
Foto: Dok. Feminagroup
Kerupuk digoreng dengan pasir, lumpur dipakai untuk membungkus ikan, daging babi, bebek, atau sayuran ditanam dalam lubang di tanah. Ada juga memasak ikan atau ketan di dalam buluh bambu. Gaya masak yang terbilang unik bagi sebagian orang ini adalah cara masak tradisional dari beberapa daerah di Indonesia. Dan ternyata, metode ini masih dilakukan hingga sekarang. Bahkan, di antaranya menjadi produk komersial yang membawa identitas wilayah bersangkutan. Patut dibanggakan karena di tengah arus modernisasi yang serba praktis, tradisi kuliner legendaris ini tidak serta-merta menghilang.
PASIR MENGGANTI MINYAK
Bahan-bahan yang tidak lazim, ternyata bisa, kok, bersahabat dengan bahan makanan. Salah satunya pasir, yang bisa dipakai untuk menggoreng. Kalau kebetulan kita melewati ruas jalur Subang-Sadang, Jawa Barat, di sana banyak pedagang yang menjajakan kerupuk warna-warni berbahan tapioka. Kerupuk ini tidak digoreng menggunakan minyak seperti kerupuk pada umumnya, tapi menggunakan pasir. Pasir yang dipakai tentu bukan sembarang pasir, namun pasir pantai yang sudah dicuci dan dijemur hingga kering. Setelah kering, debu dan kotoran yang tercampur disortir dengan bantuan tampah. Pasir yang sudah bersih barulah siap dipakai untuk menggoreng.
Jika ditilik asal usulnya, banyak cerita yang mengklaim soal kerupuk pasir. Salah satu versi mengatakan bahwa kerupuk pasir berasal dari Cirebon. Kabarnya, kerupuk ini mulai dirintis dan dipopulerkan sejak belasan tahun lalu. Mulanya untuk menekan harga jual, dilakukan teknik coba-coba menggoreng kerupuk menggunakan pasir. Siapa sangka, hasil dari eksperimen ini ternyata banyak disuka. Kerupuk yang suka dipelesetkan menjadi ‘kerupuk miskin’ atau ‘kerupuk melarat’, lantaran tidak menggunakan minyak, ini disebut-sebut lebih sehat dengan klaim bebas kolesterol dan tidak mudah apak karena tidak mengandung minyak.
Meski punya keunggulan, tetap saja kontroversi seputar kerupuk pasir ramai dibicarakan. Terutama mengenai jenis pewarna yang dipakai untuk memberi tampilan fisiknya yang ngejreng dan warna-warni. Selain itu, soal kandungan logam berat dari pasir yang dikhawatirkan akan menempel pada kerupuk, juga ikut diperdebatkan. Namun, hal tersebut tidak membuat pamor kerupuk ini turun. Kerupuk pasir tetap saja punya tempat di lidah penggemarnya. Selain jadi salah satu oleh-oleh khas Cirebon, kerupuk pasir juga jadi andalan Kota Subang. Salah satu kecamatan di Subang yang bernama Purwadadi merupakan sentra produksi kerupuk pasir.
Lain lagi cerita di Desa Bulusari yang terletak di Kabupaten Kediri. Usaha ‘kerupuk padang pasir’ atau ‘kerupuk tayamum’, demikian orang Kediri menyebutnya, sudah ada sejak 40 tahun lalu. Ide menggoreng kerupuk dengan pasir diklaim tercetus pertama kali oleh masyarakat Kediri, baru kemudian populer di daerah-daerah lain. Usaha yang sempat mengalami masa-masa surut pada tahun ‘80-an ini, kembali bergairah seiring dengan pasar yang mulai kembali meliriknya. Dari awalnya hanya dijual di warung-warung kecil, kini sudah merambah ke supermarket besar. Cita rasa kerupuk pun makin beragam, dari rasa asin, manis, pedas, hingga rasa bawang. Bahkan, ada pula produsen yang menambahkan sambal petis untuk cocolannya. (f)




