Tak bisa dipungkiri, perawatan vagina belakangan ini memang seakan menjadi tren di kota besar. Selain pilihan perawatannya yang beragam, mulai dari tradisional hingga modern, bisnisnya juga berkembang pesat. Janji yang ditawarkan untuk perawatan vagina ini pun bermacam-macam. Perawatan yang dari dulu hingga kini masih digemari wanita, ada ratus (penguapan vagina dengan menggunakan rempah-rempah alami) untuk membersihkan, ada pula sabun daun sirih yang juga dipercaya berkhasiat membersihkan sekaligus menjaga daerah kewanitaan tetap harum. Perawatan tradisional dengan berbagai jamu-jamuan dan herba menawarkan efek merapatkan dan mengharumkan vagina. Dahulu, putri dan permaisuri raja meminum ramuan jamu cair hasil campuran rempah-rempah, seperti kunyit, rimpang, temu giring, dan daun sirih.
Baru-baru ini marak diperkenalkan perawatan vagina dengan v-ozone dan v-spa. Lalu ada pula vaginoplasty yang menggunakan teknik operasi dengan laser. Vaginoplasty ini diklaim dapat memperketat vagina sekaligus meningkatkan kepuasan seks.
Berbicara mengenai budaya menjaga daerah kewanitaan, tradisi tersebut telah ada sejak dahulu kala sebagai bagian dari ritual sakral. Menurut Linlin Herliawati, Product Manager PT Mustika Ratu, dalam budaya Jawa menjaga daerah kewanitaan telah menjadi kewajiban yang harus dilakukan para putri dan permaisuri, terutama setelah mereka menstruasi dan melahirkan. Hal ini berkaitan dengan kebersihan lahir batin seorang wanita.
Saat mengalami menstruasi, wanita dianggap sedang dalam keadaan kotor. Karenanya, usai menstruasi, para putri dan permaisuri raja ini harus membersihkan diri. Tak hanya daerah kewanitaan, tapi juga seluruh tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, untuk memastikan tubuhnya bersih kembali. “Begitu pula dengan permaisuri, usai melahirkan, mereka juga melakukan pembersihan diri karena telah melewati masa-masa nifas selama berbulan-bulan,” jelas Linlin.
Para putri raja dan permaisuri melakukan beragam perawatan paripurna untuk menjaga kecantikan tubuh, termasuk merawat daerah kewanitaan. Mereka melakukannya dengan total, agar tampil cantik, bersih, dan wangi. “Jika tubuh mereka tidak terawat, misalnya terlihat lecek atau bau, maka akan menjadi bahan gunjingan di kalangan kerajaan. Bahkan mereka bisa saja dikucilkan oleh lingkungannya,” ungkap Linlin.
Kenyataannya, tak hanya budaya Jawa yang mengenal perawatan daerah kewanitaan, di daerah Minangkabau ada ritual yang dikenal dengan batangeh. Ritual ini umumnya dilakukan oleh calon pengantin dan wanita yang baru saja melahirkan. Tujuannya, selain untuk mengembalikan kesegaran tubuh, juga menjaga aroma tubuh tetap harum, termasuk daerah kewanitaan.
Di daerah Minahasa, Makassar, juga dikenal ritual bakera. Bakera merupakan perawatan tradisional untuk wanita yang baru saja melahirkan. Orang Minahasa menyebutnya dengan bakancing. Artinya, organ intim dan reproduksi yang kendur pada masa kehamilan dan melahirkan, akan dikembalikan seperti sediakala.
Dalam perawatan bakera, ada 20 jenis tanaman yang digunakan, mulai dari tanaman obat-obatan seperti daun cengkih, daun pisang, daun sirih, hingga tanaman beraroma yang biasa digunakan sebagai bumbu dapur, seperti daun pandan, daun jeruk, serai, jahe, hingga kayu manis.
Ritual yang berlangsung turun-temurun dari generasi ke generasi ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Keinginan untuk memiliki penampilan paripurna dari ujung rambut hingga ujung kaki, mendorong wanita untuk juga melakukan perawatan daerah kewanitaan.(RIZKA AZIZAH)


