Kalau kulit sedang terasa gatal, menggaruk rasanya seperti 'surga'. Kebiasaan menggaruk akan menimbulkan rasa nikmat. Sehingga, kita jadi terangsang untuk terus menggaruk. Usaha untuk menhilangkan rasa gatal itu pun akan makin hebat. Mulanya hanya dielus-elus dengan jari, lama-kelamaan dengan kuku, yang hampir bisa dipastikan tidak bersih. Proses menggaruk ini baru berhenti ketika rasa gatal berubah jadi perih, karena sudah timbul luka.
Jadi, sebisa mungkin hindari menggaruk, karena menggaruk akan makin memicu pelepasan histamin (suatu zat kimiawi yang dilepaskan di dalam tubuh selama terjadinya reaksi alergi), sehingga kulit
terasa makin gatal. Selain itu, menggaruk bisa menimbulkan komplikasi yang akan memperparah kondisi kulit.
Selain luka, menggaruk bisa menyebabkan terjadinya urtika (bentol atau bengkak kemerahan), yang makin gatal. Bila digaruk dengan
kuku kotor, dapat terjadi infeksi. Bila terjadi dalam jangka panjang, maka akan ada perubahan warna menjadi kehitaman dan kulit daerah eksim akan menebal dan mengeras (likenifikasi).
(f)