Health & Diet
Kontroversi Mi Instan

20 Jun 2016


Foto: Stocksnap.io

Semangkuk mi rebus rasa kari ayam, plus telur, sawi hijau, dan irisan cabai rawit adalah sebuah godaan yang sulit ditolak. Harumnya aroma bumbu kari menyeruak bersama kepulan uap panas, tanda mi baru saja pindah dari panci, menuju mangkuk saji. Warna kuahnya yang kemerahan terlihat serasi dengan paduan bahan isiannya yang warna-warni, ada kuning, hijau, merah, dan putih (dari telur). Rasanya? Tak ada kata lain yang bisa diberikan, selain: sempurna! Apalagi jika disantap saat udara sedang dingin. Atau, saat flu menyerang dan kepala senat-senut. Keringat yang bercucuran akibat panas dan pedasnya itulah yang jadi obat.

Meski banyak kabar miring yang menerpa mi instan, namun ‘ketergantungan’ pada makanan cepat saji ini nyaris tak terpengaruh, malah cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun.
 
AKIBAT PERBEDAAN REGULASI
Mi instan berkali-kali disorot. Suatu kali, ada mi instan yang diduga mengandung zat pengawet bernama nipagin beredar di pasaran Taiwan. Namun, masyarakat tak kapok mengonsumsinya.

Sebenarnya apakah mi instan itu? Samakah dengan mi kering biasa yang dijual tanpa bumbu? Menurut Roy Sparringa, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan & Bahan Berbahaya, BPOM, mi instan didefiniskan sebagai produk yang diperoleh dari tepung terigu  dengan atau tanpa campuran bahan pangan lain, dikukus, digoreng atau dikeringkan, dan matang setelah dimasak atau diseduh dengan air mendidih dalam waktu 4 menit. Perbedaannya dengan mi kering terletak pada proses pembuatannya. Kalau pada mi instan ada proses penggorengan, pada mi kering, tidak ada.

Kehadiran nipagin alias metil p-hidroksibenzoat dalam bumbu kecap pada mi instan jenis mi goreng merek terkenal ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam kemasannya, bahan ini tertulis dengan jelas. Artinya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia, yang bertugas memeriksa setiap bahan pangan yang beredar, sudah menyatakan bahwa zat tersebut aman dikonsumsi.

Menurut Purwiyatno Hariyadi, direktur SEAFAST Centre, nipagin merupakan Bahan Tambahan Pangan (BTP) senyawa turunan dari asam benzoat yang berfungsi sebagai antimikroba atau pengawet. ”Secara alami, senyawa benzoat bisa ditemukan pada buah-buahan, terutama berries, jamur, kayumanis, dan cengkih,” jelasnya. Untuk keperluan komersial, asam benzoat ini disintesis secara kimia dan menghasilkan beberapa jenis turunan benzoat, salah satunya adalah nipagin (metil p-hidroksibenzoat).

Lebih lanjut Guru Besar Departemen llmu & Teknologi Pangan, IPB, ini menambahkan bahwa berdasarkan standar Codex Alimentarius Commission (komisi yang dibentuk oleh FAO dan WHO untuk menetapkan standar pangan dunia), nipagin bisa dipakai sebagai pengawet untuk buah kering, buah kaleng, pure buah, santan, permen karet, dan aneka produk saus. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI tentang BTP juga dijelaskan bahwa penggunaan nipagin diperbolehkan untuk produk acar mentimun dalam botol, kecap, ekstrak kopi cair, pasta tomat, dan sari buah.

Lantas, kenapa tiba-tiba penggunaan nipagin ini jadi dihebohkan? ”Penarikan mi instan merek Indonesia di Taiwan terjadi karena perbedaan regulasi BTP jenis pengawet dalam mi instan. Batas maksimum nipagin dalam kecap manis di Indonesia adalah 250 mg/ kg, sedangkan Taiwan tidak mengatur penggunaan metil p-hidroksibenzoat (nipagin). Namun negara tersebut mengizinkan penggunaan BTP pengawet yang serupa, yaitu etil p-hidroksibenzoat,” tutur Roy. Senyawa etil p-hidroksibenzoat ini, seperti yang dituturkan Purwiyatno, sesungguhnya sama-sama turunan dari benzoat, seperti halnya nipagin.

Setiap negara memiliki kewenangan dalam mengatur batas maksimum penggunaan BTP dalam produk pangan, mengacu pada standar yang dikeluarkan oleh Codex (untuk nipagin, Codex menetapkan batas maksimum penggunaan adalah 1.000 mg/ kg). Perbedaan angka ini didasarkan atas beberapa hal, antara lain perbedaan pola konsumsi penduduk, pertimbangan ekonomi, dan teknologi.  ”Jika penggunaan BTP pada produk pangan tertentu yang dikonsumsi oleh sebuah negara sudah tinggi, maka pemerintahnya akan cenderung menetapkan batas maksimum pengunaan yang lebih rendah agar paparan BTP tersebut tidak melebihi batas amannya,” tutur Roy, memaparkan.

Nipagin disebut-sebut juga dipakai sebagai pengawet kosmetik. Mendengar ini masyarakat awam tentu makin dibuat panik. Kok, bahan kosmetik ada di makanan? Menjawab ini, Roy menjelaskan, ”Nipagin merupakan pengawet yang memiliki spektrum antimikroba yang luas dan sifatnya stabil. Karena ini bahan ini banyak diaplikasikan dalam produk makanan, obat, dan kosmetik.” Purwiyatno pun menambahkan, ”Meski sama-sama digunakan sebagai pengawet, tentunya kajian keamanan nipagin dalam makanan dan kosmetik punya aturan dan batasan yang berbeda.” Sama halnya seperti lip gloss rasa stroberi versus permen rasa stroberi. Keduanya sama-sama menggunakan flavor stroberi, kan?
 
MI INSTAN VS KESEHATAN
Praktis, murah, mengenyangkan dan rasanya sangat cocok dengan selera. Itulah ’definisi’ yang menggambarkan mi instan bagi sebagian orang. Salah satunya Tri Wahyuni (35). Ia mengaku bahwa sejak duduk di sekolah dasar hingga usianya kini 35 tahun, sarapannya hampir selalu dengan mi instan. ”Saya tidak biasa makan nasi di pagi hari. Makanya, mi instan jadi menu andalan saya,” tuturnya. Hingga saat ini, ia tak merasakan gejala buruk apa pun dalam tubuhnya. Kebiasaan yang kini ’ditularkan’ ke anak-anaknya.

Pengalaman berbeda diceritakan Ratri Dwiyana (30), seorang wiraswasta. Setahun belakangan ini ia ’puasa’ mi instan. ”Sudah 3 kali saya mengalami diare dan muntah-muntah hebat setelah makan mi instan. Kepala langsung pusing dan badan lemas,” jelasnya. Ada juga pengalaman lain yang menceritakan bahwa akibat terlalu sering menyantap mi instan, seseorang bisa menderita gagal ginjal.

Dua kubu ini mewakili realita yang terjadi di masyarakat. Menanggapi hal ini, Emilia Achmadi, nutrisionist, menyatakan bahwa pengaruh mi instan pada tiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor. ”Berapa banyak dan seberapa sering ia mengonsumsi mi instan, serta bagaimana pola makannya secara keseluruhan, sangat memengaruhi efek yang dihasilkan,” jelas Emilia.

Selain mi instan, makanan apa lagi yang biasa disantap? Apakah terbiasa mengonsumsi makanan sehat seperti buah, sayur, dan susu? Bagaimana asupan garam dari makanan lainnya? Bagaimana kebiasaan minumnya? Bagaimana kondisi kesehatan organ pencernaan dan ginjalnya? Jawaban dari semua pertanyaan inilah yang bisa menjelaskan pengaruh mi instan bagi kesehatan seseorang.

”Untuk orang sehat dengan semua fungsi organ yang bekerja dengan baik, mengonsumsi makanan kemasan, termasuk mi instan, dalam frekuensi rendah (seminggu – dua minggu sekali) tidak akan membahayakan kesehatan,” tutur ahli gizi dari komunitas Sehati ini. Hanya, menurut Emilia, memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengonsumsi mi instan. Beberapa komposisi bahannya ada yang berlebihan sehingga bisa mengancam kesehatan jika terlalu sering dikonsumsi. Menyantap mi instan bersama telur dan sayuran memang bisa menambah asupan gizi yang baik, namun cara ini tidak bisa menghilangkan efek negatif dari beberapa kandungannya yang berlebihan tadi.

Purwiyatno menambahkan bahwa selama produsen bertanggung jawab dan disiplin mengikuti peraturan yang berlaku, seperti sekarang ini, keamanan mi instan sebenarnya bisa dijamin. ”Yang paling penting, konsumen harus selalu menjalankan perilaku makan sehat, yaitu dengan mengonsumsi aneka ragam jenis pangan dan jangan terlalu berlebihan mengonsumsi sebuah produk pangan. Dalam menyusun menu sehari-hari, upayakan untuk selalu mengandung makanan pokok, lauk, sayur, dan buah. Produk pangan olahan, seperti mi instan, bisa digunakan sebagai pilihan dalam menyusun menu yang menarik dan variatif.” (f)

Lila Muliani


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?