Topik Hangat 

Hati-Hati Ketergantungan Gadget!

 
Rating Pembaca
 
Beri Rating Artikel ini

24 Jan 2012
Femina Topik Hangat
Praktisi periklanan asal New York, Eric Yaverbaum, suatu hari merasa tersadarkan. Pada suatu acara makan malam Thanksgiving dengan keluarga, ia mendapati dirinya malah asyik sendiri dengan blackberry-nya dan larut mengikuti percakapan di twitter. Sebuah situasi yang biasa ia hadapi, dan diyakininya juga dialami banyak orang. “Hari istimewa seharusnya adalah saat kita menciptakan percakapan yang sesungguhnya dengan orang-orang tercinta,” kata Eric.

Bersama rekannya, Mark DiMassimo, Eric lalu membuat sebuah laman bernama www.offlininginc.com. Laman offlininginc yang dibentuk Eric dan Mark mengajak orang-orang untuk menikmati satu hari tanpa menggunakan gadget dan benar-benar berinteraksi bersama orang-orang terdekat. Aksi ini diadakan beberapa kali di hari-hari istimewa, seperti Yom Kippur, Thanksgiving, dan Valentine. Sejak pertengahan tahun 2010, kedua praktisi marketing ini sibuk mengampanyekan gerakan ‘No-Device Day’.  

Dekade sebelumnya, sudah muncul gerakan untuk mematikan televisi di dalam rumah. Menurut penelitian yang dilakukan The Kaiser Family Foundation, anak-anak dan orang dewasa di Amerika Serikat rata-rata menghabiskan 22 hingga 28 jam dalam seminggu untuk menonton televisi. Hal itu yang menjadi alasan lahirnya lembaga TV-Free America pada tahun 1994, organisasi nirlaba yang menggaungkan gerakan mengurangi waktu menonton televisi.

Mengenai fenomena kecanduan teknologi ini, psikolog Elly Risman mengatakan, teknologi seperti televisi dan gadget tidak perlu dijauhi. Namun, yang perlu dihindari adalah kadar ketergantungan yang sangat tinggi pada kedua hal tersebut. Segala sesuatu harus diletakkan pada tempatnya. Mengenai televisi, kata Elly, idealnya diperlakukan seperlunya saja. “Cukup menonton acara yang kita suka saja. Kita tidak perlu menonton semuanya,” saran Elly, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati. Orang-orang yang punya self control, akan bisa mengatur dirinya hanya memilih acara yang dia sukai dan perlukan saja.

Kecanduan yang sama terjadi juga pada masyarakat kita dalam menyikapi gadget. Melihat fenomena ini, Elly berpendapat, masyarakat kita masih didera cultural shock. “Tak sedikit yang menghabiskan waktu untuk mengikuti tren gadget. Orang kehilangan esensi, they don’t know what to do and don’t know where to go. Dengan kata lain, tak tahu tujuan hidupnya sendiri. Maunya apa, sih, sebetulnya? Hidup kita kan waktunya terbatas. Kenapa tidak berusaha membuat waktu yang sebentar ini begitu berharga dengan hal lain yang lebih bermanfaat ketimbang asyik dengan gadget,” jelas Elly. 

Mencoba hidup baru dengan mengurangi ketergantungan pada teknologi dilakukan oleh Noviana Kusumawardhani. Pegiat Bali Spirit Festival dan pembaca tarot ini sudah beberapa tahun terakhir ini mengaku bebas dari kecanduan smart phone, televisi, dan belanja.

Menurut pengamatannya, smart phone telah banyak membuat human relations lebih berkurang. “Selain itu, tanpa kita sadari, berbagai gadget yang memancarkan gelombang elektromagnetik di rumah akan menyedot prana atau energi kehidupan kita. Kalau seseorang terlalu sering bersinggungan dengan benda-benda itu, energi keilahian dalam diri manusia akan habis. Makanya, orang jadi mudah marah, jahat, dan energi negatif akan keluar,” jelas Novi. Hidup ‘asketik’ dan melepaskan diri dari kecanduan teknologi itu dilakukan semata karena ia merasa ingin belajar menikmati hidup.

Konsumerisme juga menjadi hal yang menjadi concern Novi untuk dihindari. Menurutnya, konsumerisme adalah soal pemborosan. Pilihan hidupnya ini tak lepas dari keinginannya untuk menjadi contoh yang baik bagi kedua anaknya.
 
Hal serupa diyakini oleh Elly, bagaimana menyikapi teknologi adalah pilihan. Tetapi, sebelum memutuskan gaya hidup mana yang hendak dipilih, ada satu pertanyaan yang sebaiknya dilontarkan untuk diri sendiri, “Apa yang akan dipelajari anak saya kelak dengan pilihan saya ini?” (f)




 
 
  > KOMENTAR
 
  Tulis Komentar Forum
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti anda telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
K I R I M  
 
Poling

Enaknya di Pusat Kota
Bagi Anda yang tinggal di suburban Jakarta, seperti Bekasi, Depok, Tangerang, dan Bogor, apa yang paling Anda rindukan dari tinggal di pusat kota Jakarta?

Tempat hiburan yang lengkap (Mal, Pub, Cafe, dan Resto)
Fasilitas yang serba ada
Lingkungan atau pergaulan sosial Anda
Jarak yang dekat untuk ke pusat Kota

Topik Hari Ini
Lady Gaga Batal Konser
Lady Gaga batal konser di Jakarta. Komentar Anda?
KOMENTAR
21 May 2012 - dian fitri kustarto
lady gaga ga jadi konser di indonesia sebetulnya ga apa-apa sih.. tapi bagaimana dengan fans lady gaga yang sudah membeli tiket konser lady gaga??  sangat disayangkan pihak sponsor kurang koordinasi dengan pihak dan lembaga terkait.. mungkin bil ...
21 May 2012 - pardosi
sangat menyayangkan hal ini karena sejauh ini konser2 yang diadakan di Indonesia belum ada yang kontra sampai seperti ini,seharusnya kita melihat sosok Lady Gaga harusnya melihat dari segi kreatifitasnya,karya seninya bukan semata2 pakaiannya,oleh ka ...
21 May 2012 - meetsynthia
saya msk golongan yg tidak ngefans lady gaga..tp sy klo di bilang vulgar dan merusak moral bangsa,wah ga stuju tuh!terlalu lebay dan tuduhan yg tanpa dasar..yg berlaku vulgar dan merusak moral bangsa jangan hanya ditimpakan ke lady gaga aja dong,liat ...



Majalah Femina  Edar 
Wednesday, 16 May 2012