Career
Seribu Satu Alasan

10 Dec 2012

Sebuah survei yang dilakukan media online Gallup dari Amerika Serikat menyebutkan bahwa seseorang keluar dari sebuah perusahaan bukan karena perusahaan itu sendiri, namun karena kecewa oleh sistem kepemimpinan atasan.

Bahkan, survei yang dibuat oleh situs Badbossology.com terhadap 1.118 orang menemukan bahwa jika bisa, 50% responden ingin memecat atasan mereka. Sedangkan 30% responden menginginkan atasan mereka menemui psikolog dan 23%-nya ingin mengirim atasan mereka ke pelatihan manajemen.
   
Executive Director dari Management Development International, Drs. Ferry W. Atmadi AK, MIM, mengatakan bahwa hal ini serupa dengan yang terjadi di Indonesia. Peran atasan menjadi sangat penting untuk kelanggengan karyawan di sebuah perusahaan. “Memang, masalah gaji dan fasilitas yang diberikan perusahaan masih sangat berperan, khususnya di Indonesia. Namun, hasil survei di atas bisa mengingatkan kita bahwa peran atasan sangat berpengaruh dalam meretensi staf perusahaan,” tegasnya.

‘Tak jodoh’ dengan atasan memang jadi salah satu alasan serius ketika Anda memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan perusahaan tempat Anda bekerja. Namun, hal ini bukan satu-satunya jalan yang baik, apalagi jika Anda sering melakukannya.

“Karyawan harus bersikap optimistis bahwa atasan tidak selamanya menjabat di posisi yang sekarang. Bila kurang menguntungkan untuk menunggu terlalu lama, Anda bisa menawarkan untuk berpindah tim atau pindah unit kerja. Buatlah keputusan yang lebih menguntungkan Anda dibanding mengambil keputusan untuk keluar dari organisasi,” jelas Ferry.

Selain itu, alasan berpindah-pindah perusahaan bisa juga disebabkan karena Anda belum menemukan apa yang Anda inginkan. Seperti yang dialami oleh Engrith Novandi (25). Dalam 2 tahun terakhir, ia telah berganti pekerjaan tiga kali. Bidang yang ia ambil pun berbeda-beda. Satu tahun di bagian administrasi perusahaan pelayaran, lalu berpindah menjadi sekretaris di perusahaan hukum, dan kini ia menjalani pekerjaan yang sama di perusahaan hukum lainnya.

“Alasannya macam-macam, mulai dari merasa tidak nyaman di perusahaan lama, deskripsi pekerjaan yang monoton, jam kerja dari pagi hingga larut malam, sampai tim kerja yang tidak menyenangkan,” terang Engrith.

Untuk kasus seperti ini, Ferry mengatakan pentingnya mencari jati diri. Caranya, ambillah waktu untuk berdialog dengan diri sendiri dan tanyakan apa tujuan yang ingin dicapai dalam hidup, cita-cita serta bidang apa yang ingin ditekuni. Hal ini bisa dimulai dengan mengetahui apa passion Anda.

Meminta masukan dari orang terdekat, mentor, ataupun konsultan karier juga bisa ‘menyelamatkan’ diri sendiri. “Anda bisa mencontoh orang-orang yang Anda kenal atau kagumi. Jika diperlukan, Anda bisa menghubungi tokoh-tokoh yang Anda kagumi tersebut. Dengan begitu, bekerja tidak lagi sekadar senang-senang atau coba-coba saja, tetapi ada pencapaian baik yang dituju,” ujar Ferry. (f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?