Fiction
Roti Buaya [4]

30 Jun 2011

<< cerita sebelumnya

“Dia bilang kakinya kram, dan ini membuatnya panik. Kebetulan arus sungai sedang deras.  Dia makin panik, lalu terseret arus,” ujarku, setengah berteori. “Jangan-jangan hantu sungai itu yang menarik kakinya, supaya dia tenggelam!”

“Ah, jangan menduga macam-macam, hantu air sudah lama pensiun karena keracunan sabun cuci!”

Aku mencoba tertawa mendengar lelucon Bagas. Tapi, tawaku kering dan seratus persen garing. Hening tiba-tiba menyela. Kami sama-sama diam tak bersuara, hanya titik air dari ember timba menetes ke dalam sumur yang menimbulkan gaung. Tiba-tiba terdengar kecipak air dari dalam sumur, bunyinya keras dan jelas. Suara cecak jatuh? Pasti bukan, karena sebelumnya kami tidak melihat seekor cecak pun melintas di bibir sumur. Tikus? Lebih tidak mungkin lagi! Aku dan Bagas saling berpandangan.

“Hantu air?” ujar kami, nyaris berbarengan. Kami segera beranjak dari situ, dengan pikiran diselubungi rasa takut yang tak mudah ditepiskan. Malam makin larut. Di langit tak ada bulan, apalagi bintang. Beberapa malam berikutnya, aku dan Bagas sengaja menimba air sama-sama. Saling menunggu bila yang satu menimba, bahkan saling mengantar ke rumah masing-masing hanya untuk mencurahkan isi ember!

Baru beberapa hari kemudian misteri hantu air itu terpecahkan. Suara misterius itu ternyata berasal dari kecipak ikan yang sengaja Pak Surip simpan di dalam sumur.

“Di sumur itu banyak jentik-jentik nyamuk, biar semuanya dimakan ikan. Daripada kita digigit nyamuk demam berdarah, lebih baik kita pelihara ikan, bukan?” kata Pak Surip, sambil mengangkat ember.

Aku dan Bagas sama-sama menghela napas. Lega. Ketakutan kami selama berhari-hari itu benar-benar sebuah kebodohan! Gumpalan rasa takut yang kini buyar berganti tawa masam. Kami berdua sepakat merahasiakan kisah ini. Tentu saja, lebih baik kami sendiri yang menertawakan kebodohan itu, daripada ditertawakan dan diledek berhari-hari oleh teman-teman kami yang usil.

Sore itu, kebetulan aku dan Bagas bertemu Satria. Ditemani sopir ayahnya yang mengajarinya cara menyetir mobil, Satria tampak serius mengikuti aba-aba sang guru. Perlahan ia mengendarai mobil sedannya yang mengilap karena sering dicuci. Aku sempat membandingkannya dengan angkot milik Wak Narti. Tentu
saja beda jauh, seperti kupu-kupu dan kumbang kelapa!

Saat melintas di depan kami, Satria sengaja mengeluarkan kepalanya dari balik kaca kemudi.

“Hoii... Dito! Bagas! Ayo, ikut sini!” Satria menghentikan mobilnya pas di depan kami.

Aku dan Bagas saling pandang. Sebelum keheranan kami terhapus, Satria sudah keburu turun. Dia tampak gagah dengan kaus bertuliskan lambang Manchester United, klub sepak bola favoritnya. Sekilas dia seperti anak SMA. Mungkin, tak ada yang mengira bila Satria masih kelas satu SMP dan baru dikhitan bulan kemarin! Segera dia menggamit kami. Mulanya aku dan Bagas menolak ajakan pemuda cilik itu, tapi akhirnya  kami manut juga diajak Satria naik ke mobilnya. Lagi pula, sekali-sekali mencoba sedan mentereng, tak ada salahnya, bukan?

Sayangnya, ucapan Satria tak seempuk jok kursi mobilnya. Di kursi belakang, aku acap kali saling lirik dengan Bagas sebagai reaksi atas kata-kata Satria yang kedengarannya narsis dan sok dewasa. Sopir ayah Satria tak terlalu memperhatikan apa yang diucapkan anak majikannya. Dia lebih asyik memperhatikan jalan dan siap-siap menarik rem tangan kalau-kalau terjadi sesuatu.  

“Sekarang orang tuaku menganggap aku sudah bukan anak-anak lagi! Biasanya, kalau anak laki-laki yang sudah disunat, badannya akan bertambah tinggi dan besar.  Aku sudah remaja, tinggi badanku bertambah. Makanya, aku diizinkan belajar menyetir mobil….!” kata Satria. Kedua cuping hidungnya mengembang, dari seukuran biji salak menjadi sebesar mangga, masih untung tak sebesar duren.

Aku dan Bagas sama sekali tak berminat menimpali perkataan teman kami yang satu ini. Kami lebih suka mengamati cara Satria mengemudikan mobil yang kelihatannya sudah mulai mahir. Tak ada masalah dalam mengoper dan menginjak pedal kopling. Satria hanya perlu latihan menginjak rem agar lebih halus dan tidak mengentak. Gurunya berulang kali mengingatkan dia setiap kali mengerem kendaraannya.

Hari makin sore. Setelah puas berkeliling, Satria memacu laju mobilnya ke arah tempat kami tadi bertemu. Ia menginjak pedal rem tiba-tiba. Aku dan Bagas terlonjak dan nyaris kepalaku menyentuh atap mobil. Satria tertawa menyeringai.    

“Kalian ingin bisa menyetir seperti aku?” tanya pemuda cilik itu. Kami berdua mengangguk polos.

“Cepatlah kalian disunat supaya tidak jadi anak kecil terus!” kata Satria, sambil tertawa lebar. Tawa yang lebih mirip seringai kucing garong di depan dua ekor tikus kecil. “Kalau tidak mau jadi anak laki-laki, pakai saja rok dan main boneka tiap hari!” ejeknya lagi.   

Aku dan Bagas seakan sepakat untuk tidak meladeni perkataan Satria. Percuma, kalau dilawan malah akan lebih banyak lagi kata-kata buruk terlontar dari bibir si besar kepala itu. Daripada makin sakit hati, lebih baik diam dan selanjutnya tidak usah berteman lagi. Kami berdua heran, kawan yang satu ini benar-benar jadi berubah, bukan Satria yang selama ini kami kenal!

Sampai mobil Satria hilang dari pandangan, kata-kata Satria yang menyebalkan masih tetap terngiang di telinga kami.

“Tahu begitu, aku tak akan sudi ikut naik mobil si besar mulut itu!” gerutuku.
“Iya, mentang-mentang sudah disunat dan badannya tumbuh lebih cepat daripada kita,” kata Bagas, merasa senasib. Meski ia sudah ikut khitanan massal yang diadakan Koran Pelita hampir setahun lalu, perawakannya tetap saja kecil dan kurus. Bertambah tinggi sedikit mungkin saja, tapi belum ada perubahan yang cukup berarti. Kami memang beda jauh dari Satria, yang makanannya pasti lebih bergizi, apalagi dia juga punya bakat tinggi besar seperti bapaknya.

Aku menghela napas. Semua temanku sudah dikhitan, termasuk Catur yang baru berusia delapan tahun dan paling kecil di antara kami. Aku tahu, sebetulnya masalah yang kuhadapi ini sangat sederhana. Kalau mau dikhitan di puskesmas, hanya memerlukan uang sekitar Rp75.000-Rp100.000 saja. Bahkan, bila tak mampu membayar, tinggal bikin surat keterangan tidak mampu dari RT/RW yang ditandatangani Pak Lurah. Kalau tidak, rajin-rajinlah mencari informasi, siapa tahu ada yang mau menyelenggarakan khitanan massal.

“Sudahlah, To, daripada kamu diejek terus karena belum disunat, lebih baik ke puskesmas saja. Kata Pak Ustaz, yang penting niatnya, bukan selamatannya!” ucap Bagas.

“Ya, tapi aku akan lebih giat menyemir sepatu supaya bisa menabung untuk membeli roti buaya…!” jawabku, dengan penuh kesungguhan.

Kami sudah sampai di depan rumah Bagas, ia bergegas masuk. Tinggal diriku berjalan sendirian. Senja makin karam. Langit meredupkan warna jingga menjadi warna lain yang lebih gelap. Sebentar lagi hari akan segera menjadi malam. Kupercepat langkahku.

Tempat tidur kayu itu berderit-derit, tak sanggup menahan beban ketika aku melemparkan tubuhku. Sudah berulang kali Ibu memperingatkan, jangan mengempaskan tubuh tiba-tiba ke situ. Sambungan kayunya yang sudah longgar akan menimbulkan suara berderit yang tidak enak didengar. Meski sering diperbaiki Abah, tempat tidur itu masih tetap mempertahankan kereyotannya. Aku menghela napas panjang. Kubiarkan diriku tenggelam di kasur kapuk yang sudah bergumpal dan banyak yang lepas benang-benangnya. Benang yang membentuk tonjolan persegi empat  di sekujur kasur.


Penulis: Katherina
Pemenang III Sayembara Mengarang Cerber femina 2009


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?