulai kehilangan arah, banyak lainnya yang datang untuk merasakan, menikmati, dan merayakan musik.
Selama tiga hari penyelenggaraannya, ada 11 panggung yang secara silih berganti menampilkan sekitar 300 musisi dalam negeri dan internasional dari beragam genre. Tidak berarti Java Jazz Festival kehilangan spirit jazz, tapi justru melalui festival yang bertema Unity in Diversity inilah masyarakat diajak untuk mengenal beragam genre yang sebenarnya merupakan bagian dari denyut nadi unsur jazz itu sendiri.
Tua, muda, besar, kecil bangkit dari kursi nyaman mereka untuk maju ke muka panggung, bahkan naik ke atas pangung untuk menari bersama. Tidak dalam spirit euforia berlebihan, tapi dalam keriaan yang melegakan bahwa kita semua sama, kita semua satu.
Tak peduli apa kelas sosial atau dari generasi mana. Tak peduli apa bahasa ibu kita, atau warna kulit kita, semua larut dalam lepasnya hormon bahagia endorphin yang menyehatkan.
Di hari pertama Java Jazz, misalnya, spirit ini terasa kental saat grup Papua Original yang beranggotakan delapan orang itu menggoyang panggung Java Jazz lewat ritmis funk, jazz, hip hop, dan reggae. Lagu asal Papua Apuse dibawakan dalam irama jazz funk yang memancing semua yang datang untuk bergoyang.
Kemeriahan ini semakin memuncak saat irama hip hop mengiring lagu dalam bahasa Papua. Semua orang menari membentuk barisan panjang mengular dengan dua pemuda dalam pakaian tradisional Papua memimpin di depan barisan. Membangkitkan ingatan dan kecintaan terhadap tanah paling timur Indonesia ini serta keberagaman suku di Indonesia.
Rasa haru ini memuncak saat mereka melagukan Papua Dalam Cinta – Harumkan Indonesia, dari sini…Satukan tujuan, dalam cinta. Disusul lagu Pelangi di Ufuk Timur – Kita semua rasa, kita semua sama, kita semua satu…

Di akhir konsernya, Jhene Aiko mengajak penonton berdansa di panggung dan membagikan mawar. (Foto: @uda_arif)
Di hari terakhir Java Jazz Festival 2018 ini Aiko membawakan beberapa lagu dari album terbarunya Trip, seperti While We’re Young, Sativa, dan New Balance.
Kedalaman lirik Aiko yang beresonansi kuat dengan kegalauan kaum muda sukses membuat mayoritas penggemarnya yang berasal dari generasi millennial mengalami “song comma”. Lebih dari itu, melalui lagu OLLA (Only Lovers Left Alive), Aiko berhasil menyuntikkan energi positif cinta dengan mengajak serombongan penonton untuk bergembira dan berdansa bersama di atas panggung!
Pangung Java Jazz Festival 2018 malam itu ditutup apik lewat konser spesial grup band rock asal Amerika Serikat Goo Goo Dolls. Iris, menjadi lagu terakhir dalam daftar yang berhasil membuat semua orang menyanyi bersama. Merasa tak cukup, ruang pun dibuat bergetar oleh seruan para fans berat yang belum rela berpisah dengan musisi favorit mereka. “We want more…We want more…!!”
Permintaan ini berubah menjadi gemuruh sorak saat suara permainan gitar kembali terdengar dari balik kelambu panggung yang siap menutup. Sesaat kemudian John Rzeznik, vokalis sekaligus pemain gitar Goo Goo Dolls muncul dengan gitar akustiknya membawakan tembang Give a Little Bit. Seiring dengan ayunan tangan dan suara penonton, Java Jazz Festival 2018 sukses ditutup dengan banyak cinta di udara! (f)
Topic
#JavaJazz2018


