
Foto: Fotosearch
Tiga tahun lalu Monique Hardjoko (39) masih berbobot 85 kg, merokok, dan tidak pernah berolahraga. Beberapa kali wanita yang bekerja di bidang marketing ini berusaha menurunkan berat badan dengan berbagai metode diet dan akupunktur. Berhasil memang. Namun begitu berhenti diet, beratnya kembali bahkan lebih berat dari sebelumnya. Ajakan untuk berolahraga dari suaminya tak ia gubris, hingga suatu saat sebuah peristiwa yang mengubah pikirannya.
“Mama dan adik saya divonis kanker. Riwayat kanker dalam keluarga membuat saya memiliki risiko tinggi. Karena itu, dokter yang merawat mama dan adik memperingatkan saya untuk mengubah gaya hidup dan menurunkan berat badan, untuk menurunkan risiko kanker,” ujar ibu dua putri ini.
Merasa awam dalam urusan olahraga, ia segera mendaftarkan diri di pusat kebugaran dan menggunakan jasa personal trainer. “Saya harus berubah. Bukan sekadar kurus, tapi saya tidak mau sakit,” tekadnya.
Memang, untuk menggerakkan seseorang melakukan sesuatu butuh motivasi, dan bentuknya bisa beragam. Bisa peristiwa besar yang dramatis seperti Monica atau memang muncul sebagai bagian dari kedewasaan, seperti yang terjadi pada Nuresti (32).
Wanita yang berprofesi sebagai desainer grafis ini merasa harus konsisten berolahraga demi putri tercintanya. Yoga jadi pilihannya. “Dulu, target utama saya adalah menurunkan indeks massa tubuh, tapi setelah menginjak usia 30-an kesadaran saya untuk melakoni hidup sehat, lebih tinggi. Saya tidak mau sakit-sakitan sampai merepotkan anak saya di usia tua nanti,“ ujarnya.
Bukan sekadar yang berhubungan dengan fisik, alasan yang berhubungan dengan psikis, seperti membuang stres dan sosialisasi, juga kerap menggerakkan seseorang menuju pusat kebugaran. Apapun motivasi awalnya, ini merupakan sebuah tren positif. “Sebagai seorang edukator di bidang gizi dan olahraga saya tentu senang sekali dapat melihat terjadinya peningkatan kesadaran gaya hidup di masyarakat seperti saat ini,” ujar penggiat gaya hidup sehat, Jansen Ongko, M.S.d, R.D.
Menurutnya, semangat masyarakat untuk berolahraga itu sedikit banyak juga dipacu oleh kehadiran media sosial. Kenaikan tren berolahraga yang berlangsung sejak beberapa tahun belakangan ini tampaknya bergaris lurus mengikuti perkembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
Bisa dibilang media sosial memiliki andil yang terbesar dalam perkembangan ini. Kemudahan dalam berpromosi dan penyampaian informasi membuat masyarakat lebih mudah untuk dipengaruhi,” imbuh pria yang juga pendiri Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia ini. Ditambah munculnya berbagai komunitas olahraga, membuat seseorang lebih termotivasi untuk berolahraga karena merasa memiliki teman seperjuangan dan tempat berbagi. (f)


