Food Story
Ayo Makan Soto!

9 Oct 2018


Foto: dok.feminagroup

Ketika Kemenpar giat mempromosikan lima kuliner nasional, yaitu rendang, satai, soto, nasi goreng, dan gado-gado,  di sisi berbeda, culinary diplomacy juga dilakukan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang mengajukan sajian soto sebagai jagoan. Jika Kemenpar menggunakan kuliner untuk memancing devisa melalui wisatawan, Bekraf memilik tujuan yang sama, tapi dengan jalan yang sedikit berbeda. Mereka mencoba memberi nilai tambah pada soto untuk menciptakan sebuah produk unggul di negeri sendiri, lantas mendatangkan devisa dari luar negeri.
 
Sampai saat ini, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, pakar kuliner dari Universitas Gajah Mada, setidaknya ada 75 jenis soto di Nusantara. “Soto tersebar dari timur hingga barat Indonesia. Karena itu, sangat wajar jika soto mewakili Indonesia,” kata Josua Simanjuntak, Deputi Pemasaran Bekraf menjelaskan.
 
Walau dikatakan berasal dari masakan Cina yang disebut cau do, proses panjang pembaurannya dengan budaya dan kearifan lokal menjadikan soto sebagai sajian baru yang berbeda dengan cau do.
 
Bersama lembaga pemerintah terkait, Bekraf mendorong pebisnis kuliner untuk membuka restoran di luar negeri. “Terutama brand lokal dan diaspora yang ingin mengembangkan bisnis, bukan sekadar menjual,” terang Josua.
 
Perkembangan bisnis kuliner Nusantara di luar negeri perlu agar makanan Indonesia dikenal. Jika restorannya hanya satu, mimpi itu tak akan jadi nyata. Namun, untuk mewujudkannya memerlukan pemikiran dan perhitungan matang.
 
“Nah, hal ini yang biasanya membuat para pebisnis kuliner lokal kurang percaya diri,” tambahnya.
 
Mari kita tengok sejenak ke Jepang dengan ramen-nya, yang juga berakar dari budaya Cina. Kini, tiap orang dan tiap daerah memiliki ramen versinya sendiri. Selain soal rasa, keragamannya justru membuat orang terpikat dan datang memburunya. Hasilnya, pebisnis ramen berani berjualan di berbagai belahan dunia.
 
Bukan mustahil menjadikan soto layaknya ramen, dikenal, dinamis berkembang dengan gaya dan varian baru. Namun, untuk menduniakan soto diperlukan keseriusan dan kegigihan banyak pihak. Selain itu, hal terpenting adalah dukungan masyarakat Indonesia untuk menjadikan soto tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi tamu spesial di luar negeri. Yuk, makan soto! (f)

Baca Juga:

5 Bahan Makanan Yang Tidak Pernah Absen Dibawa Orang Indonesia Saat Plesiran Ke Luar Negeri
10 Nasi Goreng Yang Bikin Penasaran
Apa Bedanya Mangga Harum Manis, Golek, Indramayu, dan Manalagi?


Isyana Atiningmas


Topic

#soto, #foodstory

 

polling
Pertimbangan Dalam Memilih Kartu Kredit

Belakangan ini bank makin kreatif dan gencar dalam meluncurkan kartu kredit. Mereka pun bersaing memberikan berbagai fasilitas untuk menggaet pengguna baru.