Topik Hangat 

Dulu dan Sekarang


 
Rating Pembaca
 
Beri Rating Artikel ini

31 Jul 2013
Dulu dan Sekarang Femina

Orang sekarang bisa saja terlihat mentereng. Anda boleh saja mengaku lulusan S-3 universitas luar negeri, jadi bos di kantor, punya gadget tercanggih, tapi urusan mengajari anak atau membantu mengerjakan PR sekolah, tak semua bisa.  

Selain diminta mengerjakan soal-soal dari  tiap pelajaran yang diberikan hari itu di sekolah, anak SD sekarang sudah akrab dengan tugas untuk membuat presentasi, buklet, esai, atau bahkan mading (majalah dinding). Sumbernya? Google, metode berhitung ala A, atau membaca cepat ala B, dan seterusnya.
Tengok saja, murid kelas 2 SD, yang harus bikin PR berhitung dengan sempoa. Wah, dulu kita mana pernah diajarkan sempoa?

Atau murid SMP kelas 1, yang diberi PR membuat denah jaringan komputer di sebuah kantor. Makin prestise sekolahnya, rasanya makin susah jenis pelajaran atau PR-nya. Betulkah demikian?     

Menurut psikolog Gisella Tani Pratiwi (Ella), materi pelajaran anak sekarang memang terlalu berat. Ini berlaku untuk tiap tahap kelas. Materinya juga terlalu padat untuk dikuasai anak dalam waktu singkat.

“Setahu saya, di kurikulum dan kebijakan pendidikan nasional, anak yang mau masuk SD tidak dituntut bisa membaca, menulis, dan berhitung dengan lancar. Tapi, praktiknya di kelas, materi yang disajikan dan diterima anak, menuntut anak sudah bisa membaca bahkan mencerna kalimat yang cukup kompleks. Ditambah lagi, kurangnya waktu bagi anak untuk memahami satu materi. Salah satu yang dianggap cukup sulit, misalnya dalam pelajaran matematika,” kata Ella, menyesalkan.

Menurut Andri Nurcahyani, S.Pd, MS, kepala sekolah SMP-SMA Bogor Raya, tidak ada yang salah dengan konten pelajaran anak-anak sekarang. Yang membuat pelajaran tampak sulit dan banyak yang harus dipelajari, karena kelemahan gurunya yang tidak bisa menemukan ide sentral materi. Kunci pengajaran terletak di tangan guru, bagaimana  guru menyederhanakan materi dan menyarikan inti. Harus diakui, masih banyak guru yang textbook oriented.” ujar Andri yang sudah menjadi guru SD, SMP, SMA sejak 19 tahun lalu ini.
   
Dalam mengajar, guru berpatokan pada kurikulum, dengan standar kompetensi yang harus dipenuhi di setiap tahap. “Kurikulum sekarang (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) masih on the right track. Hanya saja, kurikulum kita masih dengan metode pendekatan lower level thinking bukan highly level thinking,” jelas Andri lagi. Yang dimaksud dengan lower level thinking adalah pendekatan yang kurang men-challenge anak, dan memilih dari pilihan yang sudah ada (pilihan ganda), hingga tidak memberi kesempatan anak untuk menyampaikan opininya sendiri. Sedangkan highly level thinking, pendekatan yang lebih banyak mengajak anak menyampaikan pendapatnya lewat essay, writing, analisis, hingga sintesis.
  
Namun memang, penamaan pelajaran yang kerap berganti membuat para guru harus bolak-balik melakukan penyesuaian.  Contohnya saja, kurikulum 2013 yang kabarnya akan berubah nanti, berbentuk tematik. Beberapa pelajaran akan digabung, seperti IPS, digabung dengan PKN. Ini berarti murid-murid harus menyesuaikan  diri lagi.
   
Saat-saat kritis adalah saat anak baru masuk SD. Menurut Ella, secara psikologis anak kelas 1 seharusnya lebih perlu beradaptasi terhadap tuntutan dunia SD yang jauh berbeda dengan TK, termasuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Sehingga, penekanan belajar harusnya lebih pada proses penyesuaian. “Mereka butuh waktu untuk adaptasi. Jika beban materi tidak terlalu banyak, guru akan memiliki energi untuk memperhatikan kondisi psikologis anak. Dan, seharusnya, anak tidak perlu terburu-buru menguasai pelajaran. Karena, pada akhirnya mereka bukannya mengerti, tapi malah menghafal,” tambahnya.  
   
Akibatnya, di beberapa kasus, orang tua yang dengan alasan tidak tega melihat ‘penderitaan’ anak, memilih untuk mengambil alih mengerjakan PR anak. Padahal, PR adalah salah satu instrumen proses pembelajaran anak. Kembali ke tujuannya, PR diberikan untuk membantu anak mengetahui dan memahami tentang apa yang sedang mereka pelajari. Lewat PR, anak juga berlatih bertanggung jawab terhadap tugas.




 
 
  > KOMENTAR
 
  Tulis Komentar Forum
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti anda telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
K I R I M  
 
Topik Hari Ini
TOPIK Hari Ini
'Korupsi' Kecil-kecilan
Bentuk korupsi yang ingin Anda buang jauh-jauh?
KOMENTAR
01 Feb 2015 - yulia saleh
korupsi tabungan anak atau pinjam uang mrk tanpa pernah saya kembalikan.biasanya untuk keperluan pribadi atau keperluan rumah tangga yg mendadak di kala saya tdk punya uang, rasa bersalah kna telah menghabiskan uang anak,tahun ini saya akan pelan2 me ...
31 Jan 2015 - marina gardeniamobile
Korupsi waktu dengan pasangan... kadang kalau sedang terlalu banyak urusan pelik di kantor, urusan anak atau urusan domestik yang lain, saya agak lebay ingin memanjakan diri dengan memperbanyak 'me time' , yang berarti mengkorupsi quality time saya d ...
31 Jan 2015 - anisa risatyahmobile
ingin sekali membuang jauh korupsi waktu.bukan pada saat membuat janji, karena saya selalu berusaha tepat waktu. saya sering mengkorupsi waktu mengerjakan tugas dan kadang korupsi jam mengajar (oh tidak!) :(



Majalah Edisi 05 (Edar 31 Januari - 6 Februari 2015) Femina  Edar 
Wednesday, 28 January 2015






  VIDEO