Career
Jadi Miss Invisible? Ada Keuntungannya!

24 Mar 2014


Lebih sering diberi pekerjaan yang sederhana, atau tak dilibatkan dalam proyek besar. Sudah kerja keras, tapi kehadiran Anda seolah tak dianggap penting. Hal ini tak berarti Anda kehilangan peluang untuk memajukan karier. Justru, sebagai seorang underdog, ada peluang yang dapat Anda nikmati dan maksimalkan. Sylvina Savitri dari Experd Consultant memaparkannya untuk Anda.

Umumnya digunakan dalam situasi kompetisi, seseorang akan disebut underdog ketika ia tidak diunggulkan untuk menang. Saat ia tersingkir dari arena, hal itu akan dianggap lumrah. Namun, bukan berarti kaum underdog harus selalu siap menerima kekalahan. Hal ini juga berlaku dalam menjalani karier.

Dalam situasi nyata di tempat kerja, ada bermacam alasan yang membuat seseorang dianggap sebagai underdog. Misalnya, tidak memiliki keahlian yang menonjol dalam bidang-bidang yang secara langsung teramati oleh orang lain, seperti berbicara di depan umum. Selain itu, label underdog juga bisa tersemat karena rekam jejak profesional seseorang yang tidak secemerlang rekan-rekan kerjanya yang lain.

Perlu diingat, menjadi underdog bukan berarti seseorang memiliki kinerja yang buruk. Seseorang yang bekerja di bawah standar tidak akan mungkin direkrut dan menjadi bagian dalam tim.

Seorang underdog sekalipun punya potensi untuk menampilkan kinerja terbaiknya, sama seperti rekan-rekannya yang lain. Bahkan, seorang underdog punya keuntungan tersendiri yang tidak dimiliki anggota tim lainnya.
Apa, sih, enaknya? “Karena tidak dianggap sebagai ‘pemain utama’, seorang underdog bisa mengerjakan tugas-tugasnya dengan lebih damai, tanpa menerima banyak sorotan,” ujar Sylvina.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan dari  tiap individu di dalam tim, tak bisa dipungkiri bahwa akan muncul segelintir orang yang menonjol maupun berada di posisi terbawah. Hal ini tak perlu dikhawatirkan, karena ini justru dapat menghadirkan dinamika dalam tim,  tiap orang di dalamnya bisa saling mengisi.

Meski seolah tidak diperhitungkan, seorang underdog dapat tetap mengamankan posisinya di dalam tim bila ia selalu siap membantu anggota tim yang lain. Sylvina menilai, ini merupakan pilihan realistis bagi para underdog yang relatif lebih jarang disorot. Menurutnya, orang yang siap membantu akan selalu dibutuhkan di dalam tim.

Apabila semua orang brilian saling berkompetisi dan berusaha menonjolkan diri, suasana kerja akan menjadi tidak nyaman. Padahal, dalam banyak situasi, seluruh anggota tim perlu bekerja bersama. Dalam konteks ini, keberadaan kaum underdog dapat berfungsi sebagai penyeimbang.

Selain mengembangkan sikap siap membantu sesama rekan kerja, kaum underdog juga berpeluang menjadi ‘pengikut’ alias follower yang baik. Ketika seseorang memilih untuk memperkuat orang lain yang tampil sebagai pemimpin, ia pun telah memberikan kontribusi di dalam tim.

Ibarat main basket, seorang pengikut yang baik tidak harus mencetak angka, tapi dia bisa memberikan operan ke pemain unggulan, yang kemudian berperan memenangkan pertandingan. Ia menyadari peran dan kemampuannya sebagai bagian dalam tim, sehingga tidak memaksakan diri untuk mencetak angka dan berisiko gagal.

Di sisi lain, kaum underdog tidak kehilangan kesempatan untuk membuktikan kemampuan diri di tempat kerja. Jika seorang underdog memiliki semangat untuk terus belajar dan dapat menerima kritik dan saran dengan berbesar hati, akan ada masa-masa ia dapat menunjukkan kontribusi nyata.

“Meyakini bahwa kita bisa memberikan kontribusi ke dalam tim dalam segala macam bentuknya, akan lebih baik daripada berpikir bahwa Anda tidak dianggap,” tegas Sylvina.

Sebagai seorang underdog, untuk mengenali kontribusi terbaik yang bisa Anda berikan untuk tim, Anda perlu mengenali diri Anda sendiri. Mulailah dengan mencari dan berfokus pada ‘kekuatan’ Anda, yaitu keahlian yang paling mendukung dalam pekerjaan. Beri perhatian lebih pada jenis tugas yang paling jarang menuai komplain atau paling sering mendapat pujian. Bila Anda tidak punya keunggulan di area tertentu, keahlian Anda akan terkompensasi di bidang lain, yang sebetulnya pasti kuat.

Dari sana, Anda dapat mulai mengenali ‘medan perang’ apa yang paling cocok, dan mengukur kemampuan diri untuk mengejar gol yang ingin dicapai. Jika hanya mau memberikan pembuktian di hadapan orang lain, Anda harus berhati-hati. Jika malah gagal, Anda bisa-bisa frustrasi dan malah menyalahkan diri sendiri, bahkan berpikir bahwa Anda memang tidak bisa apa-apa. (f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?