Karier 

Pilih Orang Yang Tepat


 
Rating Pembaca
 
Beri Rating Artikel ini

Pilih Orang Yang Tepat Femina

Jangan heran jika ada bawahan yang meminta Anda untuk diberikan otoritas. Bagi seorang bawahan, delegasi adalah kesempatannya untuk berkembang. “Bawahan akan belajar banyak dari proses delegasi. Tanpa delegasi dari atasan, bawahan tidak bisa berkembang, tidak ada empowerment dan enlargement terhadap kompetensinya,” ujar Utari Dewi Astuti, pakar dari LHH/DBM Iradat, sebuat lembaga yang menangani sumber daya manusia.

Selain itu, jika tidak dilakukan delegasi, seorang bawahan yang perlu tantangan malah bisa ‘kabur’. Bagi sebagian orang, bekerja bukan sekadar cara mendapatkan penghasilan, tapi juga tempatnya mengembangkan diri. Bagi mereka, kesempatan mengembangkan diri adalah kebutuhan dan tujuan utama bekerja. Maka, jangan heran jika bawahan Anda yang berprestasi malah pergi saat ia tidak diberi ruang untuk berkembang. Itu tandanya, kebutuhannya untuk mengembangkan diri tidak terpenuhi. “Seseorang yang punya motivasi dan ambisi tentu ingin maju berkembang dengan tanggung jawab baru,” ujar Utari.

Namun, motivasi dan ambisi juga tidak cukup untuk menjadikan seorang bawahan terpilih menerima delegasi. Tugas seorang atasanlah untuk mengenali  tiap  bawahannya. Tidak tiap bawahan siap menerima delegasi. Lamanya  seorang bawahan bekerja juga bukan jaminan ia mampu dan pantas dilimpahi delegasi. Seorang atasan yang bijak harus menilainya dari tingkat kedewasaan, kompetensi, keterampilan, dan pengetahuan yang dikuasai bawahannya. Jika seorang bawahan dianggap sudah memiliki semua itu, lihat juga apakah ia memiliki kemauan untuk menerima tugas dan tanggung jawab tersebut.

Di sisi lain, ada kemungkinan bawahan yang sudah Anda nilai pantas untuk diberi delegasi, menolak. “Jangan langsung marah dan mem-blacklist bawahan itu. Ada banyak faktor yang bisa membuat seorang bawahan menolak saat akan diberi delegasi. Pertama, ia merasa tidak mampu. Misalnya, tidak siap harus menghadapi klien yang berbahasa asing.

Ketidaksiapan itu tentu akan membuat ia merasa kurang percaya diri. Kedua, faktor motivasi. Mungkin ia bukan orang yang punya ambisi dan motivasi tinggi untuk maju,” komentar Utari. Faktor lain, mungkin pada sistem organisasi perusahaan. Bisa jadi ia merasa sedikit atau banyak tanggung jawab yang didapat karyawan, tidak memberi pengaruh pada penghargaan yang diberikan perusahaan. Akibatnya, ia tidak merasa perlu berbuat lebih.
Kalau sudah tahu alasannya, jangan memaksa. Jangan ambil risiko. Memang, Anda ingin mengembangkan kompetensi orang tersebut, tapi jika orangnya belum siap, akhirnya perusahaanlah yang akan menanggung risikonya.

NURI FAJRIATI






 
 
  > KOMENTAR
 
  Tulis Komentar Forum
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti anda telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
K I R I M  
 
Topik Hari Ini Curhat Medsos Femina
TOPIK Hari Ini
Curhat Medsos
Media sosial memang sudah seperti reality show. Selain sharing informasi, tak jarang juga kita menemukan status berisi curhatan, keluh kesah, atau gerutuan tentang masalah yang dihadapi. Perlu nggak sih, kita ikut campur, sampai berkomentar menghakimi tentang curhatan mereka ini?
KOMENTAR
05 Sep 2015 - Anggreini
Kalo saya ada 2 hal yang saya perhatikan:1. Lihat dulu siapa yang buat status, lebih sering komentar di status org yang dikenal atau orang yg memang dianggap berpengaruh.2. Saya akan komentar apabila status yang lebih ke sharing bukan status galau at ...
03 Sep 2015 - intifada
kalau menurut saya, apabila topik yang dibicarakan seru untuk dibahas dan perlu dikomentari ya komentar saja toh kan itu sudah milik publik karena dishare di media sosial. kalau pun kita sudah merasa gerah dan risih dengan postingan yang menurut kita ...
02 Sep 2015 - susanzahara
Saya rasa gak perlu......!!, kalo curhatannya mulai bikin gerah dan risih mending unfollow aja. Rasanya menghakimi itu sangat tidak etis dan gak ada untungnya.



Majalah F35-2015 Femina  Edar 
Wednesday, 2 September 2015






  VIDEO