
|

|


|
|
|

| |
Antara Pria, Wanita dan Film XXX

|
|
| |
Saya mengoleksi film-film yang dibintangi oleh Maria Ozawa, seorang bintang film panas terkenal asal Jepang, yang memiliki wajah imut dan gaya bicara yang manja. Jika Anda belum ngeh juga, publik di negeri ini mengenalnya dalam satu kata: Miyabi.
Ada beberapa hal yang membuat saya suka Maria. Pertama, gairahnya mudah sekali dinyalakan (entahlah, saya, kok, melihat hal itu benar-benar alami, bukan hasil rekayasa atau akting belaka). Kedua, ukuran ‘senjata’ pria Jepang masih kalah besar ketimbang pria Indonesia. Sehingga, saya tidak merasa inferior di hadapan istri saya, ketika kami menonton Miyabi bersama-sama.
Bukan Ide Menyesatkan
Menonton bersama? Ya, benar. Sebagai variasi seks dalam hubungan kami berdua, ada kalanya kami menonton film XXX. Kira-kira kondisinya seperti ini: lampu dimatikan, lilin-lilin mulai dinyalakan, lalu kami berdua menggelar permadani lembut berwarna merah -asli bikinan Turki- di lantai, dan selanjutnya DVD player pun menunjukkan tulisan play.
Eng... ing... eng... adegan demi adegan membius saya, menyulut gairah hingga ke ubun-ubun. Saat itu biasanya saya akan gelisah. Bagaimana dengan istri saya? Entahlah, sepuluh tahun menikah, masih juga dia merasa malu-malu. Tetapi, biasanya, 20 menit kemudian Maria Ozawa akan kehilangan penonton potensialnya, karena istri saya justru lebih agresif!
Ngomong-ngomong, skenario ini tidak selalu berjalan mulus, setidaknya pada Hendy, sobat akrab saya di komunitas bersepeda. Hendy baru dua tahun menikah dan sedang merasa bosan pada kehidupan seksualnya. “Masa dari hari pertama menikah, posisinya misionaris terus!” katanya suatu hari, sembari menggerutu.
Sebagai sahabat yang baik, saya mengusulkan agar Hendy memberikan edukasi seks pada istrinya secara perlahan tapi cerdas. Aha! Tentu saja diawali dengan menonton film biru bersama, lalu disusul dengan mempraktikkan gaya yang paling disukai dan disepakati mereka berdua. Ketika menawarkan usul tersebut, saya merasa sudah memberikan sejenis pahala. Bukankah hal itu berhasil untuk saya dan istri? Jadi, saya benar-benar tidak siap ketika pada suatu pagi yang indah, ketika kami selesai bersepeda off road di hutan Universitas Indonesia, Hendy mulai bersungut-sungut lagi.
“Payah lo, Lang. Gara-gara ikuti saran lo nonton film XXX, semalam gue hampir tidur di luar rumah,” katanya, seraya menggerutu.
“Kok, bisa begitu?” jawab saya cemas.
“Nggak mungkin! Sebelum Gilang bicara, gue juga sudah sering nonton film XXX bareng istri. Nggak ada masalah, tuh,” kata Sigit, rekan sesama pesepeda, membela saya.
“Pasti ada yang salah! Bisa cerita lebih spesifik, nggak?” tanya Usman, kawan yang lain.
“Begini, gue sengaja cari keping DVD bajakan di Stasiun Kota. Malamnya, film itu ditonton bareng Ratna. Mula-mula, sih, dia masih asyik menontonnya, tapi lama-kelamaan, kok, jadi naik pitam, sampai menangis segala. Gue juga nggak ngerti. Selanjutnya, gue diusir,” kata Hendy, bingung.
“Memangnya elo putar film XXX apa?” tanya saya, makin panik.
Hendy ragu menjawab, “Ya... sembarangan. Film Eropa gitu.”
Saya, Sigit, dan Usman berpandangan. Kami bertiga mencium sesuatu yang salah dan itu harus segera diklarifikasi.
“Di adegan mana Ratna mulai mengamuk?” tanya saya hati-hati.
Kali ini Hendy terdiam agak lama. Lalu memandang kami pasrah, dan berkata lirih, ”Adegan yang itu....”
Hendy berat melanjutkan, sementara kami makin penasaran.
“Yang itu, tuh,” suara Hendi nyaris tak terdengar, ”itu... yang... dari belakang.”
Dan tawa pun bergema di Hutan UI. Entah polos atau apa si Hendy ini, karena, yang namanya film XXX Eropa terkenal karena variasi seksnya yang liar: sadomasochis (seks dengan kekerasan), anal sex, dan perilaku seks menyimpang lain. Saya bisa membayangkan bagaimana reaksi Ratna yang alim, yang seorang aktivis terkenal di sebuah partai politik berbasis organisasi keagamaan. Menonton film dewasa saja pasti sudah merupakan toleransi yang sangat besar untuk suami tercintanya. Tetapi, adegan anal sex?
Mengapa Pria Suka Pornografi
Jujur saja, saya menyukai wanita cantik, terutama ketika mereka tanpa busana. Maaf, jika saya terlalu apa adanya. Tapi, rasanya, hampir semua pria normal termasuk mungkin ayah kita, suami, dan kekasih Anda, memiliki selera sama. Kami para pria yakin, Tuhan tidak pernah bercanda, ketika menciptakan makhluk bernama wanita. Setiap lekuk tubuh wanita adalah magnet yang membius kesadaran kami.
Itulah sebabnya, kadang-kadang saya menonton film XXX atau –dengan senang hati-- menerima kiriman gambar-gambar wanita seksi dari seorang kawan yang punya hobi browsing gambar-gambar tersebut dari internet. Terus terang, dulu ketika baru pertama menerima gambar XXX, saya sempat berpikir soal dosa, soal rasa enak tak enak pada istri, soal penghargaan pada wanita, Undang-Undang Pornografi, dan sebagainya. Namun, kemudian saya menarik diri dari ‘kontemplasi’ itu. Bukan, bukan maksud saya untuk melakukan pembelaan diri, karena barangkali dari beberapa sudut pandang, apa yang saya lakukan memang kurang benar. Yup, dengan dada terbuka saya menerima vonis bersalahnya.
Namun, di sisi lain, aktivitas terlarang itu justru memberikan banyak manfaat untuk saya. Maksud saya, seperti kebanyakan pria Indonesia lainnya, saya tumbuh dan berkembang dalam keluarga konvensional. Seks bukanlah sesuatu yang nyaman untuk diperbincangkan. Seks adalah sesuatu yang berhenti pada kalimat mama saya, “Mau tahu, aja,” dilanjutkan dengan terkikik malu-malu.
Kami para pria muda kemudian mencari seks dari buku stensilan Anny Arrow, Petualangan Nick Carter, atau yang lebih berisiko, membeli majalah Playboy kumal di Pasar Senen, yang karena alasan tertentu oleh penjualnya, dibungkus kalender bekas. Dan simsalabim... ketika dibuka isinya ternyata sebuah majalah agronomi edisi lama!
Di saat kami masih muda, saya dan kawan-kawan menanggung beban berat, yaitu gelegak gairah muda bernama akil balik. Di masa puber itu kami sudah merasakan tarikan magnet yang kuat dari lekukan tubuh wanita. Kami tahu bahwa suatu masa kami akan jatuh dalam pelukan salah satu dari wanita-wanita cantik yang kami kenal.
Dan, wanita pertama yang begitu membius saya adalah ibu guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP), ketika saya masih duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama. Ibu guru cantik itu selalu menghiasi malam-malam saya dalam mimpi penuh gairah.
Jadi, meskipun saya tidak lebih polos ketimbang istri saya di awal-awal pernikahan kami, Anda bisa membayangkan bagaimana kehidupan seks kami di masa itu. Benar, persis si Hendy: gaya andalan adalah misionaris, sampai bosan.
Keinginan untuk upgrade kemampuan di atas ranjang, demi kebahagiaan perkawinan kami, membuat saya mengabaikan norma yang berlaku umum. Apalagi, penelitian mengenai media habit yang dilakukan the Pew Internet & American Life Project menyebutkan bahwa 26% pria pengguna internet mengakses situs porno, sedangkan kaum wanitanya hanya 3% saja.
Dalam penelitian itu disebutkan alasan mengapa pria suka pornografi, yang ternyata sama seperti alasan yang dikatakan sobat saya, seorang fotografer, Danny Indriyanto, “Melihat gambar-gambar wanita ‘polos’ adalah salah satu teknik relaksasi untuk kita, para pria.” Dan, 100% saya sependapat dengannya.
Ini Soal Komunikasi
Dalam situs WebMD, psikolog sekaligus terapis seks dari Michigan, Russel Stambaugh., Ph.D., mengatakan bahwa kadang-kadang ada wanita yang cemas dengan aktivitas pasangannya yang suka menonton film XXX, membuka laman dewasa di internet, atau melihat foto wanita-wanita tanpa busana. “Yang satunya sangat tertarik, yang lainnya menganggap hal itu adalah masalah,” katanya. Tetapi, ia melanjutkan, berdasarkan penelitian hanya ada 5% dari pecandu pornografi yang kemudian bermasalah dalam kehidupan seksualnya.
“Beberapa wanita merasa terancam karena mereka berpikir bahwa mereka tidak seseksi atau secantik bintang film porno,” kata terapis seks dari San Fransisco, Lonnie Barbach., Ph.D. “Ini bukan tentang hal-hal yang tidak didapat pria dari pasangannya, melainkan lebih pada tentang keingintahuan pria pada hal-hal baru yang bisa merangsang gairah mereka.”
Setuju! Seperti yang saya sebutkan di awal, kami para pria juga kadang-kadang merasa inferior, jika menonton film Eropa atau Amerika dengan bintang film porno prianya yang ‘bersenjata’ superbesar. Banyak pakar seks bilang bahwa size doesn’t matter, tetapi perasaan inferior itu kadang-kadang menyelip juga, walau tidak terlalu mengganggu. Toh, jika terpaksa (misalnya karena koleksi Miyabi dipinjam kawan), maka the show must go on.
Justru kejanggalan dan ketidakbiasaan yang saya dan istri saya saksikan di layar teve bisa menjadi bahan diskusi atau sekadar lucu-lucuan saja. Karena, kesadaran kami lebih dominan: apa yang kami tonton hanyalah sesuatu yang semu, akting, tetapi yang terjadi di sini, di depan layar teve, adalah sesuatu yang nyata dan benar-benar bisa dinikmati. Hanya itu yang penting!
Belajar dari kasus Hendy, saya malah meyakini bahwa masalahnya bukan pada film XXX-nya, melainkan pada bagaimana cara dia mengomunikasikan hal ini pada pasangannya, atau bagaimana pasangannya bisa bersikap lebih terbuka pada Hendy. Maaf, Sobat, jika saya terkesan menghakimimu.
Masa Misionaris Terus?
Istri saya adalah wanita konvensional, datang dari keluarga yang memegang norma agama sangat ketat, sehingga menonton film panas adalah hal yang tak pernah ada dalam pikirannya. Lalu, bagaimana saya mengomunikasikan keinginan saya soal seks kepadanya?
Sederhana, saya sekadar mengatakan keinginan saya, memberikan alasan yang tepat, mendengarkan alasannya, kemudian mencari solusinya bersama (betul, memang sesederhana itu). Inilah yang saya katakan padanya ketika saya menginginkan posisi woman on top untuk pertama kalinya.
“Bun, kita sudah satu tahun menikah. Masa posisinya misionaris terus,” kata saya.
“Ah, capek. Soalnya, Bunda yang usaha,” jawabnya.
“Kan belum dicoba. Cobain, deh, siapa tahu lebih asyik,” rayu saya.
Nah, setelah merayu 19 kali dan tidak berhasil, maka pada percintaan kami yang ke-20 sejak ide tersebut digulirkan, ia mau mencoba woman on top. (Ternyata, kesabaran juga sangat penting....)
Lalu, sejujurnya saya katakan bahwa dalam posisi woman on top, dia tampak sempurna dan lebih seksi. Ah... saya benar-benar berterima kasih padanya dan hal itu saya wujudkan dengan mengabulkan 101 hal yang bisa saya lakukan untuk menyenangkan dirinya. Take and give, karena dia berhak untuk mendapatkan kesenangannya pula.
Upaya serupa juga saya lakukan, ketika saya mengajaknya menonton film XXX. Saya menciptakan suasana yang membuatnya nyaman, sinar cahaya dari lilin, membeli karpet tebal yang nyaman, menyiapkan makan malam (pilihan kami spaghetti dan minuman ringan), lalu mempersilakan dirinya untuk memilih film yang disukai dengan saya sebagai pemberi saran. Bahkan, ketika film itu diputar, ia minta diganti, ganti lagi, hingga akhirnya merasa cocok dengan film drama penuh percintaan: film 9½Week yang sebenarnya bukan kategori X. Begitulah, tapi setelah itu semuanya menjadi lebih mudah.
Saya kira, seperti semua pencapaian yang bisa diraih pria di dunia ini, semuanya butuh usaha. Begitu juga usaha upaya agar istri lebih terbuka soal seks. Saya bisa memahami, jika wanita kurang menyukai film dewasa karena satu atau banyak alasan. Tapi, saya yakin, wanita juga memiliki gairah seksual yang membutuhkan waktu dan kesabaran untuk bisa dipahami, dimengerti oleh kami, para pria. Karena itu, saya memilih berkorban lebih dahulu, karena biasanya wanita akan berterima kasih dengan caranya sendiri, cara yang jauh lebih dahsyat.
Penulis: C. Gumilang (Kontributor – Jakarta)
[Dari femina 6 / 2010]

|
|
|