Fiction
Dengarkan Kisahku, Hasian [7]

4 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Rumah gorga beratap ijuk itu berdiri tegak dan gagah di antara beberapa rumah beratap seng menyilaukan. Rumah antik itu menandakan sisa-sisa sebuah peradaban yang nyaris luntur. Arsitekturnya yang indah, rumit, dan tiang-tiangnya yang melintang, hanya dihubungkan pahatan-pahatan kayu pilihan dan simpul-simpul rotan yang kokoh, membuatnya tak membutuhkan sebutir paku pun. Lagi pula, dari mana masyarakat gunung memperoleh paku di zaman dulu?

Alam memang membuat para leluhur itu cerdas mengelola sumber daya sejak dulu. Bergantung sepenuhnya pada alam membuat mereka berusaha selalu hidup harmonis dengannya. Berbeda dengan apa yang dilakukan manusia-manusia rakus di zaman edan ini, yang berusaha menggerogoti segala yang ada demi kepentingan sendiri. Menumpuk-numpuk harta serupa timbunan dosa, membuncitkan perut-perut mereka dengan serapah dan menabung nyawa mereka hanya untuk menjadi tempat bersarangnya sederet penyakit.

Tapi, rumah gorga itu pun sudah mendapat sentuhan modernitas. Bagian belakang rumah itu sudah tampak menyatu dengan sebuah bangunan lain, sebuah rumah beton beratapkan seng mengilat. Sebuah perpaduan antara dua zaman yang dapat ditemukan bersanding di sebuah kampung kecil di kaki bukit penuh pinus.

Dari kejauhan, dari salah satu sisi hutan pinus itu, terdengar raungan mesin-mesin pemotong kayu menderu seperti suara naga marah. Para pembalak itu sudah mulai merambah ke daerah ini rupanya. Walaupun beberapa kelompok masyarakat menentangnya, sebagian lagi mendukungnya. Terjadi pertentangan di kalangan bawah, membuat operasi pengrusakan hutan itu berjalan mulus. Lagi pula, sudah bukan rahasia bahwa justru kepala desa merekalah yang mengepalai proyek itu. Dengan dalih akan dibangunkan jalan beraspal hingga ke desa terujung, warga tidak mempersoalkannya lagi.

Beberapa hari ini, perhatian warga makin teralih lagi dengan kedatangan beberapa orang mengawal pengembalian salah satu putri kebanggaan mereka. Jojor! Ladang gersang yang tak bisa menghasilkan itu dikembalikan kepada keluarganya setelah serangkaian adat dan pembicaraan rumit antar dua keluarga besar.

Kepada Jojor, keluarga mantan mertuanya itu memberikan sehelai ulos, sambil mengucapkan kata-kata berkat, semoga menemukan jodoh yang tepat dan memiliki banyak anak. Mereka juga memohon agar Jojor mendoakan jodoh yang tepat bagi Togi, mantan suaminya itu, dan memiliki banyak anak juga!

Dan sepeninggal mereka, ruang hampa nan sepi mengisi seluruh bilik rumah gorga itu.

Pria tua itu, ayah Jojor, hanya terdiam di sudut rumah, duduk mencangkung. Tentulah kepulangan salah satu putri terkasihnya itu yang membuat hatinya resah dan gundah. Tak pernah dibayangkannya di masa tuanya ini, setelah ia berhasil mengantarkan semua putrinya menamatkan bangku kuliah dan memiliki pekerjaan yang mapan, ia masih akan menghadapi badai ini.

Sebuah aib, kalau bisa disebut demikian. Entah siapa yang pertama berpendapat bahwa perkawinan tanpa anak adalah sebuah perkawinan yang tidak layak dihidupi. Bukankah ada begitu banyak anak yang dapat diadopsi di seluruh jagat ini? Pun, bukankah sebenarnya putrinya itu masih menyimpan harapan untuk dapat punya anak? Bukankah Jojor dan Togi, yang sekarang menjadi mantan menantunya itu, seharusnya masih punya peluang untuk memiliki anak sendiri? Bodohkah dokter-dokter yang menyimpulkan bahwa ini hanya masalah waktu?

Ah…! Pria itu menarik napas panjang. Bayang-bayang pemberontakannya di masa silam datang menjelma. Mula-mula terlihat sesamar pekat hutan berselimut halimun, lalu seberkas cahaya surya mengusir kelamnya. Dia ingat, sesungguhnya dia bisa saja dianggap hendak meruntuhkan tiang-tiang adat dengan tindakannya saat itu. Hanya, dia bersyukur, tak seorang pun tahu kisah rahasia itu. Ia pun tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.

Dulu, ketika ia mulai beranjak dewasa, kesenangannya sejak kecil bermain ketapel dan memburu burung-burung tidak hilang begitu saja. Sebuah keahlian yang dimilikinya ketika di masa kanaknya ia bertugas sebagai gembala kerbau, sampai kemudian tugas itu diwariskan kepada adiknya, dan ia mulai membantu orang tuanya mengerjakan tugas-tugas orang dewasa: mengolah sawah, dan mencari kayu ke hutan untuk renovasi rumah.

Suatu sore, sepulang membajak dari sawah, saat rombongan burung-burung melintasi desa mereka, ia membawa ketapelnya ke pancuran. Di situ ia berhasil menggeleparkan tiga ekor tekukur.

Tapi, yang membuat dadanya gemetar dahsyat adalah saat ia melihat tubuh halus seorang wanita beranjak dewasa sedang menyunggi sebuah bejana tanah liat berisi air. Hanya tertutup sarung sebatas dada, membuat imajinasinya dapat membayangkan bagian tubuh tertutup wanita muda itu. Mereka berpapasan di jalanan menurun ke arah pancuran. Dikenalinya bahwa itu adalah Saudur, teman sepermainannya yang sudah lama tak dilihatnya.

Sejak wanita itu menginjak usia remaja, ia tidak lagi bertugas sebagai gembala, melainkan sudah dibimbing mengerjakan tugas-tugas seorang wanita dewasa: menenun ulos, mengelola sawah dan sejumlah tugas rumah tangga lainnya. Sepertinya, sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Dan pertemuan itu begitu istimewa. Mampu menggetarkan ujung-ujung saraf yang lama terkubur tak tersentuh, seperti hewan yang selesai berhibernasi, saat menyadari ia sudah berada di ujung musim dingin.

Ia bisa melihat wajah Saudur merona, tersipu. Ia juga mematung, seolah pusat gravitasi berada tepat di bawah kedua kakinya berpijak. Mereka bersitatap, saling terpesona. Sebuah perasaan asing yang tak terdefinisikan mengalir di rongga kedua hati mereka. Teduh dan syahdu. Seolah-olah seluruh alam menembangkan sebuah kidung indah dan menggemakannya hingga ke sudut-sudut tebing hati.

Yang lebih membahagiakan lagi, degup itu berbalas dari wanita itu. Kemudian pancuran air itu menjadi tempat mereka biasa saling melepas rindu, walau hanya saling pandang dan melempar senyum serta berbicara secukupnya, ketika hari sore-sore.

Namun, pria itu segera menyadari adanya sebuah tembok kokoh yang berdiri menghalangi mereka. Ayah Saudur adalah seorang datu–dukun sakti–yang sangat disegani seluruh negeri. Meminang putrinya tentulah bukan perkara mudah. Ia pasti akan meminta sinamot–mahar–yang tinggi, mungkin beberapa ekor kerbau atau sebidang tanah. Bila itu tidak dipenuhi, ia bisa saja memakai cara-cara supranatural secara manipulatif, atas nama adat dan pesan leluhur. Untunglah keluarganya cukup berada, setidaknya memiliki beberapa puluh ekor kerbau tambun.

Tapi, setelah para tua-tua adat membicarakan rencana perkawinan mereka, tiba-tiba saja kampung mereka gempar. Ada tanda tak bersahabat dari alam hendak menghancurkan impiannya bersanding dengan gadis pujaannya. Bersebab dari seekor burung yang dipercaya menjadi corong penghubung dengan dunia leluhur, sipahut. Burung hantu itu hinggap di bubungan jabu gorga milik datu itu menjelang tengah malam dan menyanyikan sebuah lagu sedih menyeramkan.

Sebuah pertanda buruk!

Pada malam berikutnya, burung itu datang lagi dan bernyanyi sedih. Bila dalam tiga hari berturut-turut burung itu terus seperti itu, maka semua rencana pesta harus dibatalkan. Bila sudah dua malam berturut-turut burung itu hinggap dan bernyanyi di sana, bisa dipastikan bahwa ia pasti akan datang di malam yang ketiga. Itu artinya, burung sialan itu akan memupus habis harapannya. Dan ia tidak akan pernah merelakan hal itu terjadi.

Maka, ketika malam ketiga itu menetaskan fajar indah merekah di ufuk timur, sinar cerah matahari yang menyembul dari sela-sela daun bambu yang mengelilingi desa itu terasa jauh lebih indah. Malam kelam itu telah berlalu tanpa nyanyian sedih sipahut itu. Sebuah peristiwa langka dalam pengalaman penduduk desa. Itu berarti bahwa di desa mereka akan ada keriuhan pesta. Pria muda itu akan bersanding dengan putri datu itu. Pria muda itu tersenyum sumringah, akalnya telah menyelamatkan masa depannya.

Penulis: Hembang Tambun
Pemenang III Lomba Mengarang Cerber femina 2008
 




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?