Health & Diet
Waspada Mulut Manis Sosiopat!

14 May 2017


Foto: Fotosearch

Jago merayu dan bermain kata-kata, dia pun sering bermulut manis di depan kita. Padahal, sih, itu semua hanya kebohongan dan manipulasi semata. Seandainya ketahuan berbohong, dia ogah minta maaf karena menganggap perilakunya normal. Waspada kemungkinan besar kita bertemu dengan seorang sosiopat!

1/ Tidak punya perasaan

Psikolog Eri Mutiara Naland, M.Psi, mengungkapkan sosiopat--yang sering disebut antisosial--adalah seseorang yang tidak bisa membangun relasi positif dengan orang lain. Dia tidak mau mempertimbangkan kondisi orang lain, cuma memilikirkan kepuasan diri sendiri, dan impulsif!

"Sosiopat cenderung tampak menonjol, populer, berkarisma, dan atraktif. Orang pun akan tertarik bergaul dengannya. Tak jarang, dia sukses dalam pekerjaan karena tergolong cerdas, easy going, charming, dan persuasif."

Di sisi lain, seorang sosiopat tidak merasa sayang, peduli, dan berempati pada orang lain. Itulah sebabnya sering disebut, tidak memiliki hati nurani.

"Bisa melakukan sesuatu yang menyinggung orang lain, seorang sosiopat tidak menganggapnya sebagai suatu kesalahan," tegas Erin.

Misal, nih, A sedang pdkt dengan B. Ketika kencan, A akan bersikap super manis kepada B supaya B luluh. Tapi, ketika seorang anak kecil menumpahkan es ke baju A, si A bisa langsung membetak bahkan memukul anak itu!

Tujuan utama perilaku sosiopat adalah memperoleh kemenangan. Contoh, dalam karier ingin meraih promosi sehingga nggak masalah kalau pun harus menginjak rekan kerja. Bagi mereka, perasaan kalah, gagal, frustrasi, atau malu pada diri orang lain juga merupakan suatu kemenangan.

2/ Gangguan kompleks
Sosiopat merupakan gangguan yang menetap. Artinya, berlangsung terus menerus pada diri seseorang sehingga kita beranggapan itu adalah sifat alami orang tersebut. Dalam keseharian, sosiopat, tuh, tidak berbeda dari orang di sekitarnya sehingga kita sulit membedakan apakah seseorang termasuk sosiopat atau tidak.

Menurut Erin, sampai sekarang belum ditetapkan penyebab pasti dari gangguan jiwa ini. Yang baru diketahui sebatas penyebab sosiopat, yaitu kombinasi antar pola asuh ortu, kepribadian, serta faktor biologis.

"Orangtua dengan disiplin tinggi tapi tidak memberikan cukup kasih sayang dan peduli, membentuk pribadi agresif pada anak-anaknya. Bisa juga, sih, seseorang memiliki kecenderungan ADHD (hiperaktif) ketika kanak-kanak karena penderita ADHD susah menahan impuls. Namun, bukan berarti semua penderita ADHD adalah sosiopat, ya."

Mengutip dari psikolog Dr. Robert Harem penyebab sosiopat secara biologis yaitu karena adanya kelainan pada otak. Dia tidak dapat memisahkan stimulus yang bersifat rasional dan emosional, padahal seharusnya belahan otak kiri merupakan pusat rasio dan otak kanan mengolah emosi.

3/ Tidak bisa dihilangkan
Sayangnya, sosiopat bukanlah penyakit yang mudah disembuhkan. Maklum, dia tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit, sih. "Bagaimana mau disembuhkan bila dia sendiri tidak sadar? Walau sudah merugikan orang lain atau melanggar hukum dan norma sosial, mereka nggak merasa bersalah atau meyesal. Malah, bisa jadi dia menyalahkan orang lain," ucap Erin.

Oleh karena itu, dia juga nggak mau berubah karena merasa dirinya baik-baik saja. Bila ingin membantu sosiopat, kita paling mencoba mengarahkan agar dia menahan diri. Tapi, jarang banget, tuh, sampai sembuh total.  Erin justru mengingatkan, agar kita melindungi diri dari 'serangan' sosiopat.

"Jangan mudah percaya, cek dulu kebenaran omongannya. Periksa latar belakangnya, apakah dia pernah melakukan tindakan manipulatif di masa lalu. Bila perlu, jauhi orang tersebut."

4/ Beda sosiopat vs psikopat
Sosiopat dan psikopat ternyata serupa. Pengaruh film membuat kita beranggapan bahwa istilah psikopat merupakan gangguan jiwa yang 'hanya' berhubungan dengan tindak kriminal. Padahal, sosiopat juga dapat melakukan tindak kriminal serta cenderung melanggar norma dan nilai sosial. (f)

Baca juga: 10 Kebiasaan Wujudkan Pola Hidup Sehat (Bagian I)
 


Meiranie Nurtaeni


Topic

#sosiopat, #gangguanjiwa