
Foto: 123RF
Selama ini, masyarakat menganggap meditasi hanya bermanfaat secara psikis, karena mampu menenangkan pikiran, hati, serta bisa meningkatkan daya konsentrasi. Namun, aktivitas yang sudah mulai dipraktikkan sejak ribuan tahun lalu ini juga memiliki berbagai manfaat yang menyehatkan jasmani.
Bekerja Sebagai Obat
Tahun 2006 silam, Arie Bekti mengaku terpukul saat mengetahui ada benjolan sebesar 1 cm di payudara kirinya. Ari menenangkan diri dengan melakukan meditasi secara teratur, memusatkan pikirannya secara positif, tulus, dan ikhlas. Beberapa bulan rutin bermeditasi dua kali sehari (pagi dan sore) masing-masing 20 menit, benjolan di payudara Ari tak lagi ditemukan saat pemeriksaan selanjutnya.
Ari makin yakin manfaat meditasi saat ia divonis terkena miom pada tahun 2010. Ukurannya cukup besar dan menurut dokter miom tersebut harus diangkat. Ari meminta izin kepada dokter yang merawatnya untuk menunda operasi, memberikannya kesempatan untuk melakukan meditasi selama beberapa minggu. Hasilnya, ukuran miom tersebut mengecil.
“Ketenangan adalah kunci melakukan meditasi. Dengan ketenangan, segala permasalahan hidup maupun penyakit bisa terkontrol,” ujar Ari, yang sudah aktif bermeditasi sejak tahun 2005.
Bagi Ari, meditasi merupakan tindakan kesadaran dalam mengatur napas, memperlambat ritme detak jantung, mengistirahatkan diri dari beragam aktivitas, dan melatih pikiran untuk diam. Selama rutin bermeditasi, Ari mengaku jadi lebih mampu mengatasi rasa gelisah dan stres.
Lewat berbagai sumber yang ia kumpulkan, ia menemukan, meditasi yang dilakukan secara rutin dapat melancarkan gelombang saraf di otak kanan dan kiri sekaligus mengontrol sistem saraf otonom dalam tubuh. “Sistem saraf otonom yang baik akan mengoptimalkan sistem regulasi fungsi jantung, temperatur tubuh, dan aliran darah,” ujar Ari, yang mengaku senang membaca aneka buku tentang meditasi, seperti Meditation for Your Life (Robert Butera) dan Secrets of Meditation (Davidji).
Manfaat meditasi juga dirasakan oleh Silvia Hendarta. Meditasi yang ia lakukan secara rutin mampu mengatasi rasa pusing hebat yang ia alami sejak remaja. “Dulu, kalau lagi pusing, saya pasti langsung mengonsumsi obat pereda nyeri. Sejak aktif bermeditasi, saya jadi jarang pusing. Tubuh juga terasa lebih segar dan sehat,” ujar Silvia, yang kemudian memperdalam yoga dan meditasi agar bisa berbagi kepada orang lain.
Menurut Silvia, berbagai penyakit masa kini sering kali dipicu oleh stres, sementara meditasi mampu mengendalikan stres. Pada akhirnya meditasi dapat mengatasi berbagai macam penyakit yang dipicu oleh stres, seperti tekanan darah tinggi hingga gangguan jantung. Sementara, pada pasien yang mengidap suatu penyakit, ia menyarankan agar pasien berusaha menerima rasa sakit tersebut daripada melawannya. “Awalnya memang tidak mudah. Namun, niat dan fokus yang kuat saat bermeditasi, akan bekerja dengan baik menyembuhkan segala penyakit dalam tubuh,” ujar Silvia.
Apa yang dikatakan Silvia bukan sekadar teori maupun wacana. Richard Davidson, seorang profesor ilmu psikiatri dan pendiri Center of Healthy Minds, University of Winconsin, AS, telah membuktikan hal tersebut. Dengan menggunakan mesin pencitraan otak, Richard berhasil mengungkap keistimewaan meditasi: mampu merangsang otak untuk mengubah sikap penentangan menuju penerimaan.
Menurut Richard, penentangan adalah sikap yang kerap memicu stres hingga membuat penyakit seseorang bertambah parah. Sedangkan penerimaan menimbulkan kepuasan dalam diri seseorang, sehingga mampu mengatasi stres dan menyembuhkan berbagai penyakit.
“Kegiatan bermeditasi merangsang fungsi kinerja otak secara kognitif. Makanya, seseorang biasanya merasa lebih baik, secara mental maupun fisik, setelah bermeditasi dengan cara yang tepat,” ungkap Sara Lazar, ahli neurologi dari Massachusetts General Hospital (MGH) Psychiatric Neuroimaging Research Program, Amerika Serikat (AS). Karenanya, banyak dokter ahli yang menyarankan pasiennya melakukan meditasi untuk menyembuhkan penyakit tertentu.(f)
Bekerja Sebagai Obat
Tahun 2006 silam, Arie Bekti mengaku terpukul saat mengetahui ada benjolan sebesar 1 cm di payudara kirinya. Ari menenangkan diri dengan melakukan meditasi secara teratur, memusatkan pikirannya secara positif, tulus, dan ikhlas. Beberapa bulan rutin bermeditasi dua kali sehari (pagi dan sore) masing-masing 20 menit, benjolan di payudara Ari tak lagi ditemukan saat pemeriksaan selanjutnya.
Ari makin yakin manfaat meditasi saat ia divonis terkena miom pada tahun 2010. Ukurannya cukup besar dan menurut dokter miom tersebut harus diangkat. Ari meminta izin kepada dokter yang merawatnya untuk menunda operasi, memberikannya kesempatan untuk melakukan meditasi selama beberapa minggu. Hasilnya, ukuran miom tersebut mengecil.
“Ketenangan adalah kunci melakukan meditasi. Dengan ketenangan, segala permasalahan hidup maupun penyakit bisa terkontrol,” ujar Ari, yang sudah aktif bermeditasi sejak tahun 2005.
Bagi Ari, meditasi merupakan tindakan kesadaran dalam mengatur napas, memperlambat ritme detak jantung, mengistirahatkan diri dari beragam aktivitas, dan melatih pikiran untuk diam. Selama rutin bermeditasi, Ari mengaku jadi lebih mampu mengatasi rasa gelisah dan stres.
Lewat berbagai sumber yang ia kumpulkan, ia menemukan, meditasi yang dilakukan secara rutin dapat melancarkan gelombang saraf di otak kanan dan kiri sekaligus mengontrol sistem saraf otonom dalam tubuh. “Sistem saraf otonom yang baik akan mengoptimalkan sistem regulasi fungsi jantung, temperatur tubuh, dan aliran darah,” ujar Ari, yang mengaku senang membaca aneka buku tentang meditasi, seperti Meditation for Your Life (Robert Butera) dan Secrets of Meditation (Davidji).
Manfaat meditasi juga dirasakan oleh Silvia Hendarta. Meditasi yang ia lakukan secara rutin mampu mengatasi rasa pusing hebat yang ia alami sejak remaja. “Dulu, kalau lagi pusing, saya pasti langsung mengonsumsi obat pereda nyeri. Sejak aktif bermeditasi, saya jadi jarang pusing. Tubuh juga terasa lebih segar dan sehat,” ujar Silvia, yang kemudian memperdalam yoga dan meditasi agar bisa berbagi kepada orang lain.
Menurut Silvia, berbagai penyakit masa kini sering kali dipicu oleh stres, sementara meditasi mampu mengendalikan stres. Pada akhirnya meditasi dapat mengatasi berbagai macam penyakit yang dipicu oleh stres, seperti tekanan darah tinggi hingga gangguan jantung. Sementara, pada pasien yang mengidap suatu penyakit, ia menyarankan agar pasien berusaha menerima rasa sakit tersebut daripada melawannya. “Awalnya memang tidak mudah. Namun, niat dan fokus yang kuat saat bermeditasi, akan bekerja dengan baik menyembuhkan segala penyakit dalam tubuh,” ujar Silvia.
Apa yang dikatakan Silvia bukan sekadar teori maupun wacana. Richard Davidson, seorang profesor ilmu psikiatri dan pendiri Center of Healthy Minds, University of Winconsin, AS, telah membuktikan hal tersebut. Dengan menggunakan mesin pencitraan otak, Richard berhasil mengungkap keistimewaan meditasi: mampu merangsang otak untuk mengubah sikap penentangan menuju penerimaan.
Menurut Richard, penentangan adalah sikap yang kerap memicu stres hingga membuat penyakit seseorang bertambah parah. Sedangkan penerimaan menimbulkan kepuasan dalam diri seseorang, sehingga mampu mengatasi stres dan menyembuhkan berbagai penyakit.
“Kegiatan bermeditasi merangsang fungsi kinerja otak secara kognitif. Makanya, seseorang biasanya merasa lebih baik, secara mental maupun fisik, setelah bermeditasi dengan cara yang tepat,” ungkap Sara Lazar, ahli neurologi dari Massachusetts General Hospital (MGH) Psychiatric Neuroimaging Research Program, Amerika Serikat (AS). Karenanya, banyak dokter ahli yang menyarankan pasiennya melakukan meditasi untuk menyembuhkan penyakit tertentu.(f)
Topic
#manfaatmeditasi




