Generasi millenial kelas menengah menyadari peluang bisnis yang ada dari kemajuan teknologi informasi. Kreativitas dalam berbisnis terus diciptakan. Contohnya, Uber, rental mobil terbesar ini justru tidak memiliki kendaraan sendiri. Sementara, provider akomodasi terbesar adalah AirBnB yang juga tidak memiliki real estate sendiri. Dan, Facebook yang merupakan perusahaan media terbesar justru tidak membuat konten sendiri.Baik Martin Siyaranamual, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran dan perencana keuangan independen Ligwina Hananto menilai, generasi ini lebih perlu meningkatkan produktivitasnya. Sampai kapan negara ini dapat menggantungkan pertumbuhan ekonominya kepada konsumsi? “Barang-barang yang dibeli adalah barang tangible yang tahan lama. Sifat impulsif ini short term. Suatu saat akan berhenti,” papar Martin.
Wina lalu menambahkan, pertumbuhan ekonomi yang baik seharusnya didorong oleh produksi, bukan konsumsi. “Kita akan memasuki golden era dari bonus demografi di tahun 2020. Puncaknya adalah tahun 2030. Di masa itu, kelompok usia produktif di Indonesia didominasi oleh generasi millennial. Merekalah yang akan jadi tulang punggung perekonomian bangsa ini,” ujar Wina.
Masyarakat Indonesia mungkin memang perlu berterima kasih kepada generasi millennial kelas menengah perkotaan ini. Karena, tingkat konsumsi mereka yang tinggi secara positif berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. “Perekonomian kita tidak turun terlalu dalam karena pola konsumsi generasi millennial kelas menengah perkotaan ini. Sifat impulsif mereka di satu sisi memang tidak terlalu baik, namun di sisi lain membuat roda perekonomian di negara ini terus berputar,” ungkap Martin.
Sayangnya, mayoritas angkatan kerja kita saat ini hanyalah lulusan SMP. Dengan kompetensi yang kurang memadai, tentu ia akan kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak dan tingkat produktivitasnya pun tidak optimal. “Harapan terbesar kita terletak pada generasi millennial kelas menengah perkotaan yang rata-rata lulusan S-1. Jika mereka dapat meningkatkan produktivitasnya, tentu manfaatnya akan sangat baik,” ujar Martin.
Di sisi lain, Wina juga mengutarakan pentingnya meningkatkan financial literacy. “Dengan memperhatikan value for money ketika membeli barang, kita sudah menjadi smart shopper. Yang sekarang perlu kita lakukan adalah menjadi smart investor. Kesadaran berinvestasi juga perlu dibarengi dengan pemahaman dan pemilihan produk investasi yang tepat sesuai dengan tujuan-tujuan investasinya."
Martin juga berujar, produktivitas tidak selalu terkait dengan investasi maupun kewirausahaan. Sebagai karyawan, kita dapat meningkatkan produktivitas dengan menggunakan gadget yang kita miliki untuk lebih produktif bekerja. “Aspek ingin show off ketika membeli gadget memang tidak bisa hilang, ini disebut dengan veblen effect. Tapi, setidaknya kita dapat memaksimalkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan performa kerja." (f)
Baca Juga:
Gaya Millenial Berbelanja
Generasi Millenial Suka Produk Lokal?


