- Ambisi itu perlu. Seringkali barrier terbesar dalam kemajuan karier seorang wanita adalah faktor internal: kurangnya ambisi untuk maju dan menjadi pemimpin. Harus diakui, kata ambisius justru terkesan negatif untuk wanita, stereotip semacam ini seharusnya sudah usang.
- Berani mengambil kesempatan. Untuk itu, wanita perlu meningkatkan rasa percaya diri agar bisa menangkap kesempatan.
- Siap tidak disukai. Wanita yang mati-matian berkorban untuk tetap disukai, tidak akan bisa maju. Kalau mau membuat perubahan, kita tidak bisa menyenangkan semua orang.
- Pentingnya menemukan mentor dan sponsor. Mentor adalah orang yang memberi advis karier, sedangkan sponsor orang yang menggunakan pengaruhnya untuk mempromosikan kita. Yang harus dilakukan supaya kita menemukan mentor dan sponsor dalam perjalanan karier kita adalah dengan menunjukkan performa sebaik mungkin.
- Jujur pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Bersikaplah jujur tentang kehidupan pribadi di dunia kerja. Kejujuran itu lebih baik daripada menutupinya hanya demi menjaga image. Kejujuran ini juga berlaku dalam hal menerima kritik.
- Sukses di karier tidak berarti harus vertikal ke atas, tetapi bisa juga ke samping. Kita harus mau membuka diri ada segala kemungkinan dan mau belajar hal-hal baru.
- Jadikan pasangan sebagai partner sejati. Di samping wanita sukses, sesungguhnya ada pria yang mendukung penuh kariernya. Dukungan yang lebih dibutuhkan seorang wanita yang berkarier adalah pasangan yang bersedia dan lebih terlibat dengan pekerjaan rumah dan pengasuhan anak.
- Hindari mengejar kesempurnaan, akan lebih tepat kalau yang kita kejar adalah keberlanjutan karier dan kepuasan diri. Faktanya, banyak wanita yang menggebu-gebu mengejar kesempurnaan. Akibatnya, ia justru menjadi frustrasi. Tiap orang punya definisi tentang pencapaian mereka sesuai dengan kapasitas masing-masing.
- Jangan berhenti sebelum waktunya. Belum apa-apa, wanita sudah merasa tak akan bisa mencapai puncak dan mengambil keputusan berdasarkan masa depan yang sebetulnya belum tentu terjadi. Tentu saja, merupakan hak asasi jika seorang wanita ingin rehat dari kariernya. Misalnya, ketika ia melahirkan. Itu baru alasan. Bukan sebelumnya, atau bahkan bertahun-tahun sebelum hal itu terjadi, tegas Sheryl Sandberg.
- Berani memperjuangkan gender. Ketika kita berhadapan dengan situasi diperlakukan tidak adil karena gender, jangan diam saja. Kita harus berani menghadapi status quo. Mungkin, diam adalah cara yang paling aman. Akan tetapi, sikap ini tidak akan menguntungkan para wanita lain.
(Ficky Yusrini)




