tahukah anda potensi dan aset di kota tempat tinggal Anda? Berapa tempat bisa Anda sebut? Bisa jadi, paling banter hanya lokasi wisata terkenal. Misalnya, jika tinggal di Bogor, Anda mungkin akan menyebut Kebun Raya. Yang di Yogyakarta, menyebut Candi Prambanan, Malioboro, dan Pasar Beringharjo. Sementara, yang tinggal di Jakarta, tak jauh-jauh, yang disebut adalah Monas dan Pasar Tanah Abang. Padahal, setiap kota memiliki banyak lokasi ’hijau’ menarik lain untuk dikunjungi.
Mengenal’Rumah’ Sendiri
Dinda Amalia (32) yang tinggal di daerah Jakarta Selatan, baru ’mengaku dosa’. Ketika temannya menunjukkan Peta Hijau Jakarta, ia ternganga heran. Dia tak pernah tahu bahwa di dekat rumahnya ada Kedai Daur Ulang ataupun Kampung Hijau Mampang. Padahal, sudah bertahun-tahun ia tinggal di sana. Ketika memperhatikan peta cukup lama (jujur saja, wanita sering kesulitan membaca peta), ia baru menepuk dahi. ”Ya, ampun, di sini ada ginian, ya?” tanyanya, polos.
Sebetulnya, apa, sih, yang dimaksud dengan peta hijau atau green map? Kenapa yang tercantum di situ tak hanya taman-taman hijau yang menjadi sarana penghijauan kota? ”Peta hijau adalah sebuah sistem pembuatan peta, dengan menandai tempat-tempat yang memiliki makna budaya dan lingkungan dengan sejumlan icon. Tujuan dari peta hijau ini adalah membuat orang sadar tentang apa yang sedang terjadi di lingkungannya. Sebab, orang sering tidak menyadari bahwa di sekitarnya ada hal-hal baik,” ujar Marco Kusumawijaya, penggagas peta hijau di Indonesia.
Jadi, yang muncul di peta tak hanya taman, melainkan juga bangunan bersejarah, museum, pusat kebudayaan, kebun binatang, dan masih banyak lagi. Di Peta Hijau Jakarta, misalnya, ada Rumah Hijau, yaitu rumah yang menggunakan konsep hemat energi dan ramah lingkungan. Ada pula Kompor Cawang yang menjadi sentra penjualan berbagai peralatan masak buatan perajin. Ada pula tempat daur ulang plastik, kertas, atau tempat pengumpulan baterai bekas.
”Bisa dikatakan, peta hijau adalah peta yang aktif, karena mendorong orang untuk belajar menghargai dan berbuat sesuatu. Karena itu, yang ditandai bukan hanya tempat yang bagus, melainkan juga tempat yang berdampak kurang baik bagi lingkungan. Misalnya, area yang menjadi sumber polusi suara,” kata Marco, menjelaskan.
Selain itu, peta ini bisa menjadi bahan yang penting untuk pembelajaran bagi anak-anak. Belajar tentang apa pun, terutama tentang lingkungan. Marco pernah membuat peta hijau bersama anak-anak sekolah di perkampungan kumuh di kawasan Mangga Dua. Hanya, peta itu tidak diterbitkan. Dengan peta itu, anak-anak baru tahu ada lahan kosong yang bisa dipakai untuk mengelola sampah.
Di Indonesia, Peta Hijau Jakarta merupakan peta hijau pertama. Kemudian, ada Peta Hijau Kemang (2001), Kebayoran Baru (2002), Menteng (2003), dan Kota Tua (2005). "Kami membuat Peta Hijau Menteng yang di dalamnya terdapat taman-taman. Tapi, bukan Peta Hijau Taman Menteng! Kami bahkan tidak setuju dengan desain taman yang tidak ramah lingkungan ini, karena ada gedung parkir, gedung kaca, dan ’perkerasan’ (penutupan tanah dengan semen) yang terlalu banyak," kata Marco.
Bukan Hanya Jakarta
Sayangnya, peta hijau yang amat bermanfaat ini masih agak sulit didapat. Di Jakarta, cuma ada di toko buku Aksara dan dijual dengan harga Rp15.000. Tetapi, uangnya tidak dilihat sebagai sebuah keuntungan, melainkan untuk dijadikan modal mencetak lagi. Kini juga tersedia dalam bentuk online. Silakan mengunduh bentuk PDF-nya lewat www.greenmap.or.id.
Lalu, di kota lain ada jugakah? Ternyata, ada. Menurut Marco, Komunitas Peta Hijau di Yogyakarta terbilang sangat aktif. Mereka membuat Peta Hijau Kota Baru dan Kota Gede. Itulah peta pertama yang available setelah Yogya tertimpa gempa. Peta itu menjadi alat bantu yang sangat berguna. Di peta itu ada identifikasi gedung tua. Kita bisa mengetahui, mana, sih, gedung tua yang dulu ada di titik tertentu. Tak berhenti sampai di situ, Komunitas Peta Hijau di Yogya juga membuat video dari tempat-tempat yang ditandai. Misalnya, video tentang pembuatan makanan manis khas Kota Gede.
Yang juga menarik adalah Peta Hijau Borobudur. Pemerintah desa sempat menggunakan peta ini sebagai alat untuk menunjukkan apa yang ada di sekitar Borobudur kepada masyarakat di sekeliling candi. Peta ini juga kemudian menjadi masukan bagi pemerintah untuk membuat tata ruang keseluruhan desa.
”Borobudur kan bukan hanya candi. Masalahnya, semua turis tersedot ke Candi Borobudur. Padahal, di sekitarnya terdapat pusat kerajinan pembuatan gerabah dan pembuatan tempe. Selain ada sumber air, ada pula homestay yang bagus. Kalau kita bisa meratakan kunjungan wisatawan ke sekeliling, tentunya masyarakat akan lebih sejahtera. Kalau tidak begitu, semua orang ingin menjadi pedagang kaki lima di sekitar candi. Tetapi, memang tak bisa disalahkan. Mereka kan tinggal di sekitar situ, masa tidak kebagian rezeki sama sekali?” kata Marco.
Penduduk Borobudur kini sedang diajak pemerintah untuk membuat jalur sepeda. Sebenarnya, mereka sudah membuat jalur sepeda sesuai keinginan para pembuat peta hijau itu, dan menurut mereka layak dan aman. Sedangkan di Jakarta, diterbitkan Jelajah Jakarta Hijau (naik angkutan umum yang dianggap ramah lingkungan). Di situ dipetakan tempat-tempat yang berlokasi kurang lebih 500 meter di kiri-kanan jalan sepanjang koridor busway dan kereta. Peta itu ditempel di halte-halte busway, agar para penumpang bisa mempelajari.
Sejak terjadinya bencana tsunami, sudah ada dua Peta Hijau Aceh. Salah satunya adalah peta kenangan, untuk melihat tempat apa yang masih tersisa, dan apa yang sudah hilang. Di Pekanbaru hanya sebatas workshop, tetapi petanya tak dicetak. Ada pula Peta Hijau Bukittinggi, Padang, Solo, Surabaya, dan Bau-Bau, sementara komunitas Jakarta sedang mencoba membuat peta berisi situ (danau).
Umumnya, peta hijau dibuat secara subjektif, berdasarkan keinginan dan pengalaman pribadi para pembuat. Bernarda Rurit (34), yang bekerja sebagai wartawan misalnya, sangat tertarik pada Kota Tua di Jakarta. Karena itu, ia dan teman-temannya menyisir wilayah itu dan menerbitkan Peta Hijau Kota Tua. ”Senangnya, selama berjalan-jalan itu, saya menemukan hal-hal menarik dan tahu tentang bermacam sejarah. Misalnya, saya baru tahu bahwa dulu di area Glodok ada pusaran air yang bunyinya ’glojok... glojok...’. Nah, dari situlah nama Glodok muncul,” kata Rurit, bersemangat.
Ia menemukan satu tempat pada zaman Belanda dijadikan tempat prostitusi dan mabuk-mabukan oleh para pelaut yang baru berlabuh. Sekarang hanya berupa lorong gelap yang sangat sepi. Selain itu, ia terkesan pada Gedung Merah, yang dulu sempat menjadi tempat tinggal gubernur. Ternyata, kini malah menjadi tempat judi.
Ricky Lestari juga punya kepedulian terhadap ruang terbuka hijau di kawasan Pondok Indah. Lewat obrolan santai, ia dan teman-temannya dari Kelompok Peduli Hijau berencana membuat Peta Hijau Pondok Indah, yang mengidentifikasi taman-taman di sana.
“Tujuannya agar area tempat tinggal kami lebih nyaman. Ruang terbuka itu juga menjadi rapi dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” kata Ricky, yang berlatar belakang pendidikan arsitektur lanskap. Nantinya, mereka akan membuat taman perpustakaan untuk anak, juga track untuk joging dan bersepeda.
Rencananya, Ricky dan timnya akan membuat peta hijau yang lebih komunikatif, tidak terlalu teknis, sehingga mudah dimengerti. ”Mungkin kami memakai gambar peta yang pop dengan icon yang seru dan lucu,” katanya.