Health & Diet
8 Fakta Lengkap Antibiotik

3 Apr 2016

Resistensi bakteri terhadap penggunaan antibiotik yang tidak tepat, kini menjadi masalah serius Indonesia maupun di seluruh belahan dunia. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2013, terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) di seluruh dunia.

Dokter Harry Parathon, Sp.OG(K) selaku Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba, Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan, saat ini di Indonesia diperkirakan ada 135 ribu orang meninggal per tahun akibat resistensi antimikroba. Data tahun 2015, diperkirakan terdapat 700 ribu kematian di seluruh dunia. “Bila tidak diatasi, maka pada tahun 2050 akan mencapai 10 juta orang meninggal per tahun di seluruh dunia,” ujarnya. Berikut ini beliau mengungkap seperti apa masalahnya antibiotik yang terjadi di tanah air.
 

- Bagaimana pemahaman masyarakat tentang antibiotik?
Banyak masyarakat yang menganggap antibiotik sebagai obat dari segala obat. Mereka yakin antibiotik bisa menyembuhkan segala penyakit lebih cepat. Padahal, antibiotik hanya berguna untuk infeksi bakteri saja. Sedangkan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus seperti batuk, pilek, flu, demam berdarah, campak atau cacar air tidak membutuhkan antibiotik. Sekitar 70-80% kasus infeksi pada anak-anak adalah infeksi virus yang tidak memerlukan antibiotik. Luka-luka kecil dan operasi sederhana pun, seperti sunat pada anak laki-laki, juga tidak memerlukan antibiotik.

- Seperti apa penggunaan antibiotik di Indonesia saat ini?
Lewat penelitian yang dilakukan tim Antimicrobial Resistant in Indonesia (AMRINStudy), menemukan, 70% dokter di Indonesia meresepkan antibiotik secara tidak tepat kepada pasiennya. Salah satu penyebabnya adalah banyak masyarakat yang memaksa dokter untuk diberikan antibiotik, walau penyakitnya tidak membutuhkan antibiotik. Selain itu antibiotik juga mudah dibeli di apotek atau toko obat modern. Padahal, seharusnya antibiotik tidak boleh dijual bebas, dan dalam penggunaannya, harus berdasarkan resep dokter. Pemahaman dokter tentang pemberian antibiotik juga masih perlu ditingkatkan.
 
- Kapan seseorang perlu antiobiotik?
Bila sudah dipastikan secara klinis bahwa gejala penyakit yang diderita adalah infeksi bakteri. Penegakan diagnosis dapat dilakukan oleh dokter lewat pemeriksaan fisik atau uji laboratorium. Di laboratorium dapat dilakukan pemeriksaan lekosit (sel darah putih).

Apabila limfosit abnormal maka kemungkinan seseorang terkena infeksi bakteri dan memerlukan antibiotik. Yang terbaik adalah pemeriksaan laboratorium mikrobiologi untuk mendeteksi bakteri penyebab infeksi dan dan mengetahui jenis antibiotik yang cocok untuk membasmi bakteri, prokalsitonin merupakan marker yang membedakan infeksi virus dan bakteri. Selain itu, dapat juga dilakukan pemeriksaan C-reactive protein, protein yang terdapat dalam darah dan meningkat saat didapatkan infeski bakteri.

Pemeriksaan laboratorium seperti tersebut di atas bisa dilakukan di rumah sakit pemerintah kelas A, B, dan C atau laboratorium swasta. Pasien dapat memperoleh hasil laboratorium secara cepat. Dulu memang memerlukan waktu sekitar 1 minggu untuk memperoleh hasilnya sehingga banyak dokter enggan melakukan uji laboratorium kepada pasien mereka. Namun, saat ini dengan peralatan terbaru, pemeriksaan mikrobiologi hanya memerlukan waktu 2-3 hari saja.
 
- Apakah antibiotik generik dan paten sama?
Perbedaan hanya terletak pada merknya saja. Menurut laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), zat-zat aktif yang terkandung di dalam antibiotik generik dan paten, sama saja. Namun, beberapa penelitian yang dilakukan oleh lembaga independen di luar negeri seperti di Afrika dan India, membuktikan bahwa kadar zat aktif pada antibiotik generik lebih rendah, dibandingkan antibiotik paten. Menurut peraturan pemerintah, rumah sakit wajib mengutamakan pemberian antibiotik generik kepada pasien, sejauh ini penggunaan antibiotik generik golongan sefalosforin generasi I (sefazolin) untuk profilaksis, hasilnya baik dan efektif mencegah infeksi daerah operasi.
 
- Bagaimana tahu antibiotik yang diresepkan tepat?
Dokter harus menentukan bahwa penyakit yang diderita adalah infeksi bakteri. Hal ini dapat diketahui berdasarkan gejala klinis seperti panas badan, tekanan nadi yang cepat, pemeriksaan lekosit, CRP atau procalcitonin. Antibiotik dapat diberikan meskipun belum tahu nama bakterinya, tindakan ini disebut pemberian antibiotik secara empiris (berdasarkan data sebelumnya).

Secara bersamaan, dari pasien akan diambil sample darah, urin, dahak, usapan luka infeksi, cairan tubuh, atau tinja. Disesuaikan dengan dugaan tempat infeksi. Sample tersebut yang dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk dilakukan uji coba pembiakan dan kepekaan antibiotik. Apabila sudah diketahui hasilnya, maka antibiotik diganti sesuai dengan hasil laboratorium mikrobiologi. Tindakan ini disebut pemberian antibiotik definitif.

Perlu diperhatikan, beberapa antibiotik menimbulkan efek alergi pada sebagian orang. Gejala ringan seperti gatal-gatal, mata atau bibir bengkak, dan diare. Sedangkan gejala yang berat adalah sesak napas, bengkak dan gatal seluruh tubuh, syok anafilaksis (hilang kesadaran), dan tekanan darah turun drastis atau berhenti. Bila mengalami gejala demikian, hentikan penggunaan antibiotik.   
 
- Kesalahan apa yang sering terjadi?
Menggunakan antibiotik tanpa mengetahui penyakit sebenarnya. Banyak pasien menggunakan antibiotik dengan mengikuti anjuran orang lain atau berpedomanan pada pengalamannya sendiri. Sebagian orang menyimpan sisa antibiotik untuk digunakan bila nantinya ia atau kerabatnya mengalami sakit dengan gejala yang sama. Bahkan sebagian besar menjadikannya sebagai obat darurat. Tak kalah berbahaya adalah penggunaan antibotik secara berlebihan karena rasa cemas akan penyakit yang diderita.
 
- Apa dampaknya?
Antibiotik memang tidak berdampak secara langsung pada tubuh, tapi resistensi bakterinya yang berbahaya. Antibiotik yang dikonsumsi akan menyebabkan bakteri pada tubuh kita mengalami mutasi dan menjadi resisten.  Bakteri resisten inilah yang membahayakan, karena berpotensi menimbulkan komplikasi dan kematian. 

Berdasarkan penelitian di 6 rumah sakit pendidikan di Indonesia tahun 2013, diidentifikasi 40-50% bakteri mengalami resistensi atau tidak mempan lagi dengan pemberian antibiotik sefalosporin generasi I-IV. Sedangkan 6,5% telah mengalami pan-resisten, tidak ada antibiotik yang bisa membunuh bakteri tersebut. Bakteri yang kebal ini yang menyebabkan komplikasi pada luka operasi, organ tubuh paru, ginjal, usus dan lain lain, sehingga berujung kegagalan fungsi organ atau kematian.

Beberapa kasus infeksi parah (pembusukan) dilaporkan terjadi pada operasi mata akibat terinfeksi bakteri metisilin resisten staphylococcus aureus (MRSA), cangkok organ, operasi tumor dan lain lain terinfeksi bakteri yang memproduksi enzym extended  spectrum betalactamase (ESBL).

Bakteri yang kebal dapat menular kepada orang lain. Bahkan bisa pindah dari satu wilayah ke wilayah lain, lewat perpindahan pembawa sifat bakteri kebal saat melakukan kontak fisik, seperti bersalaman. Bakteri New Delhi Metallo-beta-laktamase-1 (NDM 1) adalah salah satu contohnya. Bakteri ini berasal dari India, menyebar hingga ke Eropa, Amerika, Jepang, dan New Zealand.

Khusus bagi wanita, penggunakan antibiotik secara berlebihan akan menyebabkan keputihan, dengan semakin berkembangnya bacterial vaginosis. Pada anak, akan mengganggu proses kekebalan tubuh. Secara umum bisa dikatakan, resistensi bakteri dapat menghambat pengendalian penyakit menular, mengurangi efektivitas pengobatan, dan berpotensi menularkan penyakit lebih lama.
 
- Apakah antibiotik selalu harus dihabiskan?
Setiap bakteri memiliki karakter tersendiri. Khusus penyakit TBC, antibiotik memang harus dihabiskan, dikonsumsi setidaknya selama 6 bulan atau sesuai dengan anjuran dokter. Karena bakteri TBC memiliki dinding sangat tebal, sehingga memerlukan antibiotik dalam jangka panjang untuk menuntaskan infeksinya. Begitu pula penyakit typus, harus menggunakan antibiotik seti­­­­daknya selama 1 minggu. Sedangkan infeksi ringan yang terjadi di permukaan kulit, bila sudah sembuh tidak perlu menghabiskan antibiotik yang diresepkan. Dapat dihentikan pengunaannya kapan pun bila infeksi terbukti telah benar-benar sembuh. Tentu saja untuk mengetahuinya, diperlukan pemeriksaan oleh dokter.(f)

 
Foto: Fotosearch


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?