Trending Topic
Gaya Blusukan Walikota Surabaya

18 Feb 2014


Tantangan sebagai wali kota, menurut Risma, bukan hanya dalam hal pembangunan fisik seperti pembangunan infrastruktur kota. Karena, hal itu sudah dibuat rencana jangka panjangnya, seperti untuk membangun jalan baru dan tender untuk transportasi publik guna mengurai kemacetan.

“Di luar itu semua, tantangan yang tak kalah besar adalah menata manusianya,” katanya. Ia percaya, suatu kota bisa berhasil jika mempunyai sumber daya manusia yang bagus dan kreatif. Makanya, Risma menyadari, salah satu tugas utamanya adalah memberi fasilitas bagi anak-anak dan kaum muda untuk menjadi lebih kreatif.
Taman kota memang salah satu fokusnya. Taman Bungkul, misalnya, sekarang dilengkapi arena skateboard, track sepeda BMX, jogging track, amfiteater, taman bermain anak, kolam air mancur, dan pujasera. Taman ini bahkan memiliki jalur untuk penyandang cacat.

Anak berkebutuhan khusus diajari berkesenian dan memasak, skill yang bisa menjadi bekal masa depan mereka kelak. Risma juga punya perhatian besar pada anak-anak kurang mampu dan anak penderita penyakit berat seperti kanker. Terhadap anak-anak nakal, Risma membina mereka untuk menjadi atlet olahraga berprestasi. Sekarang, ia bisa berbangga hati melihat keberhasilannya membina 1.200 UKM, membina anak-anak nakal, menghidupkan 492 perpustakaan, serta meramaikan taman-taman kota untuk aktivitas warga.

Melihat keberhasilannya sejauh ini, bagaimana cara ia bekerja? Itu yang menarik untuk diketahui. Sebagai wali kota, ia mengaku nyaris tak punya hari libur. “Masalah terus ada, dari Senin sampai Senin pagi lagi,” cetus Risma, yang menyerahkan pekerjaan-pekerjaan berat kepada wanita, misalnya sebagai kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Pemadam Kebakaran. Risma menambahkan, Surabaya bisa menjadi contoh, tak ada alasan wanita tak bisa menjadi kepala dinas.

Risma juga punya jam kerja yang tidak main-main. Berangkat dari rumah pukul 5.30 pagi, Risma tidak langsung menuju ke kantornya, melainkan keliling dulu.  Ia telaten mengunjungi orang-orang yang tidak mampu, pasien rumah sakit, atau sekolah.
Lucunya, tak jarang para pegawai dari tempat yang ia kunjungi, tak mengenali bahwa itu adalah wali kota mereka. Sebab, untuk kunjungan ke warga, Risma tak menggunakan protokoler. Misalnya, suatu kali ia pernah diusir oleh seorang perawat di sebuah rumah sakit, karena datang bukan pada jam besuk. Padahal, Risma bermaksud menengok seorang anak keluarga tak mampu penderita kanker yang mengirim surat kepadanya. Tapi, Risma menanggapinya tidak dengan cara pamer kekuasaan.  

Pulang dinas, Risma kembali keliling mengontrol kondisi kota.  Di musim hujan, ia lebih sering pulang larut malam demi mengecek genangan air dan membersihkan saluran air yang tertutup. “Kalau ada genangan, terkadang karena saluran air tertutup daun daun, saya ikut bersihkan. Kalau ada kebakaran, saya tungguin sampai paginya. Ikut menarik mobil pemadam, menolong banjir, dan lainnya,” tutur Risma.  

Kebiasaan bersih-bersih itu tampak dari isi mobilnya. Di mobil, Risma selalu sedia sapu, tempat sampah, beras untuk orang yang tidak mampu, buku-buku dan bola. Tak jarang, ia turun tangan untuk menyapu dan bersih-bersih, jika melihat ada sudut kota yang kotor. Bola dan buku terkadang dibagikannya kepada anak-anak.

Tiap malam Minggu Risma meluangkan waktu untuk razia ke tempat-tempat hiburan. Apa yang ia lakukan? Ia ‘menangkapi’ anak-anak di bawah umur yang kedapatan berada di tempat hiburan. “Setelah beberapa lama kami lakukan, sekarang hampir tidak ada anak asal Surabaya. Kalaupun ada, biasanya anak-anak dari luar kota. Mereka lalu kami antar sampai ke rumah orang tua masing-masing,” ujar Risma.
   
Totalitas istri dari Djoko Saptoadji ini terhadap tugasnya tak diragukan lagi. Di rumah, ia adalah seorang ibu yang tetap mengontrol kedua anaknya, Fuad Benardi dan Tantri Gunarni, meski mereka saat ini sudah menjadi mahasiswa. “Saya tetap mengontrol mereka. Nanti pulang jam berapa, sudah makan belum. Masih saya tanya seperti itu, meskipun sudah mahasiswa,” ujar Risma, yang mengaku punya hobi menata rumah  tiap ada kesempatan.

Risma bercerita, ia juga mengajarkan kesederhanaan kepada anak-anaknya. Setelah ia menjabat sebagai wali kota, anaknya pernah   bertanya, “Ma, rumah kita kan kecil, kenapa enggak beli rumah yang lebih besar?” Risma pun menjawab, “Mama dapat uang dari mana? Kamu tahu enggak berapa gaji wali kota? Banyak orang lain yang hidupnya masih kekurangan,” cerita Risma.

Pernah juga anak-anaknya protes, mengapa  mamanya turun ke jalan raya mengatur lalu lintas langsung, memunguti sampah, bukankah sudah ada orang lain yang bertugas untuk itu. “Saya katakan, ‘Kan Mama ini jadi contoh, jadi teladan. Kalau Mama saja mau, mereka juga harus mau. Lagi pula, kalau bawahan kewalahan mengatasi, supervisor harus turun untuk membantu. Itu yang harus Mama lakukan,’” tegas Risma.

Kedisiplinan dan kejujuran juga diajarkan oleh Risma. Hal ini tampak dalam ‘kebijakannya’ ketika memberikan uang kepada anak. Misalnya,  tiap kali anaknya meminta uang, mereka harus bisa mempertanggungjawabkan untuk apa uang itu. “’Uang ini hasil keringat Mama, enggak boleh dibuang-buang seenaknya.’  Jadi, kalau mereka minta uang, nantinya mereka harus menyertakan bon-bonnya. Hal ini sempat diprotes anak-anak, ‘Mama ini repot banget. Masa buat ke warung harus minta bon,’” cerita Risma.   
Risma bersyukur, sejak awal, ia mendapat dukungan penuh dari suami  yang sangat memahami kesibukannya. “Suami saya juga bilang, ‘Kamu harus bersyukur diberikan Tuhan kesempatan bisa menolong orang lain. Tidak semua orang mendapat kesempatan untuk menolong orang lain.’ Prinsip itu yang saya pakai,” ujar Risma.

Ficky Yusrini


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?