Tubuh lemas karena puasa, kerja nambah karena mau libur panjang, tapi emosi kudu tetap dikontrol? Berat... tapi bukan nggak mungkin! Contek tip dari CC berikut....
Bos PMS
Siapa yang nggak bete menghadapi atasan yang ngomel terus tanpa alasan jelas? Boro-boro gede, kesalahan kecil yang nyaris nggak ada artinya pun bisa membuat bos mengeluarkan sumpah serapah!
Jangan pernah mengumbar amarah saat terjebak dalam situasi seperti ini. Jaga ucapan dan sikap kita, sekalipun dalam hati sebenarnya sudah 'membara'. Lagipula bukan cuma kita, kan, yang kecipratan emosinya, tapi juga rekan kerja lain.
“Supaya emosi nggak turut terpancing, cukup anggukkan kepala saat bos mengeluarkan uneg-unegnya. Tidak usah memasukkan omongannya ke dalam hati. Yang penting, seluruh pekerjaan kita beres dan nggak ada kesalahan yang perlu kita risaukan,” jelas Wesmira Parastuti (Mia), konsultan karier dari Wesmira Psychological & Recruitment Services. Kalau bisa, coba, deh, 'bersimpati' atas ketidakmampuan bos dalam mengontrol emosi.
'Digantung' klien
Sebagian besar dari kita pasti sudah tahu rasanya tegang menunggu tanggapan klien tentang tawaran kerja sama (perusahaan) kita. Pas lagi tegang-tegangnya, eh, bos mendesak minta hasil laporan kita!
'Digantung' klien sama tidak menyenangkannya seperti digantung gebetan. Jelaskan, deh, mengenai deadline kita pada klien baik-baik. Jika e-mail kita belum dibalas dan dia nggak bisa dihubungi via telepon, kita kudu mencoretnya dari kerja sama yang sedang kita jalankan, jika nggak ada lagi toleransi waktu. Daripada ngomel-ngomel, lebih baik gunakan energi kita untuk mencari klien lain yang bisa diajak bekerja sama dalam waktu singkat!
Kalau akhirnya klien tersebut menghubungi kita lewat deadline, kita tetap harus menanggapinya secara profesional. Beri penjelasan yang 'bersahabat' untuk menjaga hubungan baik dengannya. Siapa tahu, kita masih bisa mengajaknya bekerja sama untuk acara lain.... CC


