Apa pun bentuk cara merayakan Natal (juga tahun baru) tersebut mau tidak mau memang membuat orang lebih banyak spending. “Misalnya, di hari Natal dan tahun baru saya harus punya baju baru dan smartphone baru. Hal ini tentu menjadi kesempatan emas bagi para pebisnis untuk meraih keuntungan berlimpah,” ujar Dr. Rudy Handoko, dosen Ilmu Bisnis Prasetiya Mulya School of Business& Economic Jakarta. Secara teori ekonomi makro, konsumsi masyarakat di dalam negeri memang terbukti yang membuat perekonomian Indonesia stabil. Terlebih lagi, orang Indonesia gemar berbelanja, baik kalangan atas, menengah, maupun bawah. “Masyarakat Indonesia ini mudah sekali tergoda sale, harga promo, dan iklan. Meski kita bukan negara kaya, masyarakat Indonesia punya tingkat spending yang cukup tinggi,” kata Rudy.
Berbeda dengan orang Barat yang terbilang lebih rasional saat berbelanja, orang Indonesia kalau berbelanja lebih karena dorongan emosional. “Hari biasa saja bisa kalap, apalagi hari spesial seperti Natal dan tahun baru. Bahkan, kalau lagi enggak ada uang, ya, tinggal gesek saja pakai kartu kredit. Shopping moment itu biasanya berlangsung dari 20 Desember hingga 15 Januari. Lalu, bagaimana tahun depan? Ya, cari uang lagi,” tutur Rudy.
Pendeta Martin tidak memungkiri kemampuan dan kemauan masyarakat untuk berbelanja persiapan Natal. Apalagi bila belanja itu dikhususkan untuk dibagikan kepada orang lain, lebih-lebih untuk orang yang tidak mampu. Karena, banyak orang yang masih percaya, Natal adalah waktu yang tepat untuk berbagi. “Sementara, godaan berbelanja dari pusat-pusat perbelanjaan juga begitu tinggi,” katanya.
Namun, yang Pendeta Martin perhatikan belakangan ini adalah kian tumbuhnya arus utama dalam umat kristiani untuk merayakan Natal dengan cara berbeda. Bahwa, memberikan kado bagi orang lain tidak sesederhana memberikan sesuatu dalam bentuk barang. “Di salah satu gereja misalnya, ada tema Natal yang mengatakan bahwa kado terbaik bukan lagi berbentuk barang, melainkan diri kita yang lebih baik. The real Christmas’s gift is you!” katanya. (f)


