Anda & Pria 

Kemesraan Spontan


 
Rating Pembaca
 
Beri Rating Artikel ini

Kemesraan Spontan Femina
Sesuatu yang tidak direncanakan memang mengandung risiko. Bisa gagal, tapi tak jarang pula berakhir sukses.

Kehidupan kota besar yang hectic sering kali menjadi hambatan bagi suami istri untuk merencanakan kencan. Apalagi kalau keduanya sama-sama bekerja. Jalanan yang macet, kesibukan kerja yang padat, dan anak-anak yang belum bisa ditinggal, sering kali membuat pasangan suami istri nyaris kehabisan energi untuk menikmati keberduaan.

Bahkan, tak jarang mencuri waktu untuk ngobrol di malam hari pun, sulitnya minta ampun. Apa saja kiatnya agar tak berujung dengan kegagalan?

Kemesraan suami istri perlu terus dipelihara, agar perkawinan tidak menjadi gersang. Menurut Rostiana D. Nurjayadi, psikolog dari Universitas Tarumanagara Jakarta, kalau memang tak memungkinkan untuk direncanakan, tak ada salahnya membuat kencan-kencan yang bersifat spontan agar tetap punya waktu untuk indehoy berdua.

“Sejauh hubungan suami istri tidak sedang bermasalah, dan keduanya punya ikatan emosional yang kuat, kencan-kencan spontan justru bisa menjadi oase-oase kecil yang menyejukkan,” ujar Rostiana.

Pasalnya, hal-hal yang tak direncanakan biasanya menimbulkan ‘letupan-letupan’ di dalam hati. Ini sangat menyegarkan bagi kehidupan pernikahanan yang sudah monoton dan rutin.

Tak perlu susah-susah merencanakan second honeymoon yang dahsyat, misalnya dengan pergi ke tempat-tempat romantis di luar kota atau luar negeri. Selain membutuhkan banyak biaya, juga perlu waktu khusus yang harus dirancang jauh-jauh hari. Karena itu, sambung Rostiana, kencan-kencan spontan alias kencan dadakan menjadi jalan keluar yang efektif dan –pastinya– jauh lebih hemat. Misalnya, nonton ke bioskop atau mencoba restoran baru, ketika jadwal keduanya sedang santai.

Selain menimbulkan surprise, hal-hal yang spontan biasanya juga akan memancing kembali semangat avonturir manusia. Mengutip teori Erick Berne tentang Analisis Transaksional, Rostiana menyebutkan, pada dasarnya manusia memiliki tiga unsur kepribadian, yaitu unsur anak-anak (bermain, bertualang, bereksperimen, semua dianggap lucu), unsur dewasa (realistis, penuh pertimbangan), dan unsur orang tua (melindungi, menasihati). Ketiga unsur itu dibutuhkan seimbang agar seorang manusia dapat sehat secara psikologis. (f)


 
 
  > KOMENTAR
 
  Tulis Komentar Forum
200 karakter tersedia

** Dengan meng-klik tombol "kirim" berarti anda telah menyetujui Privacy Policy & Disclaimer kami.
K I R I M  
 
Topik Hari Ini Kekerasan Seksual pada Anak Femina
TOPIK Hari Ini
Kekerasan Seksual pada Anak
Bagaimana Anda melindungi anak dari kekerasan seksual? Dan hukuman apa yang paling pantas untuk pelaku kekerasan ini?
KOMENTAR
17 Apr 2014 - yovita.smobile
Saat hendak melepas ank masuk dunia sekolah pertamakali,yaitu TK. Saya sudah memberitahu dan mengajarkan ke3 putra saya bahwa tubuh mereka harus mereka lindungi sendiri.Tidak ada yg boleh menyentuh tanpa ijinnya.Dan mrk boleh marah pada yg melakukann ...
17 Apr 2014 - mulyadewi
cukup sulit memang kita bisa mengawasi anak2 kita 24 jam penuh, walaupun kita sudah membekali mereka ilmu yang paling mudah ataupun yang paling canggih sekalipun, selama para pelaku yang psikopat itu belum musnah rasanya masih belum aman. tetapi h ...
16 Apr 2014 - wara
Pertama beri pengetahuan kepada anak mengenai alat kelamin, apa yang tidak boleh dan yang boleh berkaitan dengan alat kelaminnya, kedua, mengawasi setiap tingkah laku dan perkembangan anak, ketiga, mendorong pihak sekolah juga memberi pengetahuan yan ...



Majalah Edisi 16 (19 - 25 April 2014) Femina  Edar 
Wednesday, 16 April 2014






  VIDEO